Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»VOX POPULI»MAHASISWA»Didemo Penolak Tambang, Pengamat: Gubernur Cenderung Ambil Langkah Aman
MAHASISWA

Didemo Penolak Tambang, Pengamat: Gubernur Cenderung Ambil Langkah Aman

By Redaksi25 Juni 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Aksi demonstrasi di jembatan Gongger, perbatasan Manggarai dan Manggarai Timur, Rabu (24/06/2020) (Foto: Ardy Abba/ Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Borong, Vox NTT-Pengamat sosial politik Universitas Nusa Cendana (Undana) Lasarus Jehamat menilai Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat cenderung mengambil langkah aman terkait aksi penolakan tambang dan pabrik semen oleh mahasiswa, Rabu (24/06/2020).

“Saya sih mau Gubernur bertemu massa tadi. Jauh lebih bijak kan? Toh dia bisa menjelaskan langsung ke massa kalau proses pembangunan pabrik akan dikaji,” ujar Jehamat saat dihubungi VoxNtt.com, Rabu malam.

Dosen sosiologi itu mengatakan mungkin karena pertimbangan aspek keamanan Gubernur Viktor enggan bertemu massa aksi.

“Tapi saya kira, terlalu berlebihan kalau takut,” ucapnya.

Menurutnya, Gubernur NTT sejatinya mendengarkan apa yang disampaikan Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat, Pr sehari sebelum dirinya berkunjung ke Reo dan beberapa wilayah yang ada di Kabupaten Manggarai Timur.

Baca: Tak Mau Temui Demonstran, Gubernur Viktor Dinilai Tidak Layak Jadi Pemimpin

Bahwa, terang Jehamat, masyarakat Matim lebih senang menerima pembangunan pertanian, perkebunan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia ketimbang pabrik semen.

Sebab, kata dia, pembangunan pabrik semen dan penambangan bantu gamping akan menjadi kontraproduktif kalau tidak didukung semua elemen.

“Saya hanya berharap, mereka yang ada di sekitar Gubernur memberikan masukan konstruktif seperti yang disampaikan banyak elemen yang menolak kehadiran tambang dan pabrik semen,” katanya.

Sebelumnya, dalam aksi itu Ketua PMKRI Ruteng Hendrikus Mandela menyatakan, mereka melakukan aksi di Reo di saat bersamaan dengan kunjungan kerja Gubernur Viktor di wilayah itu.

“Kami menuntut dan menagih janji-janji politik Gubernur. Satu misalnya, di NTT itu menurut dia tidak ada tambang lagi,” ujar Heri kepada VoxNtt.com di sela-sela aksi.

Sayangnya, tegas Heri, Gubernur Viktor malah mengingkari kembali janjinya dengan rencana melakukan penambangan batu gamping di Desa Satar Punda.

Tidak hanya itu, Heri menegaskan, Gubernur Viktor pernah menyatakan bahwa ada beberapa sektor yang layak dikembangkan di Provinsi NTT, yang memang bukan pertambangan. Itu seperti pertanian, peternakan, pariwisata dan lain-lain.

“Kenyataan hari ini kan sudah mulai berbeda. Nah, oleh karena itu kami berniat untuk bertemu dengan Gubernur NTT. Hanya sayangnya, beliau tidak mau bertemu dengan kami, padahal ini adalah niat mulai kami,” tegasnya.

Senada dengan Heri, Ketua GMNI Cabang Manggarai Rikardus Joman mengatakan, para aktivis sengaja melakukan aksi demonstrasi untuk mengingatkan kembali janji Gubernur, yang mana akan melakukan moratorium izin tambang di Provinsi NTT.

Baca: Demonstrasi Tolak Tambang di Reo Ricuh

Namun anehnya, menurut Riky, Gubernur Viktor malah memberi ‘karpet merah’ terhadap perusahaan tambang.

Ketua GMNI Cabang Manggarai, Rikardus Joman berhadapan dengan aparat keamanan saat demonstrasi di jembatan Gongger, Rabu (24/06/2020)

Sebab itu, ia mendesak Gubernur Viktor untuk tidak menerbitkan izin tambang batu gamping dan pabrik semen di Desa Satar Punda.

Sementara itu, Ketua Aliansi Gerakan Pemuda Reo Tolak Tambang Yohanes Febrino Maot dalam pernyataan sikapnya menolak industri pertambangan di Luwuk dan Lingko Lolok.

Alasannya, ia ingin menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan.

Febrino juga mendesak Gubernur Viktor agar memprioritaskan pembangunan pada bidang pertanian, peternakan, dan kelautan sebagai sektor strategis lingkungan Luwuk dan Lingko Lolok.

“Kami membela rakyat Luwuk dan Lingko Lolok yang terhimpit persoalan kesadaran hukum dan legalitas investor di atas tanah mereka,” tegasnya.

Pihak Febrino juga memperjuangkan kembali reklamasi lokasi pertambangan di Lingko Lolok dan Serise.

Penulis: Sandy Hayon
Editor: Ardy Abba

GMNI Manggarai Lasarus Jehamat Lingko Lolok Manggarai Timur Matim PMKRI Ruteng
Previous ArticlePospera Bangun Rumah Keluarga Mantan Pejuang ‘Merah Putih’ Timor Leste
Next Article Video: Gubernur NTT Diteriaki “Penipu dan Pengecut”, Ini Alasannya

Related Posts

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.