Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Seni dan Budaya»Aksi Pria Tak Berbaju, Pesan Budaya dari Karot
Seni dan Budaya

Aksi Pria Tak Berbaju, Pesan Budaya dari Karot

By Redaksi10 Agustus 20183 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kedua pemain caci sedang mengadu ketangkasan di halaman rumah adat Karot Curu (Foto: Ardy Abba/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, Vox NTT- Sejumlah pria tidak mengenakan baju menari-nari di halaman kampung adat Karot Curu, Kelurahan Karot, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Jumat (10/08/2018).

Bagian bawah tubuh sekelompok pria itu hanya memakai celana panjang putih. Bagian luar celana diikat kain songke dan selendang kuning pada pinggul.

Kemudian di bagian samping pinggul dipasang sapu tangan dengan warna-warni. Sedangkan bagian punggung memasang ndeki.

Ndeki adalah benda yang berbentuk kuncir kuda. Dia terbuat dari rotan dan dililiti dengan bulu ekor kuda.

Yohanes Laju Syukur, salah seorang pemain caci di halaman gendang Curu (Foto: Ardy Abba/ Vox NTT)

Selain ndeki, adapula nggorong (gemerincing) yang diikat pada bagian belakang pinggang.

Lalu di bagian tubuh pria-pria itu sama sekali tidak mengenakan baju.

Sedangkan di bagian kepala, mereka mengenakan kostum yang masyarakat adat Manggarai menyebutnya panggal.

Ini berupa topeng penutup kepala bagai tanduk kerbau yang terbuat dari kulit kerbau. Panggal dihiasi renda warna-warni dan bagian ujungnya dipasang bulu kuda.

Masih di kepala, di dalam panggal juga terdapat kain destar.

Tak hanya itu aksesoris yang dipakai. Dipasang pula tubi  rapa sebagai manik-manik yang diikat pada bagian bawah dagu.

Perlengkapan lain yang digunakan adalah larik (cambuk yang terbuat dari kulit kerbau) dan nggiling (perisai yang terbuat dari kulit kerbau), serta agang  (terbuat dari bambu Cina yang berbentuk lengkung)

Terik matahari rupanya tak menyurutkan semangat sekolompok pria itu menari mengikuti iringan alat musik tradisional Manggarai, yakni gong dan gendang.

Sekelompok pria itu sedang memainkan tarian caci. Mereka berasal dari dua tempat, yakni dari Karot Curu dan Bengkang Cibal.

Caci adalah tari perang antara sepasang penari laki-laki yang bertarung dengan cambuk dan perisai.

Tarian caci di Gendang Karot Curu tersebut dilakukan dalam rangka penti weki peso beo.

Penti adalah sebuah ritus adat warisan leluhur Manggarai sebagai media ugkapan syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang diperoleh selama setahun.

“Penti ini adalah ritus adat menyampaikan syukur kita kepada Tuhan dan Leluhur setelah panen,” ujar Yohanes Rikardus Madu, Ketua Panitia Penti kepada sejumlah awak media di rumah adat Karot Curu, Jumat siang.

Yohanes Rikardus Madu, Ketua Panitia Penti (Foto: Ardy Abba/Vox NTT)

Menurut Rikar, penti merupakan salah satu bagian adat yang menjadi kekuatan kebersamaan dan persatuan bagi masyarakat Manggarai. Kekuatan adat pula, kata dia, salah satu wujud dukungan untuk pembangunan daerah.

“Penti ini juga bisa menumbuhkan rasa persaudaraan di tengah masyarakat. Karena kegiatan penti ini dilakukan secara kolektif dengan nuansa persaudaraan,” kata anggota DPRD Manggarai itu.

Terpisah, Bupati Manggarai Deno Kamelus yang juga hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan, penti adalah salah satu ritus adat yang sangat penting bagi orang Manggarai.

Penti, kata Deno, adalah bentuk ungkapan syukur bagi orang Manggarai kepada Tuhan dan leluhur.

 

Penulis: Ardy Abba

Kabupaten Manggarai
Previous ArticleWabup Matim Apresiasi Kerja Bakti Hippamapora
Next Article PT Hasrat Abadi Atambua Kecewakan Nasabah

Related Posts

Gunung Anak Ranaka Naik ke Level Waspada, Warga Diminta Menjauh Satu Kilometer

2 September 2026

Aktivitas Gunung Api Anak Ranaka Meningkat, PVMBG Naikkan Status ke Level Waspada

2 September 2026

Kisah Sepuluh Warga Selamat Sebelum Rumah Roboh saat Gempa Mengguncang Manggarai

1 September 2026
Terkini

Kekerasan Seksual Anak di Sumba Timur: Rumah Tak Lagi Aman

2 September 2026

Gunung Anak Ranaka Naik ke Level Waspada, Warga Diminta Menjauh Satu Kilometer

2 September 2026

Aktivitas Gunung Api Anak Ranaka Meningkat, PVMBG Naikkan Status ke Level Waspada

2 September 2026

Ibu Hamil Meninggal Usai Jalani Operasi Caesar di RSUD Borong, Keluarga Soroti Penanganan Medis

1 September 2026

JPIC OFM Indonesia Bawa Misi “Tembus Pelosok” Salurkan Bantuan Pascagempa Flores

1 September 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.