Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Sampah di Kali Wae Bobo Didominasi Pembalut, Ketua PWMT: Air Ini Juga untuk Diminum
NTT NEWS

Sampah di Kali Wae Bobo Didominasi Pembalut, Ketua PWMT: Air Ini Juga untuk Diminum

By Redaksi21 Juli 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Anggota PWMT tengah pungut sampah di kali Wae Bobo. (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT-Sampah di Kali Wae Bobo, Kelurahan Kota Ndora, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) didominasi pembalut.

Hal itu diketahui, ketika 10 awak media dari Persatuan Wartawan Manggarai Timur (PWMT) melakukan pemungutan sampah di kali itu, Jumat (19/07/2019).

Pantauan VoxNtt.com, selain didominasi pembalut, sampah yang diangkut itu berupa plastik, kaleng, dan bangkai hewan.

Ketua PWMT Albert Harianto mengatakan, kegiatan itu merupakan salah satu bentuk kepedulian para jurnalis Matim, untuk menjaga kebersihan.

“Ini yang juga perlu kita lakukan, kita harus mampu bekontribusi untuk daerah ini. Sehingga ke depan daerah ini tampak bersih, indah, udaranya sejuk dan orang bisa senang berada di Matim,” ucapnya.

Dikatakannya, keberadaan air kali Wae Bobo sangat membantu sebagian besar masyarakat di wilayah itu.

Sampah di kali Wae Bobo. (Foto: Sandy Hayon/Vox NTT)

“Air kali Wae Bobo bagi masyarakat tidak hanya dimanfaatkan untuk mandi dan cuci tetapi untuk diminum. Ada juga mobil tangki yang ambil di sini untuk dijual,” ucap pria yang kerap disapa Alber itu, di sela-sela kegiatan pungut sampah.

Hampir Satu Ton

Wartawan media cetak Harian Florespos itu menjelaskan, sampah di kali Wae Bobo tidak hanya berpengaruh pada keberadaan biota air, tetapi juga kesehatan para pemanfaat air.

“Sampah yang kita kumpul ada lebih dari 10 karung mungkin hampir 1 ton dan kebanyakan pembalut makanya berat. Ini yang mesti kita buka mata, masyarakat dan pemerintah harus cepat menanggapi persoalan ini,”  ucapnya.

Lanjut Albert, kecepatan dan ketepatan untuk menanggapi persoalan sampah sangat diperlukan agar tidak menimbulkan sesuatu yang merugikan di masa yang akan datang.

“Nanti kalau tidak kita perhatikan risikonya juga ada di kita kan?” imbuhnya.

Menurutnya, Wae Bobo merupakan salah satu pilihan alternatif ketika BLUD SPAM Matim hingga saat saat ini belum mampu menjamin pasokan air minum bersih bagi masyarakat di wilayah itu.

“Ini salah satu pilihan apalagi masyarakat kita banyak yang belum menikmati air minum bersih,” tukasnya.

Dia berharap masyarakat bisa menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah di bantaran air kali Wae Bobo.

Borong Harus Tampil Beda

Selain Albert, wartawan media online posflores.com, Yon Sahaja turut menyoroti keberadaan sampah di kali Wae Bobo.

Menurutnya, sampah di kali itu akan sangat memengaruhi keindahan Borong sebagai ibu kota Matim.

“Setiap orang yang melintasi jalan lintas Flores pasti akan melewati jembatan kali Wae Bobo. Mereka melihat dan bisa memberikan penilaian kepada daerah kita. Kalau kesan mereka tentang wilayah kita kotor pasti itu yang akan mereka sampaikan ke orang lain,” ucapnya.

Lanjut pria dua anak itu, semestinya Borong sebagai ibu kota harus tampil beda dengan wilayah lain yang ada di Matim.

Apalagi kata dia, Borong tidak hanya pusat ekonomi tetapi juga pusat pemerintahan.

“Ini kan akses dari instansi terkait lebih dekat. Masa yang dekat tidak bisa urus apalagi yang jauh,” tukasnya.

Terpantau, sampah yang sudah dikumpulkan itu sudah dibuang di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang berada di samping kantor camat Borong.

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba

Baca Juga: Ruteng, Sampah dan Deno Kamelus

Manggarai Timur
Previous ArticleDana Desa Terus Bergulir, Pemprov NTT Sebut Angka Kemiskinan di Ende Justru Naik
Next Article Di Tengah Gempuran Dana ke Desa, Mengapa Anas Undik Tetap Miskin?

Related Posts

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.