alterntif text

Oleh: Andre Jasmin

Mahasiswa Perikanan, Univeristas Artha Wacana, Kupang

Ikan cere merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang berbentuk kecil. Ikan cere ini hampir mirip dengan ikan ipung. Ikan cere, dalam bahasa ilmiahnya Gambusia affinis. Saat ikan ini dewasa, maka panjang tubuhnya hanya berukuran 4 cm saja.

Di wilayah Manggarai ikan cere ini banyak kita temukan di selokan, sungai dan persawahan, khususnya di wilayah Colol, kabupaten Matim. Dalam bahasa Manggarainya Ikan Mendo. Ikan cere ini sebenarnya bukan berasal dari wilayah Colol. Ikan ini didatangkan dari daerah lain oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai. Ikan cere mempunyai ketahanan badan demikian kuat pada lingkungan tercemar atau polusi air limbah sekali pun. Seperti kita ketahui, jentik-jentik nyamuk bila dibiarkan pasti bakal sangatlah beresiko lantaran dapat mengakibatkan DBD (demam berdarah) terutama pada nyamuk Aedes aegypti. Di luar itu kehadiran nyamuk benar-benar sangat mengganggu ditambah lagi bila telah menggigit kita.

Dengan pembudidayaan cere ini kita dapat memusnahkan jentik-jentik nyamuk dikarenakan cere yang bakal mengonsumsi larva dari jenti nyamuk. Ikan cere termasuk juga sangatlah handal melahap larva jentik nyamuk. Hal ini dilakukan oleh Dinas Kesehatan untuk mengantisipasi terjadi penyakit malaria. Karena pada saat itu penyakit malaria cukup banyak menyerang masyarakat. Salah satunya binatang yang dapat membantu hambatnya perkembangan nyamuk adalah ikan cere atau ikan ipung yang lazim disebut oleh masyarakat setempat. Ada juga masyarakat lain menyebut ikan cere sebagai ikan seribu,karena ikan ini sering bergelombolan.

Pada awalnya ikan cere ini dibiarkan begitu saja dilepaskan di selokan-selokan dan sungai. Pemikiran masyarakat tidak sampai pada dampak negative dari ikan cere ini. Ikan cere ini terbukti mampu mengurangi perkembangbiakan nyamuk dan mengurangnya penderita penyakit malaria. Secara perlahan-lahan ikan seribu ini mulai masuk ke area sawah dan kolam pemeliharaan ikan masyarakat. Daerah Colol punya potensi air yang cukup banyak dan bahkan musim kemarau selama kurang lebih enam bulan masyarakat Colol tidak pernah merasakan kekurangan air.

Atas dasar itu wilayah Colol itu di sebut sebagai Desa Ulu Wae (Desa pusat air) karena daerah ini menjadi pusat mata air bagi masyarakat yang tersebar di tiga desa dan mengairi persawahan masyarakat sampai di pantai Utara wilayah Manggarai. Potensi inilah dimanfaatkan oleh petani untuk membudidaya ikan sebagai pekerjaan sampingan. Dulunya daerah Colol tidak hanya terkenal dengan penghasil kopi, tetapi daerah ini juga sebagai penghasil ikan. Walau pun ikannya tidak sampai di jual ke pasar, tetapi cukup untuk konsumsi rumah tangga.

Beberapa tahun kemudian masyarakat mulai resah terhadap penurunan hasil ikan. Masyarakat bertanya-tanya dengan kejadian ini? beberapa masyarakat yang intensif memelihara ikan akhirnya menemukan penyebab penurunan hasil ikan. Ternyata penyebabnya datang dari ikan cere. Selain ikan cere memakan jentik nyamuk, ikan ini juga memakan telur-telur ikan besar. Akibatnya ikan besar tidak mampu berkembangbiak secara baik.

Kehadiran ikan cere selain membawa dampak positif menghambat perkembangbiakan nyamuk, ternyata menghadirkan persoalaan baru terhadap perkembangbiakan ikan yang berimbas pada pendapatan dari masyarakat semakin berkurang.

Perkembangbiakan ikan cere ini begitu cepat dan tidak bisa diatasi lagi. Tubuhnya yang kecil mampu menghasilkan ratusan anakan ikan baru. Anehnya ikan cere ini bertelur dan menetasnya di dalam tubuh induknya. Saat masih kecil ikan cere ini berenang tidak jauh dari si induk. Di saat musuh datang ikan-ikan kecil masuk kembali kedalam tubuh si induk. Sampai sekarang ikan cere ini berkembang pesat di daerah Colol dan bahkan hampir menyeluruh wilayah Manggarai. Di beberapa tempat ikan cere ini dikonsumsi oleh warga.

Keberadaan ikan cere menjadi persoalan dan penghalang bagi masyarakat untuk membudidayakan ikan seperti ikan mas, ikan mujair dan ikan lele. Perkembangbiakan ikan-ikan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja dilepaskan di kolam atau sawah masyarakat, lalu berharap dalam tempo beberapa bulan dan tahun kemudian kita mendapatkan hasil ikan yang banyak dan memuaskan. Harapan itu adalah cerita masa lalu. Kini pemelihara ikan tidak banyak lagi kita temukan di wilayah Colol. Sejauh pengamatan penulis system pemeliharan ikan di daerah ini termasuk dalam kategori semi intensif.

Lantas apa yang mau kita buat dengan hadirnya ikan cere. Berpasrah dengan keadaan? Tentu tidak. Ini adalah masalah dan mari kita jadikan momentum ini sebagai peluang baru bagi kita untuk lebih intensif memelihara ikan. Setiap masalah pasti ada jalan keluar yang bisa kita buat. Masalah adalah batu loncatan kita untuk lebih maju dan serius membudidaya ikan.

Berhadapan dengan masalah ini penulis menawarkan buah pikiran dari hasil pengamatan dan studi. Pertama-tama kalau kita mengamati inti persoalan, ikan cere ini hanya memakan telur dari ikan-ikan besar dan dia bukanlah pemakan ikan-ikan kecil lainnya. Dari sini kita bisa mengantisipasinya. Pada saat musim kawin atau pemijaan ikan jantan dan betina, ditempatkan pada kolam tersendiri dan terjamin jauh dari jangkauan ikan cere.

Setelah ikan betina bertelur, maka langkah selanjutnya ikan jantan dan betinanya dikembalikan ke kolam pemeliharan sambil menunggu waktunya untuk menetas telur ikan. Ikan-ikan kecil yang baru menetas dibiarkan selama kurang lebih dua atau tiga minggu dipelihara di kolam khusus dan tetap terjaga dari jangkauan ikan cere.

Kedua, kolam pemeliharaan dikosongkan dan dijemur untuk beberapa waktu sampai kolam benar-benar kering dan langkah selanjutnya air yang masuk dari selokan atau sungai perlu disaring, sehingga tidak ada kesempatan bagi ikan cere untuk masuk ke kolam pemeliharaan. Ketiga, pemeliharaan ikan tidak boleh dicampuraduakan dengan jenis ikan yang lain. Karena setiap jenis ikan mempunyai ciri khas tersendiri untuk mempertahankan eksistensi dan berkembangbiak. Jadi ikan cere bukan lagi sebuah masalah atau hambatan dalam membudidaya ikan-ikan besar, tetapi bisa diantisipasi dengan menggunakan ketiga metode di atas, sembari membiarkan ikan cere berkembang sesuai dengan manfaatnya.