Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Video Editorial: Mengapa Mereka Rela Telanjang di Hadapan Khalayak?
NTT NEWS

Video Editorial: Mengapa Mereka Rela Telanjang di Hadapan Khalayak?

By Redaksi24 Mei 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

 Mengapa Para Ibu Rela Menelanjangi Diri?

Jawaban pertanyaan ini hanya dapat ditelusuri melalui sejarah dan nilai-nilai yang melekat dalam masyarakat Besipae.

Persoalan tanah dan hutan adat di Besipae memang sudah berlangsung lama. Bagi mereka, sejarah adalah jalan terjal yang amat melelahkan. Persoalan tanah dan hutan ini sudah berlangsung sejak zaman Belanda. Sejak itu pula mereka hidup dalam ketidakpastian akibat ‘pemaksaan’ negara  menulis ulang sejarah atas nama pembangunan. Alhasil, tekanan, pemaksaan bahkan intimidasi terus dirasakan warga setempat hingga era pasca reformasi ini.

Mereka terus berjuang agar selalu hidup bersama hutan tanpa proyek pembangunan yang merusak alam. Bagi mereka, tanah dan hutan yang diwariskan secara turun temurun ibarat ibu yang melahirkan kehidupan. Dari sana mereka bisa mendapatkan air, udara, madu, dan makanan untuk menyambung hidup.

Karena itu, aksi telanjang yang dilakukan para ibu di hadapan Gubernur NTT pada Selasa (12/05/2020) lalu, tidak bisa dibaca terpisah dari rentangan sejarah perjuangan yang telah lama larut bersama waktu.

Menelanjangi diri memiliki berarti para ibu rela mengorbankan ‘kehormatan mereka’ demi tanah sebagai sumber kehidupan. Berangkat dari kesadaran tersebut, segala upaya dan sumber daya telah mereka usahakan. Waktu, materi dan tenaga telah habis  terkuras. Kehormatan pun menjadi salah satu aset terakhir yang dipertaruhkan demi hidup. Untuk itulah mereka rela telanjang dada di hadapan Gubernur.

Para ibu dan masyarakat Besipae, ingin menyampaikan pesan bahwa kata-kata sudah habis untuk bersuara, tubuh telah lelah melangkah dalam jalan terjal perjuangan. Maka ketika ibu-ibu Besipae mengobralkan kehormatan di hadapan khalayak, itu berarti perjuangan mereka adalah pertaruhan hidup. Ya, tanpa tanah dan hutan mereka sadar, mereka akan musnah.

Bagi masyarakat Besipae, alam (hutan adat) adalah kesatuan hidup yang tidak bisa terpisahkan satu sama lain, jika satu bagian dihancurkan maka mempengaruhi bagian yang lainnya. Sebab air bagi mereka adalah darah, tanah adalah daging, batu adalah tulang dan hutan adalah rambut.

Kita berharap, kehadiran Gubernur NTT, Viktor Laiskodat beberapa waktu lalu dapat mengakhiri penderitaan mereka. Semoga pemerintah juga sadar bahwa membangun NTT tak harus mendatangkan investor besar yang datang mengeruk tanah kita, lalu pergi meninggalkan kematian peradaban. NTT bisa dibangun dari apa yang ada, dari kekuatan masyarakat sendiri sebagai motor penggeraknya.

Selama ini pembangunan kita hanya bergantung pada modal finansial belaka. Uang adalah segalanya. Investor dipuja-puja bahkan disembah layaknya Tuhan di Bumi. Kita lupa bahwa selain modal finansial ada modal sosial (social capital) yang telah lama melekat dalam masyarakat sebagai subyek pembangunan itu sendiri.

Membangun dengan modal sosial berarti mengarusutamakan masyarakat beserta kebudayaannya dalam proses pembangunan. Pembangunan tidak boleh melenyapkan masyarakat dan budayanya, apalagi menghancurkan alam yang menjadi unsur terpenting dalam kebudayaan manusia.

Aksi telanjang di Besipae juga memberi pesan kepada pemerintah untuk mereformulasikan ulang konsep pembangunan yang tidak mencaplok hak-hak masyarakat adat. Pemerintah mesti sadar bahwa strategi pembangunan yang seragam di tengah keberagaman budaya dan ketimpangan ekonomi, justru akan melahirkan ketidakadilan.

Bagi komunitas atau kelompok tertentu, pembangunan memang mendatangkan kekayaan dan kesejahteraan. Namun bagi banyak komunitas lain, pembangunan tidak saja gagal memenuhi janji kesejahteraan, tetapi juga membawa ancaman keberlanjutan hidup, rusaknya alam, dan budaya mereka.

Aksi telanjang di Besipae juga melahirkan refleksi kritis yang harus segera dijawab, apakah benar pembangunan yang berbasis modal finansial itu, menjadi obat mujarab untuk mengakhiri kemiskinan? Jangan-jangan pembangunan itu justru menjadi penyebab kemiskinan oleh relasi kuasa penguasa dan pemodal.

 

Konflik Pabubu-Besipae
Previous ArticleCalo Veteran di Kabupaten Belu Resmi Diadukan ke Polda NTT
Next Article Kades Meleng Matim Ancam Lapor Penerima BLT ke Polisi

Related Posts

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Pemprov NTT Harus Lobi Pemerintah Pusat soal Nasib 9.000 PPPK

5 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.