Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Antologi Puisi Alexander Wande Wegha*
Sastra

Antologi Puisi Alexander Wande Wegha*

By Redaksi22 Agustus 20202 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Ist)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

LENYAPLAH

Sudah sekian lama aku meramu

Bersama angan yang masih membumbung

Di atas lipatan-lipatan kata yang bergulir tampa arah

Berseliweran di ujung bibir

 

Sudah sekian lama aku mendesah

Tentang pilu tertular bias katamu

Menusuk hingga menembus pori-pori tubuh

Membuatku  mati suri berkali-kali

 

Sudah sekian lama kurapalkan harap

Agar kelak  engkau tak menitihkan pinta

Bahwa namaku masih terlukis indah pada hatimu

Hingga waktu lelah mengitarinya

 

Sudah sekian lama waktu tak memutar

Serangkaian benih yang mekar di pelupuk mata

Berangkali sudah usai

Sejak debu melumat abis bibir manismu

       Scalabrinian Nita, 14 Agustus 2020

AKU HIDUP UNTUK-MU

Sejak kemarin  kurekahkan jejaku di depan pintu semadi

Waktu mngajaku untuk melepaskan

Jejak-jejak yang berseliweran di luar Rahim suci

Dengan tapak-tapak ujud yang tak pernah dibayar tuntas

 

Tak ingin menodai waktu

Kutenggelamkan diriku pada telaga suci

Agar tenang bersama dia dan mereka

Yang berteriak dengan suara serak basa penuh asa

 

Aku bukan daun-daun ranggas

Yang berguguran tampa arah

Hingga menutup rahasia-rahasia suci

Tentang Kamu yang memanggilku tanpa syarat

    Scalabrinian Nita, 15 Agustus 2020

LAHIR LAGI ATAS DUKA

Ketika aku dimuntahkan tengah hari

Aku menemukanmu merangkak dengan suara sorak sorai tampa ampun

Nadi seakan tak mau berhenti memompa tabungnya

Mengalirkan semangat dan gelora yang membuncang

Ketika engkau dibesarkan dalam Rahim kebinekaan

Kutemukan pelangi melumuri tubuhmu

Dari terbit hingga terbenamnya mentari

Terlukis dengan terima dan kasih yang tak terukur

 

Namun,

Hari ini aku pergi melawat duka

Tentang engkau yang dimuntahkan

Dengan air mata yang telah menjadi mata air

Tentang aku dia dan mereka

Tertelan pil-pil tua penyingkat waktu

 

Dan ini pun bukan mimpi di tengah hari

Yang datang lalu pergi dalam sekejap

Kali telah tumbuh lalu mekar menjadi salib darah

Hingga tak kunjung ujung

Scalabrinian Nita, 17 Agustus 2020

*Penulis adalah mahasiswa STFK Ledalero, biasa disapa Alex dan sekarang berdiam di rumah pembinaan biara Scalabrinian Nita Maumere

 

Alexander Wande Wegha Puisi Akhir Pekan
Previous ArticleDengan Spirit ‘Lonto Leok’, Desa Ndiwar-Manggarai Raih Juara 1 Lomba Desa STBM
Next Article Lima Cara Mencintai Luka

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.