Gubernur NTT,Victor Laidkodat berpose bersama para Uskup dan Wakil Bupati Belu,Usai kegiatan di Hotel Matahari Atambua. (Foto: Marcel/Vox NTT).
alterntif text

Atambua,Vox NTT-Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Gereja Katolik wilayah Keuskupan se-Nusa Tenggara berkomitmen memerangi kemiskinan, termasuk masalah tenaga kerja migran dan perdagangan orang yang masih meenjadi persoalan pelik masyarakat NTT.

Komitmen ini disampaikan Gubernur NTT, Vicktor Laiskodat di hadapan para Uskup pada kegiatan Pertemuan Pastoral ke XI Uskup wilayah Bali-Nusa Tenggara yang dilangsungkan di Atambua, (22-27/07/2019).

Vicktor mengatakan, persoalan mendasar dari kemiskinan karena tidak ada upaya berbuat sesuatu, sementara alam NTT memiliki sumber daya alam melimpah luar biasa.

Kemiskinan memicu tingginya angka pekerja migran dan perantau asal NTT. Pemerintah bersama Gereja harus bekerja keras dan bersinergi menuntaskan persoalan migran dan perantau melalui pemberdayaan ekonomi berkelanjutan.

Dalam hal ini lanjut Gubernur, Gereja harus kreatif dan inovatif melakukan pemberdayaan ekonomi umat, dengan memanfaatkan semua potensi sumber daya manusia yang berkualitas untuk mengelola semua kekayaan alam, sehingga perekonomian masyarakat bertumbuh dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat NTT.

Lanjut Viktor, pihaknya sangat mendukung penuh upaya Gereja dalam memperkuat kelembagaan sehingga dapat memerangi persoalan buruh migran dan perantau di NTT.

Ia menjelaskan, saat ini Pemerintah Provinsi dengan tegas melarang orang  untuk tidak berangkat ke luar NTT guna mencari pekerjaan. Namun demikian, ia meminta agar peran Gereja secara kelembagaan perlu melakukan pemberdayaan ekonomi yang mampu merubah pola pikir masyarakat agar enggan bekerja di luar negeri dengan cara-cara ilegal.

“Gereja mengambil peran besar melakukan pemberdayaan umat dengan membentuk kelompok binaan dalam bidang pertanian, peternakan, perikanan, pariwisata, dan kewirausahaan lainnya dan kami akan memberikan dukungan penuh melalui keberpihakan anggaran agar kelompok binaan dapat berkembang dan mandiri secara ekonomi,” ujar Gubernur di hadapan para uskup serta ratusan imam di Hotel Matahari, Atambua, Rabu (24/07/2019).

Terpisah, Uskup Atambua, Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr mengatakan, pertemuan pastoral XI Regio Nusra mengangkat tema: “Gereja Nusra Peduli Migran dan Perantau” menjadi tanggung jawab bersama Pemerintah, Gereja dan masyarakat sesuai dengan tupoksinya.

Selain Gubernur NTT, hadir pula Wakil Bupati Belu, JT Ose Luan, beserta rombongan yang bertatap muka bersama para Uskup dan perwakilan semua Keuskupan Regio Nusra.

Para Uskup yang hadir dalam Pertemuan Pastoral se-Bali Nusra adalah Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, Uskup Weetabula Mgr. Edmund Woga, CSsR, Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius S. Poto Kota, Uskup Maumere, Mgr.Edwaldus M.Sedu, Keuskupan Ruteng, RD. Alfons Segar, Uskup Larantuka, Mgr.Frans Kopong Kung, Uskup Denpasar, Mgr. Silvester San, serta Uskup Atambua, Mgr.Dr.Dominikus Saku, Pr.

Penulis: Marcel Manek

Editor: Boni J