Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Puisi-puisi Paul Ama Tukan
Sastra

Puisi-puisi Paul Ama Tukan

By Redaksi22 Juni 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Istimewa)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mimbar

Setiap pagi-pagi buta

Sepenggal nada berdiri paling depan

Dari balik mimbar

Lilin masih kerlip

Mada dan ekaristi

Tak ada yang sia-sia setelah itu

Sebab pagi masih begini panjang..

Nenuk, 2018

Isyarat

(I)

Di beranda yang tuli

Berpuluh-puluh kenangan entah berapa

Suara yang lamat-lamat

Desahan yang menggamit meluluh

Segalanya penuh barangkali.

 

Di hamparan yang buta

Kita saja yang menyernyit

Entah apa?

Entah mengapa?

Sebab hanya isyarat yang mengamini

(II)

Di beranda yang hampa.

Segalanya menjelma sia-sia

Ada tanda tanya yang menganga menunggu jawaban

Menyaksikan isyarat yang selalu ikhtiar

Dari jarak terbilang jauh

Rowidho, Juli 2016

Sujumput Asa yang Letih

Sejumput asa letih di jarak nan jauh

Saat kau membubuhkan tangis pada dalamnya mimpi

Kalau kau berani menggugat mimpi

Sebagian hal menjelma rencana, bukan?

Walau langkah yang telah tergores putus asa

Perjuangan yang nyaris purna,

Kiranya  sejumput asa yang rampung sudah menunggu tuannya datang

Asalkan kau tidak bertengkar dengan waktu.

Kolisagu, Agustus 2017

Salem

Aku selalu ingat setiap bait yang engkau hembuskan dari atas jauh dan sulit kugapai

kemarau meranggas di hatiku menjadi gersang

retak

sampai meninggalkan sembilu

membuat resah paling menyayat

penuh gemuruh

aku selalu ingat setiap baris bait

yang sengaja engkau bubuhkan di helai-helai gelisahku

sehingga membuatku tak rubuh

kata-kata melayang di udara

sedang aku bersemedi dengan secercah harapan penuh damba

datanglah kepadaku, sebelum aku menjadi daging yang rapuh dan melekat di jiwa

sampai letih

datanglah engkau dan teriakanlah pekik smangat

sampai hari-hariku tak terlambat

Nenuk, Januari 2018

*Paul Ama Tukan, lahir di Waiwerang-Adonara 7 Mei 1998.  Alumni Seminari BSB Maumere. Bergiat di Komunitas Sastra Kotak Sampah, Novisiat SVD St.Yosef  Nenuk-Atambua.

Previous ArticlePolres TTU Buru Terduga Penganiaya
Next Article Cegah Penyebaran DBD, Warga Desa Natute Gelar Bersih Lingkungan

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.