Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Warga Ranamasa Ingin Merdeka dari Keterisolasian
NTT NEWS

Warga Ranamasa Ingin Merdeka dari Keterisolasian

By Redaksi20 Agustus 20183 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Warga Ranamasa jalan kaki memikul hasil komoditi menuju jalan raya yang dilalui kendaraan (Foto: Istimewa)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT- 17 Agustus 2018, sudah 73 tahun Negara Indonesia merdeka. 73 tahun juga warga Kampung Ranamasa, Desa Golo Munga Barat, Kabupaten Manggarai Timur (matim) terkungkung dalam keterisolasian.

Bagaimana tidak terisolasi, puluhan tahun tidak ada jalan raya menuju kampung yang berada di dalam kawasan hutan Negara Golo Munga ini.

Kampung Ranamasa tidak bisa masuk kendaraan, baik roda dua maupun empat.

Saat menjual hasil komoditi ke Reo dan ke Benteng Jawa, warga Ranamasa harus berjalan kaki kurang lebih 4 kilometer.

Kampung ini bisa diakses dengan berjalan kaki 1,5-2 jam dari jalan raya Benteng Jawa- Satar Teu.

“Ata penting keta dami hoo lite, salang. Ae leng sengsara dami ba mendo hoo. Hitu ata mesen tegi dami lite. Kut keluar koe one mai daat. Ami lako wa’i eme ngo pika hasil ngger wa Reo agu Benteng Jawa (Yang penting bagi kami di sini itu, jalan. Karena kami terlalu sengsara pikul beban. Itu yang paling besar permintaan kami. Supaya kami keluar dari sengsara ini. Kami harus jalan kaki jika hendak menjual hasil komoditi ke Reo dan ke Benteng Jawa,” kata Antonia Saden, warga Kampung Ranamasa dengan polos di hadapan anggota DPRD Provinsi NTT, Inosensius Fredy Mui, Minggu (19/8) di kampung itu.

Penghasil Komoditi Pertanian 

Antonia mengaku, Ranamasa adalah kampung yang sangat kaya akan komoditi pertanian. Itu seperti ; coklat, kopi, dan jambu mete.

Di balik hasil yang banyak itu, warga mengalami kendala saat menjualnya ke kota untuk mendapatkan harga yang cukup bagus.

Harga beli komoditi di kampung oleh para pedagang sangatlah rendah.

“Kami mau jual hasil ke Reo harus pikul pakai tenaga manusia sampai di jalan raya. Makanya pemerintah harus bangun jalan ke kampung kami ini,” pinta Antonia.

Baca Juga: Fredy Mui “Dihujani” Usulan Warga

Selain jalan, kata Antonia, masyarakat Ranamasa juga sangat merindukan aliran listrik PLN.

Warga Ranamasa jalan kaki memikul hasil komoditi menuju jalan raya yang dilalui kendaraan (Foto: Istimewa)

Selama ini, warga kampung Ranamasa mengandalkan lampu pelita sebagai sumber penerangan di malam hari.

Dapat Respon DPRD NTT

Menanggapi keluhan tersebut, anggota DPRD Provinsi NTT, Inosensius Fredy Mui mengatakan, pada prinsipnya tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan.

Kata dia, jika sebelumnya pembukaan jalan terhambat hutan lindung, maka pasti ada jalan keluarnya.

“Misalnya, soal urgensi dan manfaatnya bagi masyarakat. Menurut saya, ada banyak jalan di republik yang melewati hutan lindung juga. Kenapa di sini dijadikan hambatan bagi masyarakat,” ungkap anggota DPRD Provinsi NTT asal Matim itu.

 

Penulis: Nansianus Taris
Editor: Ardy Abba

Manggarai Timur
Previous ArticleMerayakan HUT RI Ala SDI Golo Wunis
Next Article Napi Pelecehan Seksual Terbanyak di Rutan Kefamenanu

Related Posts

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026
Terkini

Desa Lotas Rawan Longsor dan Belum Memiliki Batas Wilayah yang Jelas

8 Maret 2026

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.