Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Antologi Puisi Gody Kobra-Catatan Redaksi Oleh Hengky Ola Sura
Sastra

Antologi Puisi Gody Kobra-Catatan Redaksi Oleh Hengky Ola Sura

By Redaksi29 Juli 20173 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Andreas160578)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Lagu Gadis Halmahera

Pernah rimbun di hutanmu

Kini kulihat di rambutmu

Sebagai hidup yang lepas terurai

 

Kakimu memperlihatkan kepadaku bagaimana pergi melintas

Kenangan ditulis

 

Saat kutatap matamu

Di sana burung-burung terbang

Dengan bahasa tenang

 

Pala, cengkeh

Menjalin cinta di elok tubuhmu

Kulihat mereka bermesra

Di pinggang dan pinggulmu

 

Rumput-rumput menata

Di alis matamu

Di sana kusaksikan warna lestari

(Tobelo-Halmahera 2017)

 

Burung-Burung Terbang

Burung-burung terbang

Melintas langit

Sayap seperti menulis dengan pensil seadanya tak payah diguyur jarak

 

Di dahan ranting kering

Hinggap sejenak

Sebagaimana titik bagi akhir kalimat

 

Semakin lama pergi

Serasa kembali

Ke titik detik awal keberangkatan

(Halmahera/Tobelo 2017)

 

Gadis Halmahera

Gadis halmahera

Berambut hitam

Berbaju hitam

 

Kita sama duduk sebagai penumpang di kapal yang beranjak pergi

Di matamu pulau-pulau mengapung

Gunung gamalama dan tidore semua ada di dadamu

Aku berlayar di lat darahmu

Aku bukan penjajah yang datang menjarah pala dan cengkeh

Aku hanya petualang mesin kenangan

 

Gadis Halmahera

Mendekatlah

Aku lancar mengucapkan doa di keningmu

Memandang pala di pipimu

 

(Halmahera 2017)

Gody Kobra, alumnus STFK Ledalero. Saat ini jadi pegiat literasi di pedalaman Papua.

 

Yang Meruap dari Perjalanan Penyair

Catatan atas puisi-puisi Gody Kobra

Oleh:Hengky Ola Sura-Redaksi Seni Budaya Voxntt.com

 

Saya menyebut Gody Kobra sebagai penyair yang pejalan, pengelana yang melawat sekaligus penemu yang mencipta. Demikianlah hidup Gody.

Rimba belantara Papua pedalaman telah membawa Gody yang ceking itu lincah mengembara. Dan buah dari perjalanan-perjalanannya adalah puisi.

Tiga puisi dari Gody pekan ini adalah luahan atas peristiwa pertemuan dirinya dengan gadis Halmahera.

Ia serupa keniscayaan yang meruap hati dan pikiran untuk membahasakan realitas dan relasi selama perjumpaan untuk diabadikan.

Jika fotografer mengabadikan kenangan dalam gambar maka Gody mengajak kita menikmati pengalaman perjumpaannya dalam puisi.

Pada puisi Lagu Gadis Halmahera Gody, kita dibuat terpukau dengan cermatnya Gody menyusun diksi yang detail tentang pekik nikmat kebebasan dari nyanyi sang gadis.

Pernah rimbun di hutanmu Kini kulihat di rambutmu Sebagai hidup yang lepas terurai Deret kata dari puisi Gody di atas menyiratkan satu ruang sosial yang dinarasikan dengan keluar dari kungkungan untuk mencapai kebebasan.

Lagu Gadis Halmahera sejatinya adalah perenungan ihwal makna kehidupan yang sekalipun bebas dari kungkungan tetap membawa sang pengelana juga gadis tadi untuk untuk pulang pada kesadaran yang hakiki bahwa kebebasan tetap harus melahirkan semacam tanggung jawab.

Deret kata paling telak nyata dalam baris terakhir dari puisi ini. Rumput-rumput menata Di alis matamu Di sana kusaksikan warna lestari Kata-kata sang penyair akhirnya tak sebatas alat tapi serupa seruan yang ikut merekam jejak perjalanan.

Bisa jadi semacam spirit untuk mengetengahkan bahwa ruang sosial harus senantiasa tetap terjaga.

Ia harus lestari. Pada puisi Burung-burung terbang, Gody menampilkan jejak pengembaraannya sebagai isyarat rindu yang senantiasa ingin pulang.

Pada deret kata di dahan ranting kering Gody seperti dirundung rasa asing.

Pengembara adalah orang asing yang dalam perjalanan-perjalanannya tetap harus pulang pada kesadaran bahwa senantiasa ada jeda untuk kembali mereguk makna dari setiap lakonan peristiwa hidup yang melingkupinya.

Selanjutnya pada puisi Gadis Halmahera lagi-lagi Gody menunjukan kelasnya dengan apik dalam menyusun deret kata.

Gadis Halmahera rupanya menyihir pandang mata Gody untuk terpesona-untuk takjub bahwa senantiasa ada semacam rasa sesak dari pertemuan yang akhirnya berlalu.

Pertemuan pada akhirnya melahirkan semacam keberanian untuk menyatakan bahwa rindu selalu meruap dari dada para penyair yang berkelana.

 

Previous ArticleTidak Boleh Ada “Richo Andrean” di Stadion Marilonga
Next Article Pemkab Mabar Nilai Chelluz Pahun Tak Mengerti Tata Kelola Keuangan Daerah

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Desa Lotas Rawan Longsor dan Belum Memiliki Batas Wilayah yang Jelas

8 Maret 2026

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.