Hendrikus Seni, keluarga dari korban Anselmus Wora memberi keterangan kepada wartawan di Mapolres Ende (Foto: Ian Bala/Vox NTT)
alterntif text

Ende, Vox NTT-Keluarga almarhum Anselmus Wora (45) mendatangi Mapolres Ende, Flores, NTT pada Senin (04/11/2019) sekitar Pukul 10.30 Wita.

Kedatangan keluarga untuk menanyakan perkembangan penyelidikan kasus kematian Anselmus yang ditangani oleh Penyidik Polres Ende.

Keluarga meminta Polisi untuk mengusut tuntas kasus kematian Anselmus di Pulau Ende pada Kamis pekan lalu.

“Kedatangan kami disini untuk mendukung polisi mengusut kasus yang menimpa keluarga kami. Karena, menurut kami keluarga, kematian Ansel tidak wajar,” ungkap Hendrikus Seni di Halaman Mapolres Ende pada Senin siang.

Kakak dari korban ini menuturkan, pihak keluarga menemukan sejumlah fakta setelah korban meninggal dunia. Misalnya, terdapat luka dan darah pada bagian kepala korban.

“Kami menemukan fakta, adanya kejanggalan, ada ketidakwajaran terhadap korban Ansel ini karena di bagian kepala terutama di ubun-ubun ada luka dan ada keluarnya darah dan kepalanya lembek. Menurut kami kematian ini tidak wajar. Kalaupun wajar kami tidak mungkin akan datang ke sini (Mapolres, red),” tutur Hendrikus.

Untuk itu, ia meminta pihak Kepolisian mengusut dan membuka kasus ini secara adil dan terbuka.

Hal serupa diungkapkan Yohanes B.K. Hami, salah seorang keluarga yang juga datang ke Mapolres Ende. Ia meminta polisi mengusut kasus kematian Anselmus dan diproses secara adil.

Sebab menurut dia, ada sejumlah kejanggalan yang ditemukan keluarga diluar dari kewajaran. Keluarga menduga korban dibunuh secara terencana.

“Kejanggalan yang ditemukan keluarga bahwa pertama adalah almarhum tidak mengidap penyakit dalam lainnya. Kemudian, ditemukan luka yang panjang di ubun-ubun dan hampir sepertiga bagian kepala lembek seperti asumsi kami bahwa itu dipukul dengan benda tumpul yang keras,” ungkap dia.

Yohanes maupun Hendrikus menceritakan bahwa korban ke Pulau Ende pada hari Kamis 31 Oktober 2019. Korban diminta dua rekannya untuk memperbaiki mobil DAK disana yang kondisi rusak.

Keluarga sendiri baru mengetahui Anselmus meninggal dunia setelah jasad korban disemayamkan di ruang jenazah RSUD Ende pada Jumat dini hari.

Keluarga pun mendatangi ruang jenazah dan melihat kondisi korban yang mengalami luka dan mengeluarkan darah pada bagian kepala. Keluarga menilai kematian Anselmus sudah terencana dan dianggap tidak wajar.

“Terakhir kami dari keluarga berterima kasih kepada Kepolisian yang sudah menyatakan untuk mengusut secara adil. Kami berharap agar masalah ini dibuka ke publik dan diproses secara adil,” tutur Yohanes.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Ende AKP Laurensius mengatakan kasus ini sedang ditangani Penyidik Polres Ende.

Penyidik, kata dia, telah menggelar olah tempat kejadian perkara (TKP) serta melaksanakan pra rekonstruksi dan mengamankan barang bukti serta memeriksa para saksi.

“Belum bisa disimpulkan karena untuk kasus ini sementara proses penyelidikan. Ada 11 saksi yang diperiksa,” katanya kepada wartawan di ruang kerjanya.

Kasat Laurensius menerangkan, berdasarkan laporan bahwa ada penemuan mayat di kawasan tambatan perahu di Ekoreko, Desa Rorurangga, Kecamatan Pulau Ende.

Korban adalah pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Dinas Perhubungan Kabupaten Ende.

Atas masalah itu, kata Kasat Laurensius, pihaknya akan terus mengutus untuk diketahui penyebab kematian.

Penulis: Ian Bala
Editor: Ardy Abba

alterntif text