Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Mimpi Basah di Puncak Himalaya
Sastra

Mimpi Basah di Puncak Himalaya

By Redaksi26 Agustus 20182 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Ist)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*) Antologi Puisi Rian Odel

Mimpi Basah di Puncak Himalaya

(Para Bapak Besar)

Mimpimu terperangkap di puncak Himalaya

Tersangkut pada nikmat samar bintang

tentang dongeng para dewa

 

Pada puncaknya yang terlampau tinggi

Kau daratkan rasa rindu pada purnama bulan

Sedangkan sinar cahayanya, kau genggam dalam gelap dadamu

Dan kami menyendiri dalam kemarau kepada hujan

 

Nasihatmu terlalu gampang

Tentang doa kepada dosa, tentang dosa kepada doa

Curam tubir dan kotor bibir

Adalah identitas pada harum dompet di saku belakang

Dan kilau emas pada cincin lidahmu

 

Inginmu terbang jauh ke angkasa

Dengan sayap kertas layang-layang

Dan kami menatap pengap dari lereng bimbang

 

Kau terperangkap di puncak nikmat Himalaya

2017

Di Bangku Pengakuan

Cinta suami kepada istri seperti anak tiri pada kamar pengantin berlimpah semak

Lidahnya bercabang-cabang janji

Ada cabang berbuah durian, ada cabang berbuah kedondong

Tumbuh pada pohon doaku pada-Mu.

2018

 Polisimu dan Puisiku

(Sekalipun ototmu polisi, aku hadang dengan puisi)

Sekalipun biara  tempatnya diam,

lidah ini tetaplah tajam, agar puisi jangan dirajam

Bagai lonceng keras berdentang

Sekalipun kapela tempatnya tenang

 

Tembok baja dan pagar berduri

pun beratus-ratus ribu peluru polisi

Aku hadang dengan sebait puisi

Judulnya  menikam laknat

Tajamnya membongkar ke dasar-dasar pantat

 

Ia menjelma bulir-bulir embun dan

Meresap ke sekujur jiwamu dan

Membasahi kerontang rasa dan

Meneteskan rindu satu per satu.

Ia menumbuhkan tetumbuhan hijau

Pada muara sungai yang kita tanam di rumahmu.

Yaitu judul puisiku

*Rian Odel,Peminat Sastra, Tinggal di Unit Yosef Ledaleo.

Previous ArticleAhang: Kasus Rensi Ambang dan Eki Sebaiknya Diurus Secara Adat
Next Article Rensi Ambang Sadari Kesalahannya

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Desa Lotas Rawan Longsor dan Belum Memiliki Batas Wilayah yang Jelas

8 Maret 2026

Pelantikan Sekda Ngada Tanpa Persetujuan Gubernur Dinilai Bermasalah

7 Maret 2026

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.