Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Antologi Puisi Firmus Kana
Sastra

Antologi Puisi Firmus Kana

By Redaksi28 Oktober 20173 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi terumbu karang (Foto: setkab.go.id)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ketika Karang Saling Memandang

(for Foursma Kupang*)

 

Ku ajak hatiku menuntun tapak berseri nun letih

Dari irama-irama penharapan yang pernah kita gantungkan

Lalu kejar dengan segala ringkik lelah

Hidup ini ziarah juga Tanya yang tak bertepi

Hati tak henti menuntun rasa

Mengekalkan kisah dengan kidung-kidung flobamorata

Kenangan adalah luka yang memantik rindu keluh di hati

Kita akhirnya pergi nanti juga lenyap

Terhempas dari rahim panutan

Cita hidup kita adalah segala tentang yang senang

Catatan-catatan waktu lalu bersileweran

Waktu memang tuan untuk segalanya

Rahim panutan memanggil

Ketika usia sudah terjual

Rindu sudah dua muka

Ketika karang saling memandang

Pinjam Sayapmu

Ku pinjam sayapmu

Meski dalam mimpi

Tuk terbang tinggi bersama angin sepoi

Menoreh aneka kisah

Merenda lalu melumat dalam sua

Ah asmara pertama

Saat angin mengundang

Ada notasi-notasi yang berceracau

Melumat kata jadi sua

Terbitlah cinta jadi senyum

Tahun-tahun berlalu

Ziarah ini pantas kita simpan

Ah pelangi cinta

Pinjamkan aku sayapmu untuk menemukan kenangan

Memeluk Pelangi

Perempuan-perempuan yang letih memeluk kenangan itu akhirnya berangkat ke langit

Tak ada yang lebih mulia selain rindu memeluk pelangi

Ketika tiba, air mata pelangi jatuh dirundung kekal peluk perempuan-perempuan letih

Perempuan-perempuan itu tak pernah sendiri

Hanya kadang pergi jika luka tersayat pada hati

Perempuan-perempuan itu selalu menerbitkan rindu

Karena di bidar dadanya

Mengalirlah kehidupan yang kelak rindu juga pulang ke langit memeluk pelangi

Firmus Kana, penyuka puisi, saat ini tinggal di Mukusaki-Ende Lio. Puisi ini adalah persembahan untuk kawan-kawan alumni SMAN 4 Kupang.

 

Yang Luhur dari Puisi

Oleh Hengky Ola Sura, Redaksi Seni dan Budaya VoxNtt.com

 Menurut penyair metafisik Inggris, John Keats, puisi adalah satu-satunya yang mampu merangkul manusia dalam keterasingannya. Keluhuran puisi pulalah yang membawa Aristoteles sampai pada penilaian bahwa puisi harus berperan menciptakan efek katarsis guna menekan adanya nafsu. Dua afiramsi ini saya kira cukup mengena jika dilekatkan pada tiga puisi dari Firmus Kana pada edisi kali ini.

Firmus memang fokus menulis puisi untuk kawan-kawan angkatannya di SMAN 4 Kupang toh tiga puisinya jadi semacam pilinan kenangan yang ikut merangsek ingatan pembaca untuk masuk dalam segala yang bernama perjumpaan, suka-duka juga impian-impian saat ada bersama. Pada puisi Ketika Karang Saling Memandang, Firmus dengan telaten mengguratkan kata jadi satu suasana yang dekat sekali dengan masa-masa ada bersama. Pengalaman sesungguhnya adalah jarak yang hanya berhenti sebentar lalu berkelana lagi. Ini bisa jadi penegasan yang paling lekat dengan puisi Ketika Karang Saling Memandang. Diksi untuk judul ini saja sudah sangat puitik untuk menggambarkan betapa pengalaman ada bersama itu diramu jadi satu keluhuran hidup.

Pada puisi Pinjam Sayapmu, ada semacam ambiguitas akan diksi sayap. Toh pilihan kata macam ini jadi daya tarik yang membawa pembaca ikut berkelana. Mereka-reka puisi ini saya ikut disadarkan bahwa mimpi jadi serupa kegairahan bertemu sosok atau tokoh serupa malaikat yang dirindukan penyair untuk membawanya pada perjumpaan-perjumpaan saat ada bersama, saat jatuh cinta juga saat-saat merenda cita. Puisi ini pun saya kira masih tetap ditujukan pada sahabat-sahabat sang penyair kita minggu ini untuk kawan-kawannya.

Selanjutnya pada puisi Memeluk Pelangi, Firmus saya kira mendedikasikan puisi ini pada sejumlah sosok/tokoh perempuan luar biasa. Refleksi tentang kedalaman dari puisi ini saya kira baru menjadi nyata saat membaca penggalan baris

Karena di bidar dadanya

Mengalirlah kehidupan yang kelak rindu juga pulang ke langit memeluk pelangi

Puisi ini bisa jadi sebuah penghormatan akan sosok-sosok yang dikagumi sang penyair. Ya begitulah puisi, dunia aneh ini serupa jalan pulang untuk memurnikan segala yang bernama kenangan. Puisi selalu lahir karena digdayanya yang luhur mematuk-matuk perasaan untuk memurnikan kualitas hidup.

Previous ArticleDiduga Kabur dengan PIL, Seorang Suami di Nagekeo Polisikan Istrinya
Next Article SMA Negeri 10 Borong Gelar Pemeriksaan Kesehatan Reproduksi Siswa

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.