Alumnus Fisipol UGM, Anthony Tonggo (Foto: Copy Right)
alterntif text

Ende, Vox NTT-Pengamat sosial Anthony Tonggo memberi pendapat terhadap perilaku siswa yang gelar judi domino di salah satu warnet di Kota Ende, NTT.

Menurutnya, aktivitas siswa di luar kontrol orang dewasa tersebut ialah bentuk ketiadaan daya untuk belajar. Artinya, para siswa merasa kehilangan daya tarik untuk belajar.

“Masyarakat kehilangan daya tarik dengan belajar itu bukan fenomena baru. Itu sudah lama, misalnya lihat tandanya anak-anak malas ke sekolah, bolos, tidur di kelas, kalau libur mereka senang, kalau masuk sekolah lagi susah dan lain-lain,” ucap Anthony saat dihubungi melalui aplikasi pesan singkat, Minggu (02/08/2020) siang.

Baca: Miris, Siswa di Ende Judi Domino Saat Jam Sekolah

Ia menyatakan, para siswa berkeliaran, bermain judi, main game selama musim pandemi corona sedianya hanya kebetulan saja. Artinya, selama ini siswa tidak melakukan hal serupa karena ada tekanan dari pihak sekolah.

Sebaliknya, disaat daya tekan dari sekolah itu hilang, kata dia, justru anak-anak menampakkan watak aslinya. Selama ini mereka belajar karena ada watak pura-pura, karena takut guru dan biar kelihatan sebagai anak baik.

“Itu artinya sistem pendidikan kita masih gagal membangun kesadaran belajar masyarakat. Masih mengandalkan hukuman, bukan kesadaran. Begitu hukuman hilang, hilanglah juga belajarnya,” terang Alumnus Fisipol UGM itu.

Atas permasalahan tersebut, kata Anthony, ialah kesempatan emas buat bangsa ini bahwa motivasi belajar harus dibangun secara serius. Belajar itu kegiatan nomor dua; yang nomor pertama itu membangun kesadaran dahulu.

“Lihat saja orang dewasa pun tidak belajar setelah tidak sekolah, padahal sudah lulus itu bukan berarti sudah pintar. Kita baru kewalahan merasakan itu setelah ada Covid-19 ini. Ternyata kalau sekolah ditutup, anak-anak tidak belajar. Sama juga dengan orangtua mereka, pejabat dan lain-lain, kan setelah tidak sekolah pun juga tidak belajar,” tulis Anthony.

Ia kembali menegaskan, perilaku anak bermain, berjudi dan aktivitas lain diluar proses belajar mengajar akibat ketiadaan motivasi dan kesadaran dari diri anak sendiri.

Menurutnya, tanggung jawab yang paling utama atas persoalan itu ialah orangtua, guru dan masyarakat.

“Saya punya dua anak bertahun-tahun otodidak. Mereka tidak sekolah, tapi belajar sendiri di luar tanpa guru. Tindakan dasar saya bukannya suruh anak-anakku belajar, tapi saya bangunkan motivasi mereka dulu,” katanya.

Selain itu, dalam membangun motivasi belajar juga perlu dikuasai psikolog manusia, termasuk psikologi anak dan pendidikan.

Para psikolog juga mesti diberi peran untuk memberi motivasi kepada anak-anak sejak dini.

Penulis: Ian Bala
Editor: Ardy Abba