Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Kekurangan Pasokan Listrik, Industri Batu Granit di Ende Mubazir
Regional NTT

Kekurangan Pasokan Listrik, Industri Batu Granit di Ende Mubazir

By Redaksi16 Mei 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ende, Vox NTT-Pengolahan batu granit di Desa Manulondo, Kecamatan Ndona, Kabupaten Ende tidak berfungsi atau mubazir. Hal ini disebabkan kekurangan pasokan listrik untuk industri batu tersebut.

Pantau wartawan di lokasi pada Selasa (16/5/2017) pagi, empat buah mesin potong sudah mulai karat. Hal serupa juga terjadi pada sebuah generator yang digunakan untuk listrik.

Informasi yang diterima dari Matheus Ea Meu, salah seorang pewagai Disperindag Ende bahwa bangunan tersebut merupakan bantuan Kementrian Perindustrian pada tahun 2009 kepada kelompok masyarakat.

Namun, Pemerintah Kabupaten Ende kemudian membentuk kelompok yang terdiri dari 10 orang Pegawai Negeri Sipil (PNS).

“Ini bantuan kementrian tahun 2009. Untuk masyarakat tapi sebelumnya para pegawai yang tangani,”ungkap dia saat berkunjung ke lokasi.

Matheus mengklaim industri batu granit pernah uji coba dan hasil dipajang di Kantor Bupati. Namun, tak urung berjalan hingga saat ini sebab kekurangan pasokan listrik.

“Ril bantuan saya tidak tahu tapi berkisar miliaran rupiah. Kalau tanah ini milik pemerintah,”ucap Matheus.

Ia manambahkan kelompok pengolahan batu tersebut tidak dilanjutkan karena biaya bahan bakar tinggi. Selain itu juga kekurangan daya.

Matheus merekomendasi agar pengolahan tersebut ditangani oleh pengusaha sukses sehingga sejumlah alat tidak mubazir.

Berbeda dengan pemikiran Asisten 1 Setda Ende Sipri Reda Lio terkait pemberdayaan terhadap masyarakat.

Sipri menyarankan agar pihak Dinas Perindag untuk memberikan pelatihan terhadap kelompok masyarakat.

“Lanjutkan dengan program pembinaan. Masyarakat dilatih dan dibina untuk mengolah industri ini,”ujar dia saat berkunjung ke lokasi.

“Saya lebih cenderung kepada masyarakat desa disini,”katanya lagi.***(Ian Bala/VoN).

Ende
Previous ArticleWarga Wangka Minta Pasang Jaringan Listrik
Next Article AMANG Laporkan Lebu Raya, Gusti Dula, Dirut PT SIM dan Novanto ke KPK

Related Posts

SMAN 3 Cibal Semarakkan Hari Pramuka ke-65 dengan Perkemahan dan Beragam Lomba

14 Agustus 2026

Jalan Tani di Compang Dalo Diblokade Brimob, Lahan Diklaim Aset Polri

14 Agustus 2026

DPRD Manggarai Tinjau TPA Ncolang, Minta Pemkab Siapkan Dana Taktis untuk Tangani Keluhan Sampah

13 Agustus 2026
Terkini

Ibu Hamil Meninggal Usai Jalani Operasi Caesar di RSUD Borong, Keluarga Soroti Penanganan Medis

1 September 2026

JPIC OFM Indonesia Bawa Misi “Tembus Pelosok” Salurkan Bantuan Pascagempa Flores

1 September 2026

SBD Peduli Flores: Merawat Persaudaraan di Tengah Duka

1 September 2026

Membangun Ekosistem Sepak Bola Indonesia: Dari Pembinaan Usia Dini menuju Prestasi Dunia

1 September 2026

Paulina Jau Meninggal Usai Gempa Susulan M 6,0 di Manggarai Timur

1 September 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.