Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Feature»Kisah Robi: Pemuda Rana Mese yang Dipasung di Gubuk Reyot, Tak Pernah Disentuh Pemerintah
Feature

Kisah Robi: Pemuda Rana Mese yang Dipasung di Gubuk Reyot, Tak Pernah Disentuh Pemerintah

By Redaksi2 Juni 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Robi dalam keadaan kaki terpasung. (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT-Sehelai kain putih yang kusam, kumat pula, membalut tubuhnya.

Ia tinggal di sebuah gubuk reyot, kotor, keropos dan nyaris roboh di samping rumahnya.

Tempat tidurnya beralaskan papan. Begitu pula dindingnya. Tapi sudah rusak dan berlubang. Lubang-lubang itu ditutupi dengan sehelai kain yang sudah usang. Gubuk itu beratap seng.

Kendati demikian, di tempat itu Robi menghabiskan waktu dalam keadaan tak berdaya. Makan, minum, berkhayal, buang air kecil, buang air besar, ia lewati.

Kakinya diapiti dua kayu balok besar. Sudah lima tahun lamanya ia menjalani kehidupan dalam keadaan terpasung.

Robi sudah berusia 30 tahun. Ia putra pertama dari pasangan Alosius Lumpur (53) dan Edeltrudis Adul umur (49).

Mereka tinggal di Kampung Maras Desa Golo Loni, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur (Matim)-Flores, Provinsi NTT.

Ia menderita skizofrenia.Penyakit ini muncul akibat adanya ketidakseimbangan kadar dopamin dan serotonin dalam otak.

Saat otak terganggu, berbagai gejala seperti delusi, halusinasi, cara bicara dan perilaku yang tidak teratur akan bermunculan.

Pernah Dirawat

Sejak umur 16 tahun, Robi merantau ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di kota yang dijuluki Seribu Sungai itu pun ia menghabiskan waktu dua tahun lamanya.

Namun, sepulang dari perantauan itu ia pun mulai mununjukkan gelagat yang aneh. Robi membuat keluarganya takut. Ia sering onar dan marah-marah.

“Memang dia tidak pukul atau ganggu tapi dia sering bating-banting di sini,” ucap sang ayah Alosius Lumpur saat ditemui VoxNtt.com, Senin (01/06/2020).

Luapan emosi Robi membuat keluarga pun mengambil sikap secara terpaksa. Ia harus dipasung. “Tidak ada pilihan lain waktu itu,” ucap sang ayah.

Pada tahun 2016 lalu, keluarga pun memutuskan untuk membawa Robi ke Panti Rehabilitasi Gangguan Jiwa Renceng Mose, salah satu fasilitas kesehatan yang ada di Ruteng, Kabupaten Manggarai. Panti ini didirikan oleh para bruder dari Kongregasi Karitas (FC).

Baca Juga: Ketulusan Ene Ester: 20 Tahun Merawat Putranya dalam Pasungan

Di sana ia dirawat. Robi pun sembuh, ia kembali ke kampung halaman. Bak angin segar bagi keluarga. Mereka senang dan bahagia melihat putranya sudah kembali.

Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Rupanya hanya seumur jagung. Robi kambuh dari sakitnya. Ia menatap keluarganya penuh kebencian. Ia kembali berulah. Entah apa alasannya.

Baca Juga: Anas Undik, Janda yang Bertahan Hidup di Tengah Gempuran Kemiskinan

“Waktu dirawat di Renceng Mose dia sehat tetapi kami tidak tahu kenapa disakit lagi. Terpksa kami pasung,” ucap Edeltrudis.

Saat itu keluarga ingin mengantar Robi kembali ke panti. Namun, lilitan ekonomi yang menghimpit kehidupan mereka, Robi pun harus kembali dipasung.

Gubuk tempat Robi dipasung. (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)

Apalagi ketiga anaknya tengah mengenyam pendidikan.

Suatu ketika kisah Edeltrudis, Robi pernah didatangi oleh seorang Pastor Namanya Aven Saur. Kala itu Pastor Aven memberikan penguatan juga obat untuk kesembuhan Robi. Namun, obatnya sudah habis.

“Kalau minum obat malam harinya aman. Sekarang dia (Robi) minta terus obat. Tetapi obatnya sudah habis,” tukasnya.

Tidak Pernah Disentuh Pemerintah

Semenjak 5 tahun dipasung Robi belum penah dikunjungi. Apalagi mendapat bantuan dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur.

Padahal sakit yang dideritanya sudah sangat lama. Ekonomi orangtuanya pun pas-pasan. Rumah mereka juga sudah reyot. Bedidinding gedek, beralaskan tanah.

Baca Juga: Hidup Sebatang Kara, Petronela Luput dari Perhatian Pemerintah

Walau demikian, Aloisius dan Edeltrudis sangat tabah. Mereka bertahan walau tanpa sentuhan. Mereka begitu tulus merawat sang buah hati, juga menyekolahkan anak-anaknya.

“Reweng dami, ho’o mose dami ro’eng agu anak daku (suara kami, beginilah kehidupan kami sebagai rakyat dan anak saya),” ucap Alosius dengan bahasa daerah Manggarai.

Di balik penderitaan itu. Pasutri ini pun berharap semoga mendapat perhatian dari pemerintah.

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba

KKI Manggarai Timur Matim
Previous ArticlePMKRI Ruteng dan AMM Sumbang 800 Masker untuk Masyarakat Mabar
Next Article Rusaki Posko Covid-19, Ketua BPD Olais TTS Dipolisikan

Related Posts

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026

Jalan Terbelah akibat Tanah Bergerak di Rana Poja Manggarai Timur, Warga Minta Pemerintah Atasi

2 Maret 2026

Viral Warga Meninggal saat Rujukan, Dinas PUPR Matim Akui Akses Jalan Rusak ke Puskesmas Belum Tertangani

27 Februari 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.