Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten TTU, Yosefina Konda. (Foto: Eman Tabean)

Kefamenanu,Vox NTT- Sepanjang tahun 2017 lalu, sedikitnya terdapat 171 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Dari jumlah kasus yang ada, kasus kekerasan seksual paling dominan, selebihnya kekerasan dalam rumah tanggga (KDRT) dan penelantaran.

“Data yang berhasil kita himpun dari tingkat Polsek maupun Polres, pada tahun 2017 terdapat 171 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Sedangkan untuk data 2018 masih kita rampungkan lagi,” jelas Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten TTU, Yosefina Konda saat ditemui VoxNtt.com di ruang kerjanya, Rabu (07/03/2018).

Yosefina menjelaskan, untuk kasus kekerasan seksual, berdasarkan data yang dimilikinya, antara pelaku dan korban, kebanyakan masih memiliki hubungan darah.

Bahkan kata dia, tak sekedar hubungan darah saja tetapi juga ada yang berstatus ayah dan anak kandung, paman, ayah tiri maupun sepupu yang tinggal serumah dengan korban.

“Pelaku kebanyakan ayah atau ayah tiri. Pokoknya orang dekat, seperti yang terjadi di Kelurahan Maubeli atau di Oebubun beberapa waktu lalu,” jelas Yosefina yang sebelumnya menjabat Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten TTU tersebut.

Disampaikannya, saat ini sudah ada 57 kasus yang sudah ditanganinya dan diproses secara hokum.

Sedangkan yang lainnya kata dia ditangani oleh LSM, yang bergerak di bidang perlindungan perempuan dan anak. Sementara itu ada beberapa kasus lagi yang diselesaikan secara kekeluargaan.

Lebih lanjut Yosefina menjelaskan, sebagai upaya pencegahan, pihaknya sering turun hingga ke desa-desa dan sekolah-sekolah untuk melakukan sosialisi agar perempuan dan anak berani untuk melaporkan ke pihak berwajib apabila menjadi korban kekerasan, baik itu kekerasan seksual maupun KDRT dan lain sebagainya.

“Kita sudah sering turun sosialisasi. Selain itu kita juga ada dapat bantuan mobil dan motor keliling dari pemerintah pusat, sehingga kalau ada kasus kita dengan mudah turun untuk menjemput korban, baik untuk perawatan maupun penanganan hokum,” jelas Yosefina.

Penulis: Eman Tabean

Editor: Bonefasius Jehadin

alterntif text