Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Di Tepi Sungai
Sastra

Di Tepi Sungai

By Redaksi11 Agustus 20182 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Thomaskinkade.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*)Puisi-Puisi Gody Usnaat

HATI HUJAN KAMPUNG

hutan hujan gugur sebagai
daun hujan
sepanjang jalan menuju hatimu
menetes
semisal air mata

hatimu seperti Semografi,
kampung pondok untuk sedikit pulang

saat hujan langkahku tiba
hati kampung hujan masih setia berjaga seperti ibu,
ia menyambutku sambil berkata: “anak…selamat datang, sa rindu ko sampe…”
suaranya hening semacam kicauan burung burung

sepanjang jalan menuju
hatimu…
pepohonan dirimbuni hujan hijau
kicauan burung burung gugur bahagia
sedang di bukit matanya diguyur kabut

hati hujan menggelembung tumbuh seperti buah matoa gunung
hijaunya pun sekali ingin melambai seperti daun sagu seolah bilang:
“anak…ko lama di kota sampe…”
katanya padaku;
anak pergi yang senantiasa
mengalir seperti anak anak sungai

(Ubrub 2018)

DI TEPI SUNGAI

sungai ini
mengingatkanku pada pergi
yang senantiasa mengalir
semacam kaki air

pada alis sungai
aku duduk mengenangmu yang kena tulah pergi

mengenangmu semacam menyaksikan
usaha anak-anak Ubrub
mendulang emas,
berulang ulang mata jari mereka memilah pasir dari emas
sebagaimana
aku berkali kali mencari
kilaumu yang disimpan bebutiran pasir hati kepalaku

pencarianku kian tua,
letihnya menjelma butiran hujan bulan ini
jatuhkan diri
ke dalam mata sungai
tercebur bersama kilaumu

(Ubrub 2018)

MALAMNYA ARSO 2

ini malam
bulan datang
nyala matanya redup
seumpama sumbu obor berburu ayah
nyala redup bulan senantiasa bulat sebagaimana wajah buah matoa

di papan tulis langit jauh
langkah kaki bulan pelan menulis:
setiap ibu seperti hutan dusun
tabah bila ditebang kicauannya
tapi setia bangun berkali kali menjadi rumpun pisang

pada warna maret
malam masih nyaring bernyanyi kodog
terdengar juga tangan angin seperti suara ibu, membaca kangen dan sepi
buat anak kunang kunang
yang mati kerlip di kota:
“apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti aku tungku tanpa api…”*

(Arso 2 / 2018)
*puisi W.S Rendra

Previous ArticlePolres Kupang Kota Sudah Terima Berkas MN
Next Article Proyek Mangkrak, Warga Sambung Jembatan dengan Bambu

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.