Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Pro dan Kontra Warnai Pembangunan Patung Jokowi di TTS
HEADLINE

Pro dan Kontra Warnai Pembangunan Patung Jokowi di TTS

By Redaksi9 November 20202 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Desain patung Presiden RI, Jokowi di Gunung Sunu, Kecamatan Amanatun Selatan, TTS. (Foto: Istimewsa)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

SoE, Vox NTT-Kendati proses pembangunan patung Presiden RI Joko Widodo sudah mulai dilaksanakan di Kabupaten Timor Tengah Selatan  (TTS), namun masih terjadi pro dan kontra di tengah masyarakat. 

Padahal rencananya patung setinggi tiga meter itu, sudah akan berdiri kokoh di puncak Bukit Sunu, Desa Sunu, Kecamatan Amanatun Selatan, Kabupaten TTS.

Lexi Tamonob, salah seorang tokoh pemuda asal TTS kepada VoxNtt.com, Senin (09/11/2020), dengan tegas menolak  pendirian patung Jokowi karena dia menilai pembuatan patung tersebut terkesan mengabaikan simbol budaya Noe’ Bone.

“Pembangunan ini juga tidak mendasar pada kajian sosio antropologi orang Amanatun karena berbicara soal Amanatun maka harus ketahui bahwa ada empat Noe atau fetor’ yakni Noe’ Bone, Noe’ Bana, Noe’ Manumutin dan Noe’ Bokong. Kefetoran-kefetoran ini  memiliki ciri khas motifnya masing-masing dan motif yang dipakai pak Presiden adalah mutlak motif orang Amanatun wilayah Noe’ Bone,” kata Lexi sebagaimana dilansir media online Buser Indonesia,  Minggu (01/11/2020) lalu. 

Lexi Tamonob menambahkan sangat tidak elok motif Noe’ Bone dicaplok dan dijadikan sebagai simbol kekayaan orang Noe’ Bana.

“Kalau pembangunan patungnya tetap di wilayah Noe’Bana maka Ini merupakan pelecehan terhadap hak budaya orang Noe’ Bone,” tegas Lexi.

Yohanis Missa, warga lainnya juga menyampaikan jika inisiatif pembangunan patung ini tidak didasari pada komunikasi budaya antarempat Noe’ di Amanatun, maka pihaknya patut menduga bahwa pembangunan patung ini murni didasari oleh kepentingan pribadi yang dapat memicu ketersinggungan antarmasyarakat di empat Noe.

Oleh karena itu, dijelaskan Missa, untuk menenangkan masyarakat yang terlanjur kecewa atas pembangunan patung ini, sebaiknya lokasi pembangunannya dipindahkan ke Kota So’E.

Sementara itu, di Group WhatsApp VoxNtt.com Kabupaten TTS, beberapa tokoh pemuda memberikan dukungan positif terhadap proses pembangunan patung Jokowi di TTS tersebut. 

Charles Lakapu, justru mengatakan dengan dibangunnya patung Presiden Jokowi tersebut maka saat ini sudah dimulai proses peningkatan ruas jalan dari Oinlasi, Sunu hingga Boking. 

“Dampak dari pembangunan patung Presiden RI mulai teras dampaknya. Peningkatan ruas jalan Provinsi NTT mulai digenjot, ” kata Admin Grup Pemuda TTS ini. 

Maxi Angket, salah seorang tokoh pemuda pun angkat bicara. “Kolonel Simon Petrus Kamlasi adalah anak asli TTS yang hebat. Beliau membangun patung tersebut dengan uang pribadi. Bapa Jokowi pasti bangga, ” tulis Maxi Angket di dalam Grop VoxNtt.com Kabupaten TTS. 

Jumat, 30 Oktober 2020, sudah dilakukan peletakan batu pertama pembangunan patung Presiden RI  Jokowi.  Pembangunan patung Presiden Jokowi di puncak gunung Sunu telah dilaksanakan. 

Penulis: Long
Editor: Ardy Abba

Jokowi TTS
Previous ArticleTerobosan di Bidang Kesehatan, Paket Edi-Weng Akan Benahi Pelayanan dan Fasilitas, Begini Konsepnya
Next Article Bangun Kemandirian Peternak, Desa Netpala Gelar Pelatihan Pengolahan Pakan

Related Posts

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Pemprov NTT Harus Lobi Pemerintah Pusat soal Nasib 9.000 PPPK

5 Maret 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.