Kupang, Vox NTT- Ratusan Warga Kota Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT)  ikut menyaksikan teater Evergrande “Tungku Haram 3” yang dipentaskan oleh siswa Sekolah Menengah Atas / Sekolah Menengah Kejuruan (SMA/SMK) Syuradikara Ende.

Pertunjukkan Teater dengan judul “Tungku Haram 3” itu berlangsung di halaman depan Kantor DPRD Provinsi NTT, Jumat (27/07/2018) malam sekitar pukul 19: 00 Wita

Teater yang dipentaskan dalam durasi waktu satu jam lebih ini kembali mengangkat tema “Dari Syuradikara Untuk NTT Stop Bajual orang”.

Pertunjukkan Teater “Tungku Haram 3” ini merupakan edisi lanjutan dari  teater “Tungku Haram 1” yang pernah dipentaskan di Ende pada 10 November 2017 lalu, dan  teater “Tungku Haram 2” yang pernah dipentaskan di Labuan Bajo pada 14 April 2018.

Pantauan VoxNtt.com, sekitar ratusan warga Kota Kupang memadati halaman kantor DPRD Provinsi NTT untuk menyaksikan pergelaran teater Evergrande itu.

BACA: Antara Seni dan Misi Kemanusiaan, Siswa SMAK Syuradikara Ende Pentas Teater “Tungku Haram” di Labuan Bajo

Ketua panitia pergelaran teater musikal, Robertus Ongo mengatakan, human trafficking merupakan masalah besar di provinsi NTT, sesuai hasil investigasi tempo 20 sampai 26 Maret 2017 ada 1, 2 juta tenaga kerja illegal NTT di Malaysia dengan 69 persen diantaranya adalah perempuan yang sangat rentan terhadap kasus perdagangan orang.

“Ini merupakan masalah serius kita bersama sehingga salah satu konggregasi katolik yakni SVD dalam kapitel  provinsi SVD Ende tahun 2015 telah membahas masalah ini melalui komisi sosial dan telah melakukan tindakan konkrit terkait penanganan korban dan upaya pencegahan,”kata Robertus dalam laporannya.

Momen ketika korban human traficking diseret ke dalam “Tungku Haram”, di alaman Kantor DPRD Provinsi NTT. Jumaat 27 Juli 2018 (Foto : Rudi)

“Untuk menganimasi semakin banyak orang, agar memiliki kepedulian terhadap masalah perdagangan orang selain melalui media cetak lokal juga memanfaatkan teater sebagai media penyadaran dan sosialisasi,” tambah Robertus

Pastor Johan Wadu, SVD, Sutradara Teater “Evergrande” ini mengemukakan bahwa di balik teater “Tungku Haram” tersirat makna perlawanan terhadap perdagangan manusia. Hal itu dianalogikan dengan kehidupan keluarga dan realita yang terjadi di tengah masyarakat.

Sebuah pesan ‘Stop Perdagangan Orang NTT’ dipamerkan dalam adegan teater (Foto: Yolens)

Ia menegaskan bahwa misi kemanusiaan yang dibawanya melalui pertunjukkan teater tersebut berangkat dari panggilan kemanusiaan dan tanggung jawab sebagai pribadi dan juga sebagai imam SVD yang memandang martabat setiap manusia adalah hakikat yang harus diperjuangkan dan dibebaskan dari belenggu ketidakberdayaan termasuk perdagangan manusia.

Sementara itu, Kepala Sekolah Syuradikara, Pater Stef Sabon Aran, SVD mengatakan hasil karya Pater Jon Wadu SVD ini merupakan sebuah bentuk penyadaran yang dilakukan oleh para siswa/i SMA/SMK Syuradikara Ende tentang bahaya perdagangan manusia (Human trafcking) yang akhir-akhir ini marak terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Semoga dengan teater “Tungku Haram” ini, kita sepakat malam hari ini untuk menghentikan, stop sudah perdagangan manusia,”ajak Pater Stef Sabon Aran

Sebelum menyaksikan pentasan teater itu kata dia, atas nama yayasan sekolah St. paulus Ende an kedua lembaga SMA/SMK Syuradikara dirinya menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang sudah terlibat dalam kegiatan pentas teater ini.

“Saya atas nama kedua lembaga SMA/SMK Syuradikara Ende mengundang Bapak/Ibu dan saudara sekalian untuk menyaksikan acara pentas teater yang sebentar lagi kita akan laksanakan,”ucap Pater Stef.

Penulis  : Tarsi Salmon

Editor    :  Irvan K

 

alterntif text