Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Mahasiswa PGRI Diduga Dianiaya Polisi dan Pol PP
HEADLINE

Mahasiswa PGRI Diduga Dianiaya Polisi dan Pol PP

By Redaksi4 Agustus 20173 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Polisi sedang mengapit leher seorang peserta aksi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT- Aksi Forum Mahasiswa PGRI NTT mendesak Pemerintah NTT agar memperjuangkan hak mereka belum juga terpenuhi.

Malah dalam aksi ke-9 yang digelar pada Kamis (3/8/2017) tersebut para mahasiswa yang merasa menjadi korban konflik elit di lingkup Universitas PGRI NTT tersebut diduga mengalami tindakan kekerasan dari polisi dan Polisi Pamong Praja.

Setidaknya 7 peserta aksi diduga dianaiaya oleh aparat.

Melalui press release yang dikirimkan kepada VoxNtt.Com pada Kamis (3/8/2017), Koordinator Umum FMU PGRI NTT, Petrus Tanisius Dedi menyatakan tujuan dari aksi long march yang mengambil titik start di Terminal Oebobo tersebut adalah untuk bertemu dan berdialog dengan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya.

Sayangnya, ketika masa aksi sampai di Kantor Gubernur NTT hanya Humas Pemprov NTT, Samuel Pakaring. FMU PGRI NTT lantas menyatakan menolak kehadiran Samuel Pakaring.

“Hanya menghadirkan humas merupakan bentuk pembiaran Pemprov NTT dalam hal ini Gubernur NTT terhadap nasib kami anak-anak NTT untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas,” tegas Petrus Tanisius Dedi.

Yang disayangkan oleh Petrus adalah selain merasa diabaikan para mahasiswa juga harus mengalami kekerasan.

Korlap aksi, Julius Mone yang berhasil masuk ke dalam Kantor Gubernur NTT ditangkap dan diduga dianiaya.

Selain itu, mahasiswa lainnya bernama Hayon yang bertugas mendokumentasikan aksi didorong ke dinding tripleks oleh polisi. Sehingga mengakibatkan kerusakan pada tripleks.

Long march Forum Mahasiswa Universitas PGRI NTT

Hal itu kemudian digunakan sebagai alasan oleh polisi untuk memukuli Hayon.

Selain Julius dan Hayon juga ada mahasiswa lainnya yang menjadi korban kekerasan yakni Frans Ly Ratu, Mariano Martinz, Engky Tanggu dan Fidelis Baka.

Bahkan seorang mahasiswi bernama Venchi Siki juga mengalami kekerasan.

Ia ditendang di paha, perut, dan juga dipukul di kepala.

Akibatnya ke 7 mahasiswa tersebut mendapatkan luka dan memar di tubuh.

Dalam beberapa aksi sebelumnya mereka juga mengalami kekerasan.

Akan tetapi, sampai dengan berita ini diturunkan belum diketahui langkah apa yang akan diambil oleh FMU PGRI NTT atas tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh polisi dan Pol PP.

Sementara itu, Sekretaris LMND NTT, Apris Mali yang turut terlibat dalam aksi tersebut menyatakan para mahasiswa akan terus berjuang.

Mereka menolak SK Nomor 208/M/KPT/2017 tentang pencabutan izin pendirian Universitas PGRI NTT dan pencabutan izin pembukaan program studi pada Universitas PGRI NTT di Kota Kupang yang di selenggarakan oleh YPLP PT PGRI NTT.

“Yayasan dan Rektor yang berkonflik tetapi kami mahasiswa yang dijadikan korban. Pemprov NTT tidak boleh tutup mata bahwa keputusan Menristekdikti untuk mengalihkan mahasiswa ke dua kampus baru juga hanya menjadikan kami mahasiswa sebagai objek eksploitasi orang-orang yang mengumpulkan kekayaan dengan memperdagangkan pendidikan di NTT,” tegas Apris yang juga merupakan mahasiswa Universitas PGRI NTT tersebut kepada VoxNtt.Com saat dihubungi pada Kamis (3/8/2017). (Are De Peskim/AA/VoN)

Kota Kupang Sikka
Previous ArticleCinta Lingkungan Hidup, Warga Pemo dan Roga Rutin Menanam di Kawasan Kelimutu
Next Article Tidak Ada Pelayanan Khusus Bagi Kontraktor di Bank NTT Labuan Bajo

Related Posts

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026
Terkini

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.