Bernadus Nuel (Foto: Sandy Hayon/ Vox NTT)
alterntif text

Borong, Vox NTT- Saverius Jena, mahasiswa asal Manggarai Timur di Jakarta tak menyangka jika kritikan yang ia lontarkan di media sosial malah dibalas dengan caci maki serta ancaman terhadap dirinya.

Makian dan ancaman tersebut justru datang dari wakil ketua DPRD Manggarai Timur, Bernadus Nuel.

Insiden ini bermula ketika dirinya menanyakan kehadiran bantuan dana untuk mahasiswa Manggarai Timur. Lantaran tak kunjung tiba, ia pun menduga dana tersebut berpotensi dikorupsi sehingga penting untuk dikontrol.

#TANYA PEMDA MATIM. Bantuan untuk mahasiswa di tengah pandemi covid -19 oleh pemda matim katanya penuh dengan syarat politik dan ada indikasi potensi dikorupsi ya kawan -kawan? Menurut informasi pemda Manggarai Timur kemarin sudah bantu Mahasiswa ya. Berdasarkan info yg saya dapat pemda matim menyiapakan anggaran miliaran Rupiah .Tapi anehnya sampai saat ini, kenapa ya masih banyak Mahasiwa matim yang belum dapat bantuan itu? Apakah ada pegawai pemda matim di group ini .Jika ada mohon untuk jelaskan hal ini.Terima kasih 🙏” demikian bunyi postingan Saverius di grup Facebook Kabupaten Manggarai Timur, 26 Juni 2020 lalu.

Bukti postingan Save di grup FB Kabupaten Manggarai Timur 26 Juni 2020 lalu

Saat dirinya sedang merespon netizen yang kala itu jumlahnya hampir 120 lebih komentar, tiba-tiba ada pesan masuk di Messenger FB. Pesan itu ternyata dari Wakil Ketua DPRD Matim, Bernadus Nuel.

“Dia mengirim nomor teleponnya dan minta untuk saya misa call dia dan meminta nomor telepon saya. Sebelumnya dia tidak kasih tahu bahwa dia mau diskusi soal postingan saya yang di group Kabupaten Manggarai Timur” aku Save.

BACA JUGA: Polemik Tambang di Matim: BKH Minta Kaji Banyak Aspek

Awalnya chatingan di Messenger itu berlangsung adem. Save menanyakan alasan Nadus meminta nomor HPnya.

“Oke siap ..Nanti tujuan kita tukar nomor ini utk apa kreang tua? Mohon diperjelaskan masud dan tujuannya biar saya kasih,” jawab Save.

Nadus pun menyampaikan alasan bahwa dirinya ingin menjelaskan tuduhan Save dalam postingannya tersebut.

Kraeng miskol sy. Sy TLP balikkkkk. Krm no dite nanti sy yg tlp ite. Neka berani one medsos adik. Miskol sudah. Saya mau jelaskan yg ite tuduh pemerintah di medsos” tulis Nadus

Save pun merespon begini: “Hehhe apa tujuan dan manfaatnya ..Apa yang akan dibahas dan apa isu yang akan diprioritaskan dalam diskusi ini entar. Apakah demi matim atau demi kelancaran pelaksanaan rencana dite dan bupati dalam  menghadirkan pabrik semen dan tambang dilingko -Luwuk. Kok nekat sekali bilang saya jangan hanya berani di medsos”

Nadus kemudian menjawab kalau dirinya hendak menjawab postingan Save terkait dugaan korupsi BLT mahasiswa itu.

“Sy mau jawab tuduhan Dite terkait BLT mahasiswa.bukan kehadiran pabrik semen dan tambang batu gamping di lolok dan Luwuk..kraneng kan tuduh pemerintah korupsi BLT mahasiswa. Sy hanya mau jelaskan itu..Jari tangan Sy berish,,ga kotor..Sy mau bicara langsung lwt tlp” jelas Nadus.

Save berdalih bahwa postingan itu bukan tuduhan melainkan dugaan korupsi. Ia mengaku punya alasan menduga seperti itu lantaran bantuan BLT tak kunjung tiba.

“Heheh itu tidak ada tuduhan ..Sy bilang berpotensi di korupsi  dan rawan ada syarat politik kepentingan”

Nadus tak mau kalah, ia bahkan memperingatkan Save terkait UU ITE.

“Itukan sudah menuduh..semua juga orng baca. Tulisan Dite..ingat undang2  ite,” pinta Nadus.

Merasa janggal dengan peringatan Nadus, Save pun merespon lagi.

“Kenapa dengan uu ITE, ite ancaman saya. Seorang wakil Rakyat matim  spt ini?” tulisnya.

Nadus tampaknya kesal dengan jawaban itu. Amarahnya meledak membalas dengan kata-kata kasar dan bernada intimidatif.

Selang beberapa waktu kemudiam, Save pun miss call ke nomornya Nadus. Naas menimpa Save, bukannya diladeni dengan diskusi malah harus menerima caci maki dari Nadus.

Pertama, Nadus memaki-maki Save dan kedua orang tuanya. Kata-kata makian tersebut hampir terdengar di sepanjang rekaman pembicaraan.

Kedua, wakil ketua DPRD Matim ini mengaku tidak takut karena dirinya biasa bunuh orang di Jakarta.

Ketiga, ia menyinggung nama mantan panglima TNI, Wiranto.

“22 tahun saya di Jakarta hidup di jalan. Saya ngawal mantan panglima, pak Wiranto,” sebutnya dalam nada tinggi dengan nafas yang tak teratur.

Keempat, ia mengancam Save. “Kau hati-hati, saya cari kau di Jakarta. Malam ini juga saya kirim kau punya nomor ke Mabes,”

Kelima, Nadus menyebut naluri premannya tumbuh kembali ketika berhadapan dengan Save.

Menanggapi Nadus, Save terdengar tetap tenang, ia berusaha mengajak Nadus untuk berdiskusi dengan akal sehat, tidak menggunakan perasaaan apalagi menggunakan kata-kata kasar. Namun jawaban Save tak dihiraukan Nadus. Bertubi-tubi makian dan ancaman malah mengalir tanpa beban dari mulut politisi partai Hanura tersebut.

Sementara Nadus yang dihubungi VoxNtt.com, Selasa 30 Juni 2020 mengaku benar dirinya memaki-maki Save.

“Permisi saya maki betul. Yang membuat saya marah waktu telpon itu ternyata orang banyak itu yang buat saya marah. Jadi saya akui saya maki,” tutur Nadus.

Ia juga mempersilahkan Save menempuh jalur hukum.

“Kalau mereka tempu jalur hukum silahkan. Dan saya akan lapor balik bukti saya ada. Tapi sya maki dia betul. Tetapi ada akibat tentu ada sebabnya,” jelas Nadus.

Menurut dia, kasus itu bermula dari postingan Save di Facebook.

“Jadi di medsos dia menuduh pemerintah Bupati korupsi dana BLT mahasiswa. Saya bilang ade jangan di medsos kalau ada pegawai di lehong tolong jelaskan ini. Saya tidak mau tangan saya ikut kotor. Sekitar siang saya blokir kontaknya tetapi nomor kontak saya terlanjur kasi ke dia,” jelas Nadus.

Ia melanjutkan, pukul 19.00 Wita, Save miss call ke nomornya.

“Akhirnya saya miscol balik. Itu mau jelaskan terkait BLT DD. Saya bilang ke dia, adik itu BLT DD tidak serta merta mau dibagi begitu saja. Ada pesyaratan yang harus dilengkapi. Contoh, mahsiswa itu adalah mahasiswa aktif di kampus, mempunyai nomor rekening pribadi,” ungkap anggota DPRD matim dapil Pocornaka-Pocoranaka Timur ini.

Menurut Nadus, ia kesal karena persoalan BLT belum selesai dibahas, Save menyinggung persoalan tambang di Lolok dan Luwuk.

“Dia memaksa saya tolak tambang. Saya bilang ke dia fungsi pengawasan kami ini pengawasan dan kontrol apalagi Amdalnya belum ada. Kalau sudah ada amdal tetapi justru merugikan masyarakat di situ fungsi kami. Jangan sampai masyarakat dirugikan,” tegas Nadus.

Untuk diketahui, rekaman percakapan ini sudah beredar di berbagai grup WA. Rekaman ini juga sudah viral Youtube dan menuai beragam tanggapan dari netizen.

Posisi Nadus dalam Polemik Tambang

Di tengah pro-kontra kehadiran tambang di Matim, Bernadus Nuel menyatakan dukungan terhadap investasi itu.

“Terkait semen di bawah saya sangat mendukung. Alasannya kehadiran pabrik semen di Manggarai Timur khususnya di Lamba Leda itu akan menambah ekonomi masyarakat lebih khusus di Lengko Lolok dan Luwuk,” ujarnya saat ditemui VoxNtt.com, di kantor DPR Matim, Kamis (14/5/2020).

Ia mengatakan kehadirian pabrik tentunya akan menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) baru, yang luar biasa bagi Manggarai Timur, bahkan bisa mengalahkan dua kabupaten lainnya seperti Manggarai Barat dan Manggarai.

“Kalau itu terbukti nanti betul 48 miliar 1 tahun, maka 5 tahun di masa kepemimpinan kami menjadi anggota DPRD dan pimpinan DPRD bukan tidak mungkin secara keseluruhan Manggarai Timur bisa berubah,” katanya.

Ia juga menyentil sejumlah pihak yang tidak mendukung pembangunan pabrik semen.

“Yang tolak bukan orang Manggarai Timur, bukan orang Lamba Leda, orang luar, orang luar dan mau cari keuntungan pribadi,” ujarnya.

Anggota DPRD Matim dapil II tersebut mengaku dirinya hanya berniat untuk mensejahterakan rakyat Manggarai Timur.

Save yang kemudian dihubungi kembali VoxNtt.com menegaskan, sikap Nadus yang mendukung tambang di tengah polemik tersebut, pantas untuk ditanyakan.

Ia menegaskan, wajar kalau dirinya bertanya ke Nadus sebagai wakil rakyat Matim.

“Kalau bukan ke wakil rakyat ya ke siapa lagi? Apanya yang salah kalau saya bertanya soal polemik tambang?” tegasnya. (VoN).