Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Siapa Dalang Di Balik Kematian Martin Tana?
HEADLINE

Siapa Dalang Di Balik Kematian Martin Tana?

By Redaksi16 April 20184 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Masa aksi dari APK TTS saat berada di depan Mapolres TTS ( Foto: Paul)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Soe, Vox NTT-Sekitar 200-an massa yang tergabung dalam Aliansi Peduli Kemanusian (APK) TTS pada Senin (16/4/2018) mendatangi Mapolres TTS untuk menuntut proses hukum atas kematian Martin Tana.

Kematian Martin dinilai penuh misteri dan diduga melibatkan oknum anggota Polres TTS. Fokus yang menjadi perhatian keluarga dan aliansi adalah saat korban diantar dari tempat kejadian perkara menuju Kantor Polres TTS dan dari Polres menuju RSUD Soe pada 7 April 2018 lalu.

Kejadian ini bermula dari kecelakaan yang menimpa korban sekitar pukul 20.00 Wita.

Alfred Baun dalam orasinya mempertanyakan penyebab kematian Marten yang kala itu dibawa dari TKP di depan Kodim 1621 TTS ke Polres TTS oleh dua orang oknum Polres TTS.

Dari Polres, korban kemudian dibawa ke RSUD Soe guna mendapat pertolongan. Namun korban dinyatakan meninggal berdasarkan keterangan seorang dokter bernama Dody.

“Kematian saudara Marten Tana menimbulkan pertanyaan bagi kami yang tergabung dalam Aliansi Peduli Kemanusiaan TTS, sehingga kami datang ke Polres TTS untuk meminta penjelasan dari aparat Polres TTS sejauh mana penangan kasus kematian yang kami anggap penuh misteri tersebut,” tegas Alfred Baun.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Yeri Fallo. Dalam orasinya Yeri meminta agar Polres TTS bertanggungjawab atas kematian Marthen Tana. Sebab menurut dia Marthen Tana meninggal ditangan oknum aparat Polres TTS yang membawa korban dari TKP ke Polres TTS.

Sayangnya, Kapolres dan Wakapokres TTS yang sedang berada di ruang tidak mau menemui massa aksi.

Wakapolres TTS AKBP Herman Bessi yang ditemui diruang kerjanya menjelaskan bahwa pihaknya meminta agar Aliansi Peduli Kemanusiaan TTS untuk mengutus 5 orang yang terdiri dari 2 orang utusan keluarga dan 3 orang utusan Aliansi.

Namun tawaran itu ditolak oleh para pendemo yang menginginkan 10 orang perwakilan. Karena tidak mencapai kata sepakat, akhirnya masa pendemo memutuskan untuk kembali ke markas Pemuda TTS setelah membacakan pernyataan sikap mereka.

Siapa Pembunuh Marthen Tana?

Dalam pernyataan sikap aliansi ini diuraikan bahwa Marthen Tana sekitar pukul 20.47 wita mengalami kecelakaan di depan Kodim 1621 TTS.

Korban ditolong oleh dua oknum aparat Polres TTS menggunakan sepeda motor menuju Polres TTS untuk diamankan. Dikatakan korban pada saat dibawa ke Mapolres TTS dalam keadaan sadar dan tidak mengalami cedera apapun.

“Kondisi korban ketika dibawa dari tempat kejadian perkara (TKP) ke Mapolres TTS dalam keadaan sadar,” tegas mereka.

Kemudiaan korban dibawa ke RSUD Soe menggunakan mobil salah seorang warga TTS. Korban dinyatakan meninggal setelah dilakukan pemeriksaan oleh salah seorang dokter.

Keluarga melalui APK TTS merasa adanya kejanggalan mengenai penyebabkan kematian Mathen. Pasalnya, berdasarkan hasil visum et repertum oleh dokter di RSUD Soe tidak ditemukan adanya kekerasan pada tubuh korban sehingga dokter berkesimpulan bahwa korban meninggal karena jantung stop.

Kejanggalan lain terjadi ketika mayat korban dibawa ke kamar mayat untuk dilakukan visum et repertum dengan kondisi pakaian basah kuyup. Sehingga keluarga korban bertanya kenapa pakaian korban basah sementara pada waktu itu tidak hujan.

Keluarga menduga korban meninggal karena direndam ke dalam air sehingga korban sulit bernapas. Sehingga baik keluarga korban maupun APK TTS meminta agar aparat kepolisiaan segera mengusut tuntas kasus tersebut.

Berikut tuntutan APK TTS:

1. Menuntut Kapolres TTS untuk mengusut tuntas kasus kematian Marten Tana dan segera menetapkan tersangka yang diduga sebagai pelaku.

2. Meminta Kapolres TTS untuk segera menetapkan tersangka atas kasus kematian ibu Paulina Takaeb dan bayinya yang meninggal di RSUD Soe.

3. Jika dalam waktu 1 bulan Kapolres TTS velum menetapkan tersangka maka APK TTS mendesak Kapolda NTT untuk mencopot Kapolres TTS.

Sementara Wakapolres TTS AKBP Herman Bessie kepada wartawan diruang kerjanya mengatakan berdasarkan hasil penyelidikan sesaat setelah kecelakaan di depan Kodim, korban dibawa ke Mapolres TTS menggunakan sepeda motor milik oknum aparat yang sedang berjaga di pertigaan depan Kodim 1621 TTS.  Dijelaskan saat itu  bertepatan dengan kegiataan keagamaan yakni Pawai Paska.

“Korban pada saat kecelakaan ditolong oleh aparat kita yang berjaga di depan Kodim dalam rangka acara Pawai Paskah. Karena tidak ada mobil maka oleh petugas dibawa ke Mapolres TTS untuk dibawa ke RSUD Soe. Karena  mobil polres dipakai untuk membantu korban kecelakaan yang lain sehingga kita minta bantuan mobil warga untuk dibawa ke rumah sakit,” jelas Wakapolres Herman.

Namum setelah sampai di RSUD Soe lanjut Wakapolres Herman, pihak rumah sakit menyatakan korban telah meninggal dunia. Dan hasil visumnya pun menunjukan bahwa korban meninggal karena stop jantung.

“Hasil visum dokter mengatakan bahwa korban meninggal dunia karena jantung stop, karena pada tubuh korban tidak ditemukan adanya bekas tindakan kekerasan,” jelas Herman.

Wakapolres Herman lebih lanjut menjelaskan jika hasil visum et repertum menunjukan tidak ditemukan adanya tindakan kekerasan pada tubuh korban maka kasus kematian Marthen Tana besar kemungkinan untuk tidak dilanjutkan.

Penulis: Paul Resi

Editor: Irvan K

TTS
Previous ArticleGubernur Bali Buka Turnamen Flobamora Cup 2018
Next Article Memancing Binatang Komodo, BTNK Sudah Peringatkan Guide

Related Posts

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Pemprov NTT Harus Lobi Pemerintah Pusat soal Nasib 9.000 PPPK

5 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.