Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Memahami Ungkapan “Lelon Kaut Le Morin Agu Ngaran” Pada Pilkada Matim
Gagasan

Memahami Ungkapan “Lelon Kaut Le Morin Agu Ngaran” Pada Pilkada Matim

By Redaksi23 Februari 20183 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Markus Makur, Kontributor Kompas.com yang bekerja di Kabupaten Manggarai Timur, NTT
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh:Markus Makur

Pekerja Media, Kontributor Kompas.com dan The Jakarta Post

Orang Manggarai, Nusa Tenggara Timur memiliki kearifan tersendiri dalam menghadapi situasi tertindas. Cara orang Manggarai melawan tidak secara frontal dan vulgar melainkan secara halus melalui ungkapan-ungkapan kiasan yang diwariskan leluhur.

Mereka selalu mengungkapkan “Lelon kaut le morin agu ngaran” untuk menyampaikan peringatan terhadap penguasa maupun aparat penegak hukum yang lalim.

Kalau goet ini diterjemahkan maknanya kurang lebih ‘biarkanlah Tuhan yang bertindak’. Biarkanlah Tuhan yang mengatasi persoalan manusia di dunia ini.

Ungkapan ini tidak hanya  dimaknai perlawanan verbal orang Manggarai atas situasi ketidakadilan dan ketidakberdayaan, tetapi juga simbol ketidakpercayaan terhadap ‘pemimpin dunia’ untuk menciptakan kebaikan bersama.

Ungkapan ini tidak hanya terjadi dalam ranah kehidupan sosial, tetapi juga dalam politik dan ekonomi.

Ketertindasan Infrastruktur Dasar

Salah satu persoalan yang hingga kini ‘menindas’ orang Manggarai adalah soal infrastruktur dasar. Masalah ini sangat lekat dengan wilayah kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Maka ungkapan  “lelon kaut le morin agu ngaran” juga sering dituturkan menghadapi situasi semacam ini. Kekurangan air, jalan, listrik, irigasi, pelayanan pendidikan dan kesehatan menjadi salah satu faktor mendasar rakyat miskin terus dililit kemiskinan.

Ungkapan ini menunjukkan rakyat dilupakan, dipinggirkan oleh penguasa yang sedang berkuasa. Padahal amanat dan kepercayaan telah diberikan lewat suara dalam pesta demokrasi.

Ungkapan-ungkapan itu selalu berhubungan dengan morin agu ngaran sebagai sang pencipta kehidupan. Bahkan dilantunkan dalam lagu-lagu lokal orang Manggarai Raya, seperti lagu Aku Retang Bao, Sangku Lerong dan masih banyak lagi.

Ungkapan “lelon kaut le morin agu ngaran” merupakan kritikan pedas terhadap penguasa yang tidak memperhatikan kesejahteraan rakyat.

Lebih jauh ungkapan ini bermakna biarkanlah Tuhan langsung mengurus rakyat. Biarkanlah sang pencipta memenuhi kebutuhan dasar rakyat.

Di balik ungkapan ini, juga terselip pesan moral serta ajakan untuk berubah.

Ungkapan itu seharusnya ditangkap oleh penguasa yang sedang berkuasa maupun yang sedang maju sebagai bahan refeksi diri.

Penguasa dan calon penguasa  harus memiliki rasa malu dengan ungkapan sederhana ini karena merupakan simbol kegagalan dirinya untuk menciptakan kebaikan bersama.

Ungkapan itu seharusnya membangkitkan hasrat dan gairah dari penguasa  untuk keluar dari zona nyaman kekuasaan. Dia harus mampu menaklukan godaan kenikmatan kuasa agar kuasa itu menjadi daya yang hidup untuk perubahan.

Pemilihan pemimpin baru di Manggarai Timur yang sudah memasuki tahapan kampanye terbuka dan tertutup ini juga harus dimaknai dalam langgam refleksi kritis itu .

 

Hemat saya yang paling mendasar adalah pemimpin itu sendiri harus gelisah dengan masalah sosial. Dia harus gelisah ketika ungkapan ‘lelon kaut le morin agu ngaran’ sering keluar dari mulut rakyatnya.

Seorang pemimpin yang diharapkan harus punya dorongan ‘magis’ mencari sesuatu yang lebih. Dia tidak cepat puas ketika disanjung dalam ritual atau menerima status quo, melainkan cenderung gelisah mencari sesuatu yang lebih, sesuatu yang lebih besar yakni demi kemuliaan rakyatnya.

Previous ArticleKadis Koperindag Matim “Bohongi” Warga Pasar Borong
Next Article Crossway Dagamage: Rusak Sejak 2017, Putus Total di 2018

Related Posts

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
Terkini

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.