Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Wacana Presiden Dipilih MPR, BKH: Kelompok Tertentu Ingin Kembali ke Orla dan Orba
NTT NEWS

Wacana Presiden Dipilih MPR, BKH: Kelompok Tertentu Ingin Kembali ke Orla dan Orba

By Redaksi4 Desember 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Labuan Bajo, Vox NTT- Pro dan kontra soal Pemilu Tidak Langsung belakangan ini sedang ramai dibicarakan.

Lagi-lagi ketua Fraksi Partai Demokrat MPR RI, Benny K. Harman (BKH) mengomentari hal tersebut. BKH menegaskan Demokrat tetap menolak pemilu tidak langsung.

“Upaya kembalikan Pilpres oleh MPR datang dari kelompok politik tertentu yang ingin hidupkan kembali demokrasi terpimpin era Orde Lama dan otoriter era Orde Baru. Saya tegaskan Demokrat menolak itu,” ungkap BKH ketika melakukan sosialisasi empat pilar kebangsaan dengan ratusan masyarakat Labuan Bajo di Resto SaySe’i, Selasa (03/12/2019).

Demokrat kata BKH, akan terus menolak wacana pemilihan Presiden yang dipilih langsung oleh MPR. Begitupun Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota oleh DPRD.

“Pemilihan tidak langsung merupakan bentuk kemuduran demokrasi,” jelasnya.

Demokrasi, lanjut BKH, menjamin hak-hak kedaulatan rakyat. Hak-hak tersebut telah diakui dan dijamin konstitusi. Justru negara punya kewajiban untuk melindungi dan memenuhinya, bukan merampasnya dari rakyat.

Selain itu, eks ketua komisi III DPR RI ini menegaskan, Indonesia sudah sering kali melakukan pergantian sistem sejak Republik ini didirikan. Pergantian sistem tanpa diikuti pembenahan dan mitigasi, hanya akan membuang energi bangsa.

BKH memang mengakui bahwa penyelenggaraan pemilihan presiden (Pilpres) secara langsung dapat memecah belah masyarakat. Namun, alasan tersebut bukan menjadi dasar mekanisme pemilihan presiden kembali diubah ke cara lama.

“Mitigasinya yang harus kita siapkan, bukan dengan kembali ke sistem yang lama,” katanya.

“Kalau alasannya banyak yang melakukan money politik, kita ubah sistem pengawasannya. Bukan Demokrasi kita,” tambah BKH.

Penulis: Sello Jome

Editor: Irvan K

Benny K Harman
Previous ArticleNTT Harus Keluar dari Zona Nyaman Kemiskinan
Next Article Bawaslu Malaka Perpanjang Waktu Pendaftaran Panwascam Pilkada 2020

Related Posts

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Pemprov NTT Harus Lobi Pemerintah Pusat soal Nasib 9.000 PPPK

5 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.