Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Bendahara Kelompok Tani di Magepanda Sikka Bongkar Sejumlah Kejanggalan
Regional NTT

Bendahara Kelompok Tani di Magepanda Sikka Bongkar Sejumlah Kejanggalan

By Redaksi5 November 20183 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Istimewa)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Maumere, Vox NTT- Maria Fatima, bendahara kelompok tani Gaging Gatang dan Theresia Gonci, bendahara kelompok tani Kembang Done Magepanda membongkar sejumlah kejanggalan dana bantuan untuk kelompok tani di daerah tersebut.

Menurut keduanya dana sebesar Rp 114 juta untuk kelompok tani, hanya diketahui oleh ketua kelompok tani dan pihak dari Dinas Pertanian Kabupaten Sikka.

“Kami baru tahu kalau ada bantuan dana untuk pembangunan sumur bor dangkal. Kami selama sekali tak dilibatkan dalam proses pembangunan sumur tersebut. Seharusnya sebagai bagian dari kelompok, kami diinformasikan tapi kami baru tahu ketika datang ke Balai Penyuluh Pertanian Magepanda untuk pertemuan soal bantuan bibit bawang pada awal Oktober lalu dan pihak dari Balai Penyuluh Pertanian menginformasikan bahwa ketua kelompok tani kami sedang ada di kantor dinas untuk pencairan dana bantuan. Sebagai bendahara kami kaget, kok kami tak dilibatkan,” demikian tutur Theresia Gonci kepada awak media pada Minggu (28/10/2018) lalu di Magepanda.

Sebagai bendahara kelompok tani, Maria Fatima dan Theresia Gonci juga mengaku kecewa karena tanpa sepengetahuan mereka, ketua kelompok tani seenaknya mengangkat bendahara kelompok tani yang baru tanpa sepengetahuan semua anggota kelompok.

Kepada awak media, Maria Fatima dan Theresia Gonci menyebut alasan dari ketua kelompok tani sangat tidak masuk akal.

Ketika mereka meminta penjelasan ketua kelompok beralasan telepon dari Dinas Pertanian sangat mendadak dan bendahara tidak sedang ada di tempat jadi ketuanya langsung menentukan bendahara yang baru.

“Sangat tidak masuk akal belum menginformasikan kepada kami soal pencairan dana ketua kelompok langsung menentukan bendahara yang baru dan mengatakan semuanya serba mendadak. Kami tidak habis pikir bagaimana bisa dana bantuan dari bulan Agustus 2018 sebesar Rp 114 juta sudah dua kali proses pencairan. Kami sendiri tidak tahu pembangunan model sumur bor dangkal itu seperti apa,” kata Maria.

Maria mengaku, semua anggota kelompok tidak menuntut uang tapi yang paling penting adalah adanya informasi agar mereka mengetahuinya.

“Kami baru tahu soal bantuan ini pada awal Oktober. Soal keuangan saja kepada kami dijelaskan bahwa kelompok kami terima tapi yang lobi adalah ketua. Pada proses pencairan saja ketua sudah membagi jatah kepada orang dinas. Bahkan sampai memberikan sarung dan potong daging anjing untuk makan bersama. Ini kok aneh sekali ya,” demikian lanjutnya.

Kekecewaan segenap anggota kelompok semakin bertambah  saat pertemuan pada Selasa (23/10) di Balai Penyuluh Pertanian Magepanda. Saat itu, dua staf dari Dinas Pertanian menginformasikan bahwa bendahara kelompok boleh ada dua. Dan kalau terlalu menuntut maka pada kesempatan mendatang bantuan untuk kelompok tani di Magepanda bisa dihentikan.

“Jawaban ini menurut kami sebagai petani sangat mengecewakan. Kami butuh penejelasan yang jujur juga transparan. Kami merasa sangat kecewa dengan jawaban orang dinas seperti ini. Tidak usah terima bantuan juga baik daripada begini” kata Maria.

Senada dengan Maria Fatima dan Theresia Gonci, Agustina Ema dan Eroswita Nona, anggota kelompok tani Gaging Gatang dan Kembang Done juga mengaku kecewa dengan ketua kelompok tani dan pegawai dari Dinas Pertanian.

“Kami ini tidak tuntut harus kasih kami uang tapi yang paling penting adalah keterbukaan. Katanya mau sejahterakan petani kok bantuan untuk kelompok tani saja hanya orang dinas dan ketua kelompok tani yang tahu,” demikian kata Eroswita Nona.

Hingga berita ini diturunkan ketua kelompok tani dan Dinas Pertanian Sikka belum berhasil dikonfirmasi.

VoxNtt.com akan menurunkan tanggapannya setelah berhasil mendapatkan konfirmasi.

Penulis: Hengky Ola Sura

Sikka
Previous ArticleMengenal Nelayan Lamawohong (Solor-Flotim) dalam Narasi “Lian Tena”
Next Article Terkait Krisis Air Bersih, Bupati Belu Disebut Penipu dan Mulut Manis

Related Posts

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.