Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Figure»Di Rumah Perlindungan Perempuan, Suster Yosepina Membantu Warga Miskin
Figure

Di Rumah Perlindungan Perempuan, Suster Yosepina Membantu Warga Miskin

By Redaksi20 September 20173 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Sr.Maria Yosephina Pahlawati,SSpS
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Labuan Bajo, Vox NTT-Tidak hanya mengurus korban Perdagangan Orang (Human Trafficking) di Wilayah Manggarai Raya, Suster Yosepina juga serius mengurus ibu rumah tangga atau perempuan kurang mampu di Rumah Perlindungan Perempuan di Labuan Bajo.

Suster yang bernama lengkap Sr.Maria Yosephina Pahlawati,SSpS itu sejak Mei 2017 lalu sudah melatih sejumlah perempuan di Labuan Bajo untuk membuat tempe dan mengola sampah menjadi hiasan bungga.

“Setelah mereka membuat tempe sendiri kemudian mereka menjual ke masyarakat dan semuanya laku,’’ tuturnya.

Memilih memproduksi Tempe dan kerajinan tangan hasil olahan sampah karena pekerjaan itu dilakukan oleh kaum perempuan.

Sehingga, rata-rata yang tinggal di Rumah Perlindungan Perempuan Labuan Bajo adalah perempuan yang tidak mampu melanjutkan sekolah karena orangtua tidak mampu membiaya mereka.

Setiap minggunya, tiga kali memeroduksi lima kilogram tempe bisa mencapai keuntungan Rp 150 ribu.

Hasil dari menjual tempe itu untuk membiaya korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang tinggal di Rumah Perlindungan Perempuan.

“Kita harapkan setelah mereka mahir membuat tempe dan kerajinan olahan sampah, mereka akan keluar dari rumah ini untuk bisa mandiri geluti produksi tempe dan kerajinan,’’ harap Suster Yosepina.

Suster yang bekerja di JPIC SSPS Wilayah Flores Barat itu mengaku sangat banyak perempuan yang ingin bekerja menafkahi kebutuhan rumah tangganya di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar).

Perempuan kurang mampu saat dilatih membuat hiasan bunga dari botol sampah

Namun, yang menjadi kendala kaum perempuan tidak mempunyai keahlian dan modal usaha yang cukup.

Sehingga melalui Rumah Perlindungan Perempuan Labuan Bajo nantinya dapat menampung kaum perempuan yang kurang mampu untuk dilatih.

“Saya mau ajak sebanyak-banyaknya ibu rumah tangga yang tidak mampu dan mau melatih kerja apa saja untuk bisa datang di Rumah Perlindungan Perempuan,’’ ajaknya.

Berawal dari Korban KDRT

Sr.Maria Yosephina Pahlawati,SSpS bergerak melatih perempuan kurang mampu di Labuan Bajo berawal dari mendampingi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

“Daripada dia (Korban) duduk kosong di Rumah Perlindungan Perempuan,kemudian saya mengajar untuk membaut tempe,’’ ujarnya.

Mendampingi korban KDRT tidak mudah, mesti membutuhkan ketabahan.Apalagi, kondisi korban KDRT yang stres atau frustasi dengan persoalan yang dihadapinya.

Usai melatih korban KDRT itu dalam waktu  beberapa bulan dan berhasil.

Suster Yosepina akhirnya membuka pintu bagi perempuan atau ibu rumah tangga yang kurang mampu untuk bisa datang melatih cara membuat Tempe dan kerajinan dari sampah bekas.

Berkat keseriusan melatih mebuat Tempe dan kerajinan tangan, Suster Yosepina diminta oleh kelompok ibu-ibu di wilayah Sokrutung, Kecamatan Komodo untuk melatih ibu-ibu diwilayah ini memproduksi Tempe.

“Bulan depan kita mulai melatih ibu-ibu di Sokruteng untuk membuat Tempe,’’ katanya.

Dia berharap agar kaum ibu dan perempuan tidak mampu di Labuan Bajo agar bisa berusaha kecil-kecilan teramasuk memeroduksi tempe untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak dan kebutuhan lainnya. (Gerasimos Satria/AA/VoN)

Manggarai Barat
Previous ArticleDemi Listrik, Warga Mapitara Korbankan Ratusan Tanaman Komoditi
Next Article Lelah Hadapi Jalur Maut, Warga Lamba Leda Nilai YOGA Gagal

Related Posts

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

RRI Labuan Bajo dan Plataran Komodo Gelar Donor Darah, Perkuat Aksi Kemanusiaan di Manggarai Barat

3 Maret 2026
Terkini

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.