Warga Dusun Suliren, Desa Tulakadi saat mengambil air di sumber air yang air sudah mulai berkurang (Foto: Marcel Manek/Vox NTT)

Atambua, Vox NTT- 17 Agustus 2018 sudah 73 tahun Indonesia merdeka dari penjajahan.

Sayangnya, kemerdekaan tersebut belum dirasakan masyarakat Dusun Suliren, Desa Tulakadi, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu. Hingga kini warga di dusun tersebut masih kesulitan mendapatkan air minum bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Disaksikan VoxNtt.com, Kamis(16/08/18), warga Dusun Suliren yang berada persis di beranda NKRI, perbatasan RI-RDTL masih kesulitan untuk memeroleh air bersih guna memenuhi kehidupan sehari-hari.

Diusianya yang semakin lanjut, kemerdekaan negeri ini belum menjamin kebutuhan hidup orang banyak.

Melalui pemerintah daerah di masa kepemimpinan Bupati Wilybrodus Lay, pemenuhan air bersih menjadi salah satu dari empat tekad program Pemerintah Kabupaten Belu. Namun, ternyata tekad tersebut masih sebatas isapan jempol.

Aloysia Buik, seorang ibu di Dusun Suliren, Desa Tulakadi adalah saksi hidup yang sudah belasan tahun bergelut dengan kesulitan untuk mendapat air bersih.

Kepada VoxNtt.com, ibu paruh baya ini menuturkan, sejak tahun 2005 mereka tinggal di daerah itu, hal yang paling menantang adalah sulitnya mendapat air terutama saat musim kemarau.

Di tempat tinggal mereka, hanya ada satu sumber air yang jaraknya dua kilometer dari rumah. Sudah begitu, kondisi jalannya menanjak dan debit air yang mengalir juga sangat sedikit. Untuk mengisi jeriken ukuran 20 liter, dibutuhkan waktu 20 hingga 30 menit.

Tidak hanya jauh, saat musim panas, debit air pada sumber air sangat sedikit. Apabila ditimba dalam jumlah banyak, sumber air tersebut akan mengering.

Sebab itu, ibu Aloysia dan dan warga sekitar harus mengantre berjam-jam dan bahkan harus saling berdesakan untuk mengambil air.

“kalau sudah Bulan September ke atas, kami baku rampas untuk timba air. Kalau timba terlalu banyak, nanti air kering,” ujar Aloysia yang saat itu membawa enam buah jeriken untuk diisi air.

Dikisahkan, karena tidak ada sumber air yang lain sehingga sudah 13 tahun mereka terpaksa mengambil air di tempat tersebut.

“Terpaksa timba di sini semua. kalau airnya kering tunggu sampai air naik lagi,” kata Aloysia.

Warga di sekitar berharap agar ada perhatian pemerintah untuk menyediakan fasilitas air bersih sehingga kesulitan ini bisa berakhir.

 

Penulis: Marcel Manek
Editor: Ardy Abba

alterntif text