Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Puisi: Mencari Sajak yang Hilang
Sastra

Puisi: Mencari Sajak yang Hilang

By Redaksi19 Mei 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: rec.or.id)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*)Puisi-puisi Hendrikus Ola Peduli

Doa

Dalam suatu  sunyi yang sangat

Cicak – cicak di dinding pun enggan bersuara

Burung – burung penghuni Rumah itu juga enggan bernyanyi ramai

Mungkin lelah

 

Seorang anak laki – laki

Tak ber-bapak

Tak ber-ibu

Terdiam dalam hening

Di sebuah kursi panjang

dalam  sebuah Rumah tua

 

Dalam hening yang tak besuara

Anak itu  berlutut

Menatap Khalik dengan penuh arti

Berbisik dalam sukma

Memohon dengan harapan yang paling tajam

Setajam sembilu

Kiranya Yang Empuhnya Hidup melindungi

Mereka yang telah melahirkanya.

Kupang, 2019

Mendung dan Niat

Hari ini berbeda dengan hari lain

Awan begitu berat

Seperti aka akan hujan

 

Bulatkan niat untuk tetap bertualang

bersama payung merah yang kokoh pemberian ibu

sekokoh semangat

untuk tetap betualang di dunia ilmu.

Adonara, 2016

Perihal Pisah

Waktu itu, aku seperti gila

Aku berteriak

Mendengar retakan cermin

Yang seperti dilempar keras pada dinding

Kata pisah dan sumpah serapa sungguh menyayat kalbuku

Aku terisak, terduduk mengigit keras lututku

di sebuah ruang penuh gaduh.

Kala itu, sudah kuduga dengan hati peri

aku akan kehilangan bahagia.

//

Waktu itu, Aku seperti orang gila

Berlari ketika dipandang orang

Lantaran maluku yang teramat sangat

Perihal cermin yang pagi itu terbingkai rapi dengan janji yang teramat suci

Kini hancur berkeping keping, terpisah

Lantaran amarah dan ego

//

Aku terusir

Aku terombang ambing

Bagai kapal tak bernahkoda

Terombang ambing diterpa badai di laut lepas

Tak tau entah kemana, aku hilang arah

Aku murka, aku gelisa, aku hilang harap

Aku sendiri, aku memilih sajak – sajak sepi sebagai karib hidupku hingga kini

Mungkin sampai terus

Kupang, 15 Mei 2019

Mencari Sajaku yang Hilang

Di pagi yang damai ini

Aku pergi lagi

Berbeda dengan pagi yang lain

Pagi ini, aku pergi

Berbekalkan setangkai pena dan sehelai kertas lusuh yang kudapat kemarin di got

 

Di bawah naungan cakrawala pagi yang damai

Aku berjalan dan mencari sepotong sajak yang hilang di pagi lain

Aku berjalan, aku mengais, aku meraba

Berangan kembali kudapati sepotong sajakku yang telah hilang

Di kalah itu

Kupang, 17 Mey 2019

*Hendrikus Arianto Ola Peduli adalah alumni Seminari San Dominggo Hokeng, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Nusa Cendana

Previous ArticleBocah 2 Tahun di Lamba Leda Matim Tewas Tenggelam di Laut
Next Article Puisi: Wanita Online

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.