Fransiskus Sabar
alterntif text

Oleh: Fransiskus Sabar*

(Mahasiswa STFK Ledalero, Tinggal Di Ritapiret)

Dalam lanskap hidup bersama, harus diakui bahwa hanya segelintir  orang yang berminat mengulas, menguraikan dan bahkan menganalisis tema tentang perasaan “dendam”. Padahal, jika mau jujur, perasaan dendam justru yang  paling banyak dan dominan muncul dalam kehidupan bersama.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefenisikan “dendam” dengan berkeinginan keras untuk membalas (kejahatan dan sebagainya). Definisi ini memperlihatkan bahwa makna kata dendam ini sebenarnya condong dan mengarah ke kutub negatif.  Ia adalah kulminasi dari unsur-unsur destruktif yang menubuh menjadi suatu monster yang siap memberontak dengan penuh bara dan amarah yang menggelegar.

Oleh sebab itu, hanya sedikit orang yang berminat untuk menarasikan makna dendam ini, apalagi membicarakannya di momen pergantian tahun dan di awal tahun baru 2020 ini. 

Pada momen pergantian tahun dan di tahun yang baru  semua orang sibuk membicarakan masa depan yang gilang-gemilang, melayangkan doa dan asa yang sesukses-suksesnya dan mengimpikan suatu perjalanan hidup yang aman dan makmur. Dan juga, semua orang hanyut dengan formulasi resolusi yang futuristik, optimistik dan berorientasi pada kesuksesan hidup. 

Sebab itu, mencantumkan kata dendam pada judul tulisan di momen awal tahun  lebih mudah dipahami sebagai narasi gila, ketidakwarasan, kemuduran cara pikir, dan kepesimisan yang dini. Tetapi benarkah demikian? Ini pertanyaan penting dan substansial, karena itu singkirkan sikap dan nalar kecerobohan untuk memjawabinya. 

Melihat realitas secara jernih adalah suatu langkah yang bijak dan rasional untuk menjawabi pertanyaan di atas. Menyetir Vladimir Nabokov, pengarang Rusia-Amerika yang selalu memberi tanda kutip tentang “realitas” karena menurutnya realitas dalam sejarah mempunyai dua varian besar, pertama ia seperti cermin yang memantulkan secara jujur dan lurus tentang apa yang terjadi dan kedua ia seperti prisma sebagai sesuatu yang berubah sesuai dengan nalar perspektif tertentu. 

Dengan demikian, menjawabi pertanyaan di atas, saya lebih memilih opsi yang pertama, yakni melihat  dendam dalam pantulan cermin realitas yang sejujur-jujurnya dan selurus-lurusnya. Karena itu, kita bisa menepis jawaban sepihak nan ceroboh dan bisa membuktikan kegilaan, ketidakwarasan dan kepesimisan yang sebenarnya. 

Dari realitas, ada banyak sikap, kata dan kalimat bernada dendam yang berseliweran dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam dunia nyata maupun dunia maya yang tersebar melalui media sosial. Di dunia internasional, penyerangan terhadap Komandan Pasukan Elit Quds dan Pengawal Revolusi Islam IRGC, Qasem Soleimani, yang lahir dari keputusan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump melahirkan kecaman dan gelombang balas dendam yang membara dari pihak Iran.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengancam akan melakukan ‘balas dendam’ terhadap ‘para penjahat yang telah membunuh Soleimani’ (Media Indonesia, 04/01/2020). Atau di media lain diberitakan bahwa Menteri Pertahanan Amir Hatami yang juga merupakan komandan pasukan Quds berjanji bahwa pembalasan yang dilakukan nantinya akan mengerikan (Kompas.com, 04/01/2020).

Sedangkan dalam kancah nasional, kita masih dijejal dan diterjang oleh sisa-sisa borok politik tahun lama yang diwarnai oleh isu identitas, kekerasan dan kebencian, tahun penuh gejolak, hoaks dan propaganda destruktif silang menyilang di ruang publik, pelanggaran HAM terjadi dimana-mana baik yang dilakukan oleh pihak aparat maupun oleh kelompok radikal, dll, yang menyisahkan dendam di awal tahun dan menjadi PR bagi bangsa ini.

Rentetan persoalan dalam negeri  yang terjadi di tahun 2019 lalu dapat menjadi batu loncatan yang mengakumulasi  dendam baik antar warga negara, masyarakat sipil dengan pihak aparat keamanan (polisi), rakyat dengan pemerintah maupun polarisasi kutub lainnya yang berpotensi memecahbelah bangsa. Ingat, dendam yang dipendam suatu saat akan membengkak dan meledak kapan dan dimana saja, tanpa melihat tahun lama dan tahun yang baru yang terjadi baik di dunia internasional maupun nasional.

Persoalan di atas juga menunjukkan bahwa gelora dendam di awal tahun telah sampai pada titik didih, yang mengajak kita untuk lebih berpikir realistis dan kritis dalam kehidupan bersama. Kita diperigatkan untuk tidak berpikir ideal bombastis dengan mimpi-mimpi kita, dengan resolusi kosong minus tindakan nyata.

Dengan demikian, berbicara tentang dendam di awal tahun bukanlah suatu ide kegilaan, ketidakwarasan dan kepesimisan, tetapi  justru sebaliknya menjadi cermin bagi kita untuk berkaca ke dalam diri sendiri, mengoreksi diri dan mewujudkan segala mimpi, doa dan resolusi secara realitis. Dendam, kemandekkan politik dan kemacetan peradaban justru muncul dari idealisme bombastis kita yang lupa turun dan praktekkan di bumi. 

Seperti Dendam, Kejahatan Harus Dibayar Tuntas

Tidak seperti judul novel Eka Kurniawan yang berjudul “seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”,  tulisan ini melihat secara komprehensif dimensi kehidupan manusia mulai dari masalah ketidakadilan sosial, pelanggaran HAM, diskriminasi, korupsi dan pelecehan seksual yang terjadi. Seperti dendam, rentetan kejahatan harus dibayar tuntas, ketidakadilan, kekerasan, pelanggaran HAM, dan koruptor yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu harus dibayar tuntas. Pelanggaran HAM masa lampau harus diusut tuntas, pelaku korupsi harus dihukum secara serius, dan pelaku pelecehan seksual harus dituntut berdasarkan hukum yang berlaku. 

Gerakan sosial yang masif oleh mahasiswa di tahun 2019 lalu harus dilihat sebagai awal yang baik untuk menuntut kejahatan yang harus dibayar tuntas. Konsolidasi politik antar organisasi swasta, lintas stakeholder, dan kerjasama di kalangan elit politik  harus diperkokoh. Buang jauh ego, ketamakan, kalkulasi yang berorietasi pada keuntungan yang kemudian berujung pada takhta oligark. Singkirkan gengsi politik yang berdampak pada kesengsaraan rakyat seperti korban banjir yang melanda daerah Ibukota dan sekitarnya. Seperti dendam, kejahatan harus dibayar tuntas.

Sampai pada aras ini, sekiranya kita bisa menerima dengan akal sehat pembicaraan tentang dendam di awal tahun. Sembari kita terus bermimpi, bercita-cita, berdoa, dan beresolusi tentang kisah sukses di tahun yang baru ini.