Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Kapolres Manggarai Bangun Titian di Perbatasan Matim dan Ngada
NTT NEWS

Kapolres Manggarai Bangun Titian di Perbatasan Matim dan Ngada

By Redaksi26 Juni 20173 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kapolres Manggarai AKBP Marselis Sarimin Karong memimpin langsung pembangunan titian dari bambu pada jembatan Wae Bakit, Desa Wae Rasan, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Sabtu (24/6/2017)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT-  Kapolres Manggarai AKBP Marselis Sarimin Karong memimpin langsung pembangunan titian dari bambu pada jembatan Wae Bakit, Desa Wae Rasan, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Sabtu (24/6/2017).

Jembatan kecil tersebut merupakan penghubung antara Kabupaten Matim dan Ngada.

Kapolres Marselis membangun titian itu dibantu oleh Kapolsek Elar Petrus Amir, Babinsa Elar Selatan Edy de Jesus, Camat Elar Selatan Adolfus J Tahu, dan Kades Wae Rasan Thomas Loma, dan masyarakat Desa Wae Rasan dan sekitarnya.

Informasi yang dihimpun, sejak tahun 2010 lalu jembatan Wae Bakit diduga dirusak oleh warga Ngada yang mengklaim batas Kabupaten Matim dan Ngada.

Setelah membangun tugu perbatasan, mereka juga merusaki oprit pada sisi timur jembatan Wae Bakit sehingga tidak bisa lagi dilalui kendaraan.

Adapun sepeda motor yang masih melintas antara wilayah Matim dan Ngada terpaksa harus melewati kali dengan menggunakan jasa pikul sepeda motor. Bayarannya cukup mahal yakni antara Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu.

Melihat kondisi jembatan tersebut, Kapolres Marselis langsung memimpin kegiatan pembersihan hingga membangun titian agar bisa dilalui sepeda motor.

Saat membersihkan  jembatan tersebut, beberapa warga Ngada mengintip lalu  mendekat.

Kapolres menegaskan bahwa aksinya  itu demi memudahkan akses warga antar wilayah Matim dan Ngada. Hal itu ia ungkapkan kepada warga Matim yang ikut membangun titian tersebut dan beberapa warga Ngada yang mendekati lokasi,

“Saya tidak bicara soal perbatasan, tetapi saya peduli dengan akses masyarakat dua wilayah ini. Kalian dari Manggarai Timur ke Ngada sangat membutuhkan jalan ini. Kalian dari Ngada juga perlu jalan ini untuk ke Manggarai Timur,” kata Kapolres Marselis.

“Hari ini saya buka lagi jalan yang sudah kalian tutup sejak 2010 lalu. Saya bangun jembatan darurat supaya sepeda motor bisa lewat di sini. Saya ingatkan, jangan bongkar lagi. Kasih tau ya, siapa pun yang bongkar, saya tangkap. Terutama provokatornya,” tegasnya.

Kapolres Marselis berjanji akan menyampaikan ke Gubernur NTT Frans Lebu Raya dan menelepon Bupati Ngada Marianus Sae terkait pembangunan titian tersebut. Intinya jembatan kecil penghubung daerah perbatasan sudah dibangun oleh polisi dan berharap agar bersama-sama menjaganya.

Semenetara itu, Kepala Desa (Kades) Wae Rasan Thomas Loma mengaku, sudah putus asa menghadapi masalah perbatasan di wilayah itu.

“Kami kecewa dengan gubernur (NTT) yang tidak peduli dengan kesulitan kami di Elar Selatan. Jembatan dan jalan yang diblokir oleh warga Ngada merupakan masalah pokok bagi kami,” ujar Thomas.

Menurut dia, konidisi itulah yang membuat Desa Wae Rasan masih terisolasi. Sebab, satu-satunya akses yang masih bisa dilalui adalah jalan provinsi NTT dari Wukir ke Bajawa.  Sedangkan jalan provinsi dari Wukir ke Mukun rusak parah.

Demikian juga jalan alternatif yang merupakan jalan kabupaten dari Wukir ke  Lengko Elar dan dari Cabang Lima ke Ritapada, Kota Komba. Semuanya rusak parah.

“Kami sungguh terisolasi karena pemerintah tidak hadir dalam masalah yang dihadapi masyarakat Elar Selatan,” kata Thomas. (Adrianus Aba/VoN)

Manggarai Manggarai Timur
Previous ArticleGunakan HP Untuk Sarana Komunikasi Hal Positif
Next Article Korban Rumah Terbakar Butuh Bantuan Pemkab Matim

Related Posts

Soroti Kasus Dokter Icha, Tenaga Ahli Menteri HAM Desak Pemeriksaan Anggota DPRD TTU

27 Juni 2026

Banggar DPRD NTT Dorong Digitalisasi PAD dan Perkuat Pengawasan Fiskal

27 Juni 2026

Tiga Tahun Tak Kunjung Diperbaiki, Jembatan Pomakeke Masih Jadi Langganan Pencitraan Politik

26 Juni 2026
Terkini

Pemuda Katolik NTT Dukung Investigasi Kematian Dokter Icha, Desak BK DPRD TTU Gelar Sidang Etik

28 Juni 2026

Upah Kebajikan: Melestarikan Kehidupan dan Mati Bagi Dosa

28 Juni 2026

Fransisco Bessi Kembali Terpilih Aklamasi Pimpin Taekwondo NTT

27 Juni 2026

Soroti Kasus Dokter Icha, Tenaga Ahli Menteri HAM Desak Pemeriksaan Anggota DPRD TTU

27 Juni 2026

Banggar DPRD NTT Dorong Digitalisasi PAD dan Perkuat Pengawasan Fiskal

27 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.