Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Puisi-Puisi Marno Wuwur
Sastra

Puisi-Puisi Marno Wuwur

By Redaksi24 Maret 20182 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
ilustrasi (Foto: http://www.katapi.org.uk)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Di Perempatan

Yesus jatuh untuk keempat kalinya

Dan kita tak pernah tahu hal itu

Tiganya di Via Dolorosa

Satu lagi di perempatan lampu merah yang kadang macet

…….

Prtiittttt

Polisi meniupkan peluit

“Kau tak boleh lewat di sini. Ini bukan via Dolorosa”

Lalu Yesus dengan bibir yang ketar-ketir

menjawab

“Biarkan Aku disalibkan di sini

Bersama bocah kecil yang kau tabrak kemarin”

 

Tersesat

Di bibirmu yang selalu sunyi

Aku lupa pulang.

 

Semenjak saat itu

Aku selalu tersesat

Dalam doa pada bibirmu.

 

Kapan aku pulang

Kalau kau tak pernah menunjukkan

Jalan bagiku?????

 

Sang Penyair Tua

Ia masih terpekur di beranda rumah

Mengingat puisinya yang mati secara tragis

Di alun-alun kota.

Semua karena ulahnya

Ia sudah terlanjur menyangkal dirinya tiga kali

Dan puisinya selalu jujur

Mencintainya.

*Marno Wuwur, berasal dari Lamalera, Lembata. Tinggal di Seminari Ritapiret

Catatan Redaksi

Puisi-puisi Marno Wuwur yang ditayang pada pekan ini adalah karya perdana dari Marno yang dikirimkan ke redaksi. Atas pertimbangan kelayakan maka puisi-puisinya pantas untuk diperhadapkan pada pembaca.

Tiga puisinya mulai dari Perempatan, Tersesat dan Sang Penyair Tua adalah puisi yang hadir dengan cemerlang pada pemaknaan pembaca. Sekalipun baru pertama puisi-puisinya tayang pada Vox NTT toh jejak kepenyairan sebenarnya sedang dirancang Marno. Urusan menjadi penyair biarlah menjadi panggilan sendiri-sendiri tapi membaca Perempatan, Tersesat dan Sang Penyair Tua kita seolah sedang membaca puisi-puisi Joko Pinurbo.

Pada puisi Perempatan, Marno hadir menghentak hidup keberagamaan-keberimanan kita. Juga hidup sosial kita. Tiga puisinya pekan ini adalah seumpama upacara bersama, mengeksplorasi kenyataan yang kita alami dan bisa jadi banyak kita praktekan dalam cara pandang dan cara hidup yang banal.

Puisi Perempatan adalah puisi yang mesti jadi catatan khusus bagi semua pembaca untuk berefleksi. Bahwa setiap kali membaca puisi kita juga sedang melakukan re-kreasi dengan berbagai konteks dan situasi yang kita hidupi.

Previous ArticleMiris, Belum Dua Tahun Aspal Jalan Benteng Jawa-Golo Waso Sudah Rusak
Next Article Benahi Mutu Pendidikan SMA dan SMK, Ini Terobosan Dinas Pendidikan NTT

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Desa Lotas Rawan Longsor dan Belum Memiliki Batas Wilayah yang Jelas

8 Maret 2026

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.