Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Bansos Kedelai Rp 1 Miliar Lebih di Mabar Tidak Tumbuh
NTT NEWS

Bansos Kedelai Rp 1 Miliar Lebih di Mabar Tidak Tumbuh

By Redaksi14 Juli 20173 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kantor Dinas Pertanian Mabar
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Labuan Bajo, Vox NTT–Bantuan Sosial (Bansos) berupa bibit kedelai untuk puluhan kelompok tani (Poktan) di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) gagal total.

Bansos senilai Rp 1 Miliar lebih itu tidak tumbuh di sejumlah kecamatan. Itu seperti Kecamatan Macang  Pacar dan Boleng. Padahal para petani sudah menanam bulan Juni 2017 lalu.

Ketua Poktan Moeng Mose Desa Golo Lajang, Kecamatan Macang Pacar, Stefanus Senajun kepada VoxNtt,com, Jumat (14/7/2017) mengatakan bibit kedelai didatangkan dari Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kelompoknya mendapatkan jatah bibit kedelai sebanyak 500 Kg dengan luas area  10 hektar (Ha). Namun, seluruh tanaman kedelai itu tidak tumbuh.

“Kami tidak tahu pak, kenapa kedelainya tidak tumbuh,’’ tutur Senajun.

Dia mengaku dirinya bersama 25 anggota Poktan Moeng Nai menanam kedelai itu bulan Juni 2017 lalu. Semua tanaman kedelai itu tidak tumbuh.

“Tidak ada penyuluh pertanian yang datang damping pak,’’katanya.

Dia mengisahkan proposal bantuan kedelai itu dibuat oleh UPTD Pertanian Kecamatan Macang Pacar.

Pihaknya, hanya menandatangani proposal itu kemudian dikirim ke Jakarta. Usulan tanaman kedelai di wilayahnya bukan merupakan usulan Poktan Weong Nai.

“Maaf e pak, sebetulnya UPTD yang usulkan itu hari. Setelah layak diusulkan di pusat baru kami mendapat Bansos berupa uang Rp 15 Juta di rekening kelompok,’’ ungkap Senajun.

Dia mengungkapkan paska pihaknya ke Labuan Bajo untuk cair uang Bansos itu, pihak Dinas Pertanian Kabupaten Mabar langsung mengarahkan untuk membeli kedelai ke pihak kontraktor.

Selain Poktan Moeng Mose, Senajun juga mengaku ada sejumlah Poktan di Kecamatan Macang Pacar yang tanaman kedelainya tidak tumbuh. Seperti di Desa Kombo dan Desa Kombo Selatan.

“Di Desa Kombo dan Kombo Selatan juga tidak tumbuh pak. Kami belum ada uang ke Labuan Bajo, mau laporkan tidak tumbuhnya kedelai itu,’’ kata Senajun.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mabar, Angelus Apul yang dikonfirmasi media ini mengaku tidak mengetahui persis jumlah anggaran Bansos untuk kacang kedelai itu. Dia mengaku untuk Bansos kedelai berkisar Rp 1 Miliar lebih.

Menurut Angelus tanaman kedelai tidak tumbuh lantaran curah hujan usai menanam sangat tinggi. Sebab tanaman kedelai kata dia tidak tumbuh jika banyak air yang tergenang.

Angga Apul menambahkan Bansos itu berdasarkan usulan Poktan. Uang dari APBN kemudian ditansfer langsung ke rekening Poktan.

Menurutnya, jatah Bansos kedelai untuk Mabar berkisar 2.000 Ha. Saat ini baru 700 Ha yang sudah ditanam oleh Poktan di Mabar. Bantuan itu tersebar di empat kecamatan seperti Kecamatan Macang Pacar, Boleng, Ndoso dan Sano Nggoang.

“Sisanya baru akan di tanam bulan Oktober 2017 mendatang. Kedelai itu dibeli oleh Poktan dari Bima’’ kata Apul.

Menurut informasi dari salah satu narasumber yang namanya tidak mau disebutkan untuk Bansos kedelai senilai Rp 1 Miliar lebih itu, proposal permintaan bibit tidak dibuat oleh Poktan. Namun dibuat oleh pihak Dinas Pertanian.

Padahal sesuai petunjuk Bansos itu, seharusnya Poktan yang mengusulkan  melalui proposal jenis tanaman yang dubutuhkan.

Selain itu, Poktan sendiri yang menentukan penyuplai kedelai, bukan ditunjuk oleh Dinas Pertanian Mabar.

Dari seumber itu mengaku, praktik Bansos di Dinas Pertanian Mabar sendiri yang menyiapkan suplayer kedelai. Untuk Bansos kedelai itu, mereka datangkan penyupalai dari NTB.

“Kami minta  media untuk bongkar persoalan Bansos di Dinas Pertanian itu,” tutur nara sumber itu. (Gerasimos Satria/VoN)

Manggarai Barat
Previous ArticleSiswa SMAN 1 Aesesa Tewas Tersengat Listrik
Next Article Tim SAR Terus Mencari Wisatawan Singapura yang Hilang di Labuan Bajo

Related Posts

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026
Terkini

Desa Lotas Rawan Longsor dan Belum Memiliki Batas Wilayah yang Jelas

8 Maret 2026

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.