Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NASIONAL»Inilah Penyebab Kemarau Tahun ini Terasa Lebih Panas
NASIONAL

Inilah Penyebab Kemarau Tahun ini Terasa Lebih Panas

By Redaksi26 Agustus 20172 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Peta prakiraan awal musim kemarau 2017 zona musim di Indonesia (Foto: BMKG)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Vox NTT-Sejak bulan lalu, Indonesia telah mengalami musim kemarau. Seperti biasanya, suhu udara panas pun menjadi teman akrab masyarakat Indonesia dalam menghabiskan waktunya.

Namun, tak sedikit yang mengeluhkan luar biasa panasnya suhu udara. Bahkan, perkiraan kemarau tahun ini lebih panas dibandingkan dengan tahun lalu.

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) Mulyono Rahadi Prabowo mengatakan, sebetulnya tak ada perbedaan signifikan yang terjadi antara musim kemarau tahun 2017 dengan tahun 2016.

Suhu udara pun tampak serupa dengan tahun lalu. Berdasarakan hasil pengamatan BMKG pada Agustus 2017, suhu udara pada kisaran 24,4-34,4 celsius. Sedangkan pada bulan Agustus 2016, suhu udara pada kisaran 25,4-33,8 celsius.

“(Jadi) dibanding tahun lalu sebetulnya tidak banyak berbeda,” kata Mulyono seperti dilansir Kompas.com, Jumat (25/8/2017).

Menurut Mulyono, suhu udara terasa lebih panas karena sedikitnya potensi curah hujan. Dari Sumatera bagian selatan hingga Nusa Tenggara Timur, dan sejumlah tempat lain, hujan sudah cukup lama tidak datang.

Dari data monitoring BMKG pada 20 Agustus terhadap hari tanpa hujan berturut-turut, wilayah Sumatera juga hampir seluruhnya masuk dalam ketegori sangat pendek, 1-5 hari. Sementara itu, Lampung tak kedatangan hujan dengan kategori panjang, 21-30 hari.

Kondisi serupa juga terjadi hampir di seluruh bagian Pulau Jawa. Maka, jangan heran jika Anda merasakan peluh terus keluar bergantian.

Bali hingga Nusa Tenggara Barat masuk dalam kategori menengah, sekitar 11-20 hari, dan diselingi kategori panjang. Bahkan, beberapa lokasi di NTT tak kedatangan hujan lebih dari 60 hari dengan kategori ekstrem.

Untungnya, Mulyanto mengatakan, bulan kemarau diperkirakan akan berakhir pada bulan September. (Kompas.com/VoN).

Previous ArticleSMA Negeri 1 Waigete Sikka Butuh Tambahan Guru dan Sarana Pendidikan
Next Article TNI dan Masyarakat Bersih Pantai Mberenang Lembor Selatan

Related Posts

KemenHAM Dorong Youth Ranger Indonesia Jadi Agen Penyebar Nilai HAM

16 Juni 2026

Demokrat Bantah Keterlibatan AHY dalam Kasus BGN, Minta Media Sajikan Informasi Terverifikasi

10 Juni 2026

420 Warga Tengki Seribu Minta Natalius Pigai Turun Tangan Awasi Pemenuhan HAM di Lokasi Relokasi

9 Juni 2026
Terkini

Usut Dugaan Intimidasi Dokter Icha, Polres TTU Diminta Bergerak Cepat dan Transparan

28 Juni 2026

Pemuda Katolik NTT Dukung Investigasi Kematian Dokter Icha, Desak BK DPRD TTU Gelar Sidang Etik

28 Juni 2026

Upah Kebajikan: Melestarikan Kehidupan dan Mati Bagi Dosa

28 Juni 2026

Fransisco Bessi Kembali Terpilih Aklamasi Pimpin Taekwondo NTT

27 Juni 2026

Soroti Kasus Dokter Icha, Tenaga Ahli Menteri HAM Desak Pemeriksaan Anggota DPRD TTU

27 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.