Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Gadis di Bawah Lembayung Senja
Sastra

Gadis di Bawah Lembayung Senja

By Redaksi7 April 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Fenofa28.wordpress)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*)Puisi-Puisi Melki Deni

Gadis di Bawah Lembayung Senja

Rindu bukanlah barang yang bisa dibon,

dilunasinya segera seusai menabrak kesadaran sanubari.

Rindu jangan sesekali disangkal,

sebab rindu yang disangkal adalah sebuah usaha pemingsanan kesayangan.

 

Seorang gadis mengeram rindu di bawah lembayung senja,

Dirindunya ibu yang ditikam ayah pada minggu pagi di tempat tidur.

Di jantungnya terdengar litani merdu ibu di tengah afiona buana,

menyucikan keheningan rindu yang kian menderu.

 

Rindu bukanlah rasa yang bisa ditimbang,

diukurnya segera seusai merobohkan tembok waktu.

Rindu jangan sesekali dicuek,

sebab rindu yang dicuek adalah sebuah usaha pemblokadean perasaan.

 

Seorang gadis menghujani rindu di bawah lembayung senja,

dibasainya hidup yang digersang ayah pada minggu pagi di tempat tidur.

Di tempurung kepalanya terbit silau cahaya ibu yang malang,

munguduskan kebisuan rindu yang kian mengekang.

Kapan Engkau Kembali?

Engkau terlalu lama di sana,

Meninggalkan kecintaan tiada luntur di sini.

Mengapa engkau rela pergi?

“Aku hanya mau jeda sebentar saja. “

 

Engkau terlalu betah di sana,

Merahasiakan kepergian tiada secarik kertas di sini.

Mengapa engkau lama di sana?

“Katarsis  dan mendengar firman. Suatu saat nanti,

aku merantau ke tanah lain. “

 

Engkau terlalu kerasan di sana,

Mengubur separuh nafas tiada bekas di sana.

Untuk apa engkau datang kembali?

“Mewartakan bahwa mati sangat nikmat. “

 

Engkau tidak mau lama-lama di sini,

Mencuri perhatian dunia tiada segan di sana.

Kapan engkau kembali?

“Setelah koruptor dan teroris bosan di dunia!”

*Melki Deni, Mahasiswa Semester II STFK Ledalero Maumere.

Previous ArticleBreaking News: Gempa Bumi 5,2 SR Guncang Malaka
Next Article Sambut Paskah, OMK Aeramo Gelar Turnamen Sepak Bola

Related Posts

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026

Pilu yang Tidak Pernah Sembuh

3 Februari 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.