Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Ironi Proyek Puskesmas Senilai 3,6 M di Perbatasan Belu
NTT NEWS

Ironi Proyek Puskesmas Senilai 3,6 M di Perbatasan Belu

By Redaksi1 Maret 20183 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
PPK Konstruksi Puskesmas Perbatasan, Erwin Asa (Foto:Marcel)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Atambua, Vox NTT-Pembangunan salah satu puskesmas perbatasan di kabupaten Belu dari APBN tahun 2017, kini menyisahkan persoalan.

Padahal puskesmas yang terletak di Nualain, kecamatan Lamaknen Selatan ini baru di-PHO pada 22 Desember 2017 lalu.

Kini, puskesmas yang dibangun dengan anggaran 3,6 miliar ini pada beberapa bagian seperti bagian fondasi, plafon dan almunium composit panel sudah mulai runtuh.

Kondisi tersebut diakui Erwin Asa, selaku PPK  konstruksi delapan puskesmas perbatasan di Belu.

BACA: Bangunan Puskesmas Nualain Rp 3 M di Belu Nyaris Rubuh

Ditemui di ruang kerjanya, Kamis (1/3/2018) Erwin menjelaskan ambruknya beberapa titik bangunan puskesmas Nualain disebabkan karena adanya pergeseran tanah paska bangunan selesai dikerjakan.

Ditanya soal tidak matangnya proses perencanaan, Erwin membantah dengan tegas. Disampaikannya bahwa apa yang terjadi merupakan faktor alam dan di luar perhitungan teknis.

Diakuinya, bahwa dalam perencanaan pembangunan Puskesmas Nualain, pihaknya tidak memiliki dokumen sounder tanah karena dokumen tersebut digunakan untuk konstruksi bangunan bertingkat.

“Pada prinsipnya tahapan-tahapannya sudah kita lewati namun dalam perjalanan, ada hal yang terjadi di luar dugaan karena kondisi hujan sehingga ada bagian yang ambruk. Dalam kondisi seperti itu, kita tidak salahkan konstruksi” jelas Erwin.

Kerusakan yang terjadi, akuinya karena adanya pergeseran tanah yang tidak diprediksi sejak awal.

“Kalau kondisi tanah itu kita susah untuk prediksi” ujarnya.

Ditanya soal dokumen sounder, dirinya mengatakan dokumen tersebut tidak diberlakukan bagi konstruksi bangunan berlantai satu.

Namun demikian, pihak PPK sudah bertemu dengan kontraktor pelaksana dan membuat berita acara untuk segera diperbaiki ketika cuaca sudah membaik.

Pemilik PT. Putra Cahaya Timor, Fabianus Sulaiman Lai (Foto:marcel)

Hal yang sama diakui kontraktor pelaksana PT. Putra Cahaya Murni,  Fabianus Sulaiman Lai.

Fabianus menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengerjakan bangunan tersebut sesuai dengan perencanaan awal. Ditanya soal apakah dilakukan survey awal terkait kondisi dan sifat tanah, Fabianus mengatakan itu menjadi tanggungjawab PPK dan konsultan perencanaan.

“Kalau soal sounder tanah, masuk dalam tanggungjawab PPK dan konsultan perencanaan. Seharusnya melihat kondisi tanah seperti ini, mestinya disiapkan dokumennya” ujar Fabianus.

Pihaknya bersedia untuk memperbaiki bagian bangunan yang sudah ambruk apabila sudah menerima rencana perbaikan dari pihak PPK dan konsultan perencanaan dari Dinas Bina Marga Kabupaten Belu.

PPK sendiri mengakui kontraktor pelaksana adalah kontraktor yang masih baru.

Hal tersebut juga diakui Fabianus selaku kontraktor dari PT. Putra Cahaya Murni.

“Iya saya memang kontraktor baru jadi saya harus jaga kualitas” aku Fabianus.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Belu, Theresia Saik belum bisa ditemui. Disambangi di kantornya, beberapa staf Dinkes mengatakan sang Kadis sementara rapat. Padahal sebelumnya, Kadis Kesehatan mengatakan akan menemui wartawan di kantornya pada Kamis,(1/3/2018).

“Nanti ketemu saya di kantor saja, thanks” balas Theresia ketika dihubungi via telpon selulernya pada Rabu,(28/2/2018) sore.

Untuk diketahui, bangunan puskesmas Nualain baru di-PHO pada 8 Desember 2017 bersama tujuh puskesmas perbatasan lainnya di Belu senilai Rp 71 miliar lebih. Masa pemeliharaannya berlaku hingga 22 Mei 2018.

Penulis: Marcel Manek

Editor: Irvan K

Belu
Previous ArticlePemda TTU Didesak Segera Lantik Kades Ponu
Next Article Surfing Polemik TPS di Matim

Related Posts

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026
Terkini

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.