Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Fakta-Fakta di Balik Viralnya Aksi ‘Kawin Tangkap’ di Sumba
HEADLINE

Fakta-Fakta di Balik Viralnya Aksi ‘Kawin Tangkap’ di Sumba

By Redaksi9 Juli 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi perempuan mengenakan kain Sumba © Sumber: Itjeher
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT-Aksi kawin tangkap yang direkam dan menjadi viral di media sosial ramai diperbincangkan khalayak massa baik di NTT maupun di kancah nasional.

Peristiwa itu menimpa R, perempuan asal Desa Dameka, Kecamatan Katikutana Selatan, Anakalang, Sumba Tengah, pada pekan lalu, Selasa (16/6/2020).

Dalam video berdurasi 30 detik tersebut, R diringkus oleh beberapa pria dan dibawa paksa ke rumah N (28), laki-laki yang akan menikahinya.

Tampak 5 lelaki tanpa menggunakan baju memboyong R masuk ke rumah N.

Realitas kawin tangkap juga terjadi di terminal Kota Weetabula, Kabupaten Sumba Barat Daya.

Dalam video yang beredar, seorang perempuan dijemput paksa, lalu diboyong beberapa lelaki yang mengenakan pakaian adat. Perempuan tersebut berusaha melepaskan diri, namun usahanya gagal dan hanya mampu menangis.

Pada 6 Desember 2019 lalu, praktik kawin tangkap menimpa seorang perempuan berinisial M. Kala itu, M sedang duduk di depan kos. Tiba-tiba gerombolan warga memboyongnya secara paksa ke suatu tempat untuk dipertemukan kepada W, lelaki yang akan dinikahinya.

Berdasarkan penulusuran VoxNtt.com melalui pantauan media, berikut beberapa fakta dan opini terkait aksi Kawin Tangkap yang marak terjadi di Sumba.

http://fuq.zqc.mybluehost.me/2020/07/09/viral-kawin-tangkap-ini-beragam-jenis-perkawinan-dalam-masyarakat-adat-sumba/65337/

Pertama, Dijemput atau Diringkus Paksa

Korban kawin tangkap dijemput paksa oleh beberapa lelaki. Mereka memboyong si perempuan untuk dibawa ke rumah lelaki atau rumah adat.

Perempuan yang menjadi korban tak hanya dijemput paksa dari rumah tetapi juga di area publik seperti pasar dan terminal.

Meski berusaha melawan, para perempuan ini nyatanya tidak berdaya karena dikeroyoki pelaku lapangan.

Tak hanya itu, para korban juga kerap disembunyikan di rumah pelaku yang ingin mengawininya dan dijaga agar tidak melarikan diri.

Kedua, Ritual Memasuki Rumah

Setelah diringkus dan dibawa ke rumah lelaki atau rumah adat, seorang perempuan yang menjadi korban kawin tangkap mengikuti ritual memasuki rumah. Ritual ini bertujuan untuk menenangkan hati si perempuan.

Fakta ini terkuak dalam kasus yang menimpa Citra (nama samaran) pada tahun 2017 lalu.

“Saya naik ke pintu rumah adat mereka, biasa ada ritual siram air. Kalau istilah orang Sumba, ketika disiram air, kita tidak bisa kembali, tidak bisa turun lagi dari rumah tersebut. Tapi karena saya masih dalam keadaan sadar saat itu, air tidak kena di dahi tapi kena di kepala,” ungkapnya seperti dilansir dari BBC.com.

Air yang dimaksud Citra bukan sembarang minuman. Air tersebut mengandung unsur magic yang dapat menenangkan hati perempuan.

Jika sebelumnya korban menolak untuk kawin, setelah minum dan disirami air tersebut akan berubah pikiran dan menerima lelaki yang akan dinikahinya itu.

Ketiga, Memicu Pro-Kontra

Pengamat dan peneliti budaya menyebut fenomena kawin tangkap bukan budaya Sumba. Hal itu diungkapkan Frans Wora Hebi. Menurut dia, yang menjadi budaya itu adalah ritual kawin dengan mengikuti prosedur budaya yang berlaku.

Proses peminangan seorang perempuan kata dia, disampaikan dalam tutur kata yang halus atau metafora.

Sebagai contoh, si lelaki biasanya menanyakan kepada orang tua perempuan seperti ini, “Apakah di sini ada pisang yang sudah ranum? Tebu yang sudah berbunga?”

Jika permintaan itu dikabulkan oleh orang tua dan anak perempuan yang hendak dipinang, proses selanjutnya adalah peminangan resmi.

Sebaliknya menurut Frans, Menurut Frans, ‘kawin tangkap’ adalah praktik yang berkembang dengan berlindung di balik klaim budaya dan untuk menghindari tindakan hukum.

Meski demikian, sebagian masyarakat memandang ‘kawin tangkap’ sebagai budaya tradisional.

Tradisi itu memang terjadi pada zaman dahulu. Biasanya pelaku kawin tangkap adalah orang yang berada dan terpandang di masyarakat.

Keempat, Perempuan Mengalami Trauma

Korban kawin paksa mengalami trauma akibat dipermalukan di depan publik. Tak hanya itu, korban juga mendapat stigma buruk di masyarakat. Mereka dianggap tidak menghormati adat jika melawan dan melepaskan diri dari penangkapan. (VoN).

Kawin Tangkap Sumba Barat Daya Sumba Tengah
Previous ArticleSembilan ASN Ikut Seleksi Terbuka Sekda Kota Kupang
Next Article Diduga Terlibat Kasus Korupsi, Polisi Serahkan Anggota DPRD Ngada ke Kejaksaan

Related Posts

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.