Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG
Regional NTT

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

By Redaksi7 Maret 20263 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Immanuel Ndun, Sekretaris Daerah Kabupaten Nagekeo, membuka kegiatan Bimtek penjamahan makanan kepada 51 relawan SPPG Wolowae, di Aula Kantor Camat Wolowae, Sabtu, 7 Maret 2026 (Foto: HO)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, VoxNTT.com – Sebanyak 51 relawan dapur Algomerasi milik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo mengikuti pelatihan penjamahan makanan yang diselenggarakan oleh Yayasan Alpa Graha Titian Harapan di Aula Kantor Camat Wolowae, Sabtu, 7 Maret 2026

Kepala SPPG Wolowae, Maria Oktaviana Sena berkata, fokus materi pada pelatihan adalah kebijakan keamanan pangan siap saji, cemaran pangan dan penyakit bawaan pangan, pemeliharaan lingkungan kerja, pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit, kebersihan dan sanitasi peralatan, higene perorangan, serta tahapan proses produksi siap saji.

Pelatihan yang berlangsung selama satu hari tersebut menghadirkan tenaga ahli gizi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Nagekeo sebagai narasumber utama.

Para peserta diberikan materi mengenai cara penanganan bahan makanan yang higienis, teknik pengolahan yang aman, hingga prosedur penyajian makanan agar tetap layak konsumsi dan tidak terkontaminasi.

Tidak hanya menyasar relawan dapur, kegiatan ini juga melibatkan para suplayer bahan makanan yang selama ini menjadi bagian penting dalam rantai penyediaan pangan di dapur Algomerasi.

Para suplayer diberikan pemahaman mengenai standar pemilihan bahan baku, proses penyimpanan, serta distribusi bahan makanan yang sesuai dengan prinsip keamanan pangan.

Pelatihan penjamahan makanan ini juga merupakan upaya pencegahan agar kejadian keracunan makanan tidak terjadi di wilayah Kabupaten Nagekeo.

Melalui pelatihan ini, Yayasan Alpa Graha Titian Harapan sebagai mitra SPPG di Kecamatan Wolowae berharap seluruh relawan dapur maupun suplayer mampu memahami dan menerapkan prinsip penjamahan makanan yang benar.

Dengan demikian, setiap makanan yang diproduksi tidak hanya bergizi, tetapi juga aman dan sehat bagi masyarakat yang menjadi penerima manfaat program tersebut.

Panitia kegiatan menyampaikan bahwa program ini memiliki tujuan utama untuk memastikan para penerima manfaat memperoleh asupan gizi yang baik melalui makanan yang diproduksi secara higienis.

Para relawan dapur SPPG juga diingatkan bahwa mereka memiliki tanggung jawab moral untuk menyediakan makanan yang aman, sehat, dan layak konsumsi bagi masyarakat.

Sementara itu, di Kabupaten Nagekeo sendiri saat ini baru terdapat sembilan dapur Algomerasi yang telah beroperasi dari target sebanyak 46 dapur.

Sembilan dapur tersebut tersebar di enam kecamatan, dengan Kecamatan Keo Tengah menjadi satu-satunya wilayah yang belum memiliki dapur Algomerasi.

Dari sembilan dapur yang ada, tiga dapur berada di Kecamatan Aesesa. Tiga dapur lainnya tersebar di Kecamatan Mauponggo dan Boawae, sementara masing-masing satu dapur berada di Kecamatan Wolowae dan Kecamatan Nangaroro.

Sebagaimana diketahui, beberapa kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) pernah terjadi di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Pada Maret 2026, puluhan penerima manfaat di Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada, dilaporkan mengalami keracunan massal yang melibatkan balita, anak sekolah hingga ibu hamil.

Kasus tersebut memicu desakan Ketua DPRD Ngada agar dilakukan audit menyeluruh terhadap operasional SPPG.

Sebelumnya pada Desember 2025, sebanyak 82 siswa dari SDK Regina Pacis Bajawa dan SDI Waturutu juga dilaporkan mengalami keracunan makanan.

Secara umum, Provinsi NTT tercatat beberapa kali mengalami kejadian keracunan dalam program MBG.

Selain di Ngada, kasus serupa juga pernah terjadi di Kota Kupang yang melibatkan 215 siswa pada Juli 2025 serta di Kabupaten Timor Tengah Selatan pada Oktober 2025.

Penulis: Patrianus Meo Djawa

Kabupaten Nagekeo Kecamatan Wolowae Nagekeo Program Makan Bergizi Gratis
Previous ArticlePemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo
Next Article Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

Related Posts

‘Gema Mabar’ Diluncurkan, Pemkab Manggarai Barat Fokus pada Ketahanan Pangan hingga Pariwisata Berkelanjutan

2 Juni 2026

Manggarai Barat Dorong Koperasi Desa Merah Putih Beroperasi Meski Belum Punya Gerai

30 Mei 2026

Pemkab Manggarai Barat Evaluasi Seluruh Destinasi Wisata Usai Insiden WNA Austria Terjatuh di Jembatan Gantung

30 Mei 2026
Terkini

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Kejari Manggarai Barat Pulihkan Kerugian Negara Rp2,09 Miliar dari Dua Kasus Korupsi

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.