Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Ajari Aku Mencintai Luka Tanpa Harus Berduka
Sastra

Ajari Aku Mencintai Luka Tanpa Harus Berduka

By Redaksi13 April 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Istimewa)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*) Puisi-puisi Tonce Lebuan

Kepala Puisi

/1/

Rambut

Mengapa engkau lupa bahwa sehelai rambutmu

Ditanam Tuhan dengan jemarinya menggenggam tumpukkan cinta?

Percayalah orang akan mengatakan cintanya sampai ke titik ini.

Dimanakah Tuhan mula-mula menanam rambutmu?

/2/

Kepala

Tuhan yang canggih bersemayam di dalamnya

Jagalah ia dengan doa ketika engkau terlelap dan terjaga

Agar Hantu tak menyelinap masuk lantas membawamu ke api

Yang kau sebut sebagai neraka!

Apa itu neraka menurut Tuhan?

Hantu tahu dimana surga terletak? Di kepalamu!

/3/

Mata

Dosa tak bermuara dari pandanganmu

Bila semua yang kau tatap adalah berkat dan rahmat!

/4/

Telinga

Barangsiapa bertelinga hendaklah ia mendengar jeritan Hawa, desahan Adam,

Amarah Kain, debur Bah di bahtera Nuh, derak api di jantung Sodom dan Gomora,

Derita Bunda dari Getzemani ke Golgota dan…

Quo vadis? “Sebelum mulutmu menyebut-nyebut nama-Ku, Aku telah mendengar kecipak

dosa membentur sucimu, berbicaralah!”

/5/

Mulut

“Atas nama rambut, kepala,mata dan telinga kuserahkan puisiku!
Hidungku tak kubawa serta, ia masih belajar menghirup aroma anggur pada meja buatan ayahMU, Yosef.”

            Gere, April 2018

Getzemani

Aku bangga peluhMU menetes di rumahku.

Kenanglah aku sebagai tempat yang bernama CIUMAN!

            Lewohala, 2018

Perihal Usia

Usia kita, dari Kejadian hingga Wahyu.
Selebihnya ialah maut!

Gere, November 2018

Selviana, 3

Ajari aku mencintai luka
Tanpa harus berduka

Gere, Oktober 2018

Jalan Salib

Pilatus memanah gemintang

Barabas gembira-riang

Kayafas membelah bulan

Maklum, ia sedang kesurupan

Herodes menyadap darahMU. MataMU  basah
Senja tadi Golgota meriah

Ada pesta darah

Gurih dan renyah

 Ledalero, 15 Feb ‘18

Ruang Minggu

Kita tersesat di ruang yang sama:

Tuhan,

Doa,

Dosa.

Kita menangis bersama-sama.

Tuhan kita ditusuk-tusuk:

Aku

Dan kau

Puki-paku!

Bertalu-talu.

            Gere, April 2019

Selviana, 1

Sudah sepatutnya kau kekalkan bahagia

Bukankah begitu?

 

Bersama subuh yang garang

Kita menerjang dosa

Sampai nafasmu jatuh berguguran

Kupungut ia(mu) hingga kesucian tergelak,

Tersibaklah gelap.

“Aku bersamamu”

 

kita abadikan serapah

Hingga seorang malaikat jatuh ke tanah.

                      Ledalero, Maret 2018

Kepadamu

Kutanyakan rindu

Kapan kau membunuh(nya)?

Esok? Atau menunggu

Surga dibakar Hawa?

Kau tahu?

Sekarang ia menjelma naga

Ledalero, 10 Feb ‘18

Karena Takut Pada Salib dan Tubuh Kekasihnya yang Koyak

Maria bertanya kepada ibunya:

“Ibu, masih mungkinkah aku meminjam uangmu membeli minyak narwastu satu pinggan?
aku mau menyeka liang tubuhNya dengan bibirku ketika Natal tiba.”

“ssssttttt! Jaga mulutmu! Natal masih lama. Uangku tuntas dicuri para koruptor!”

“Apa itu koruptor bu?”

“Koruptor??!! Pergilah.  Juallah dirimu kepada siapa saja
atas nama sepinggan narwastu sebelum puasa. Dan janganlah melacur lagi sesudah paskah.”

Maria terisak lalu meninggalkan ibunya!

“Rabuni, sebelum TubuhMU  koyak aku  telah mencintaiMU.
kasihanilah aku dan ibuku.”

            Ledalero, Maret 2018

*Tonce Lebuan, pemuda Lamaholot. Profesi: ‘Tukang Gosip.’ Ia bercita-cita menjadi perempuan ketika ia gagal menjadi pastor.

Previous ArticleBawaslu Nagekeo Kampanyekan Tolak Politik Uang
Next Article Pura-pura Bertanya

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.