Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Air Mata Api dari Kawah Ile Ape
HEADLINE

Air Mata Api dari Kawah Ile Ape

By Redaksi2 Desember 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Lontaran Lava Pijar di Puncak Ile Lewotolok (Foto: MI/Alexander P Taum)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Irvan Kurniawan

Editorial, VoxNtt.com-Dua bocah perempuan itu berlari sambil berpegangan tangan. Sesekali mereka menoleh ke belakang melihat ‘batuk’ Ile Ape yang mengeluarkan lava dan lahar.

Awan panas mendadak mengepul di atas langit-langit Lembata. Kedua bocah itu terus berlari  dengan raut ketakutan yang terpancar dari wajah mereka. Keduanya mungkin sedang terpisah dari para orang tua di tengah hiruk pikuk insan Bumi menyelematkan diri.

Amukan Ile Ape tak terbendung. Tak ada yang mampu menahan. Isak tangis pecah. Kerapuhan manusia tergambar nyata di sana. Tak ada kata yang paling mujarab sebagai pelipur lara selain menyebut nama Tuhan. Ya, Tuhan menjadi satu-satunya harapan di tengah keterpurukan manusia.

Itulah sebabnya mengapa beberapa ibu berlari sambil menggendong patung Yesus dan Ina Maria. Bagi mereka, kemegahan duniawi tak lagi berarti selain mengandalkan Sang Ada, empunya hidup. Itulah sepintas gambaran dari huru-hara anak manusia di kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur, Minggu 29 November 2020.

Dalam sekejap, bencana itu menjadi kabar duka di seluruh negeri. Duka Lembata menjadi duka Indonesia bahkan dunia. Sebagaimana Covid-19, bencana vulkanik di Lembata menyulut solidaritas kemanusiaan. Letusan gunung berhasil menggetarkan rasa kemanusiaan melampaui sekat sosial dan budaya. Riuh Pilkada serentak tahun 2020 menepi sejenak. Perhatian tertuju ke sana.

Ile Ape Pesan Sekaligus Media

Letusan Ile Ape sepintas menjadi media pemersatu sekaligus membawa pesan reflektif. Sebagai media, Ile Ape berhasil menyatukan berbagai pikiran dan perasaan yang mungkin selama ini telah terpapar virus individualisme, egoisme dan hedonisme. Insan manusia di bawah kolong langit Bumi dipersatukan dalam frekuensi perasaaan yang sama yakni kemanusiaan.

Sebagai pesan, Ile Ape membawa makna bahwa manusia hanyalah secuil debu di alas kaki Penciptaan. Alih-alih menguasai jagat raya, bencana yang ada di depan mata tak mampu kita atasi. Pesan yang sama kurang lebih terpancar dari Virus Corona yang hingga saat ini belum lekas pergi. Ribuan nyawa sudah melayang, sementara kita masih menanti vaksin dalam ketidakpastian.

Kerapuhan manusia pada akhirnya tertutup oleh kesombongan dan nafsu serakah. Manusia hidup seakan-akan tidak akan mati dan mati seakan-akan tidak akan hidup kembali. Manusia mengejar uang hingga membantai sesama dan alam, seakan-akan tanpa pohon, tanah, air dan udara ia bisa hidup di ruang hampa.

Kemanusiaan yang ekslusif (antroposentris) juga sedang digugat. Manusia menganggap dirinya sebagai spesies paling pusat dan paling penting dari pada spesies lain. Hak Asasi Manusia juga perlu mempertimbangkan etika lingkungan. Bahwa pohon, binatang dan semua makhluk hidup punya hak untuk hidup dan berkembang.

Alam memang tidak bisa berbicara. Ketika pohon ditebang dan isi tanah dikeruk, mereka tak akan bersuara. Bisa jadi alam berbicara lewat bencana. Ia menangis mengeluarkan air mata api dari kawah Ile Ape. Oleh karena itu, kita dituntut untuk memahami bahasa alam di balik setiap bencana.

Bahasa alam itu juga terungkap dalam perspektif folkloristik. Nenek moyang kita sudah mewanti-wanti melalui legenda dan mitos yang berisi pesan menjaga keberlanjutan lingkungan. Sebab alam adalah bagian lain dari tubuh manusia. Singkat kata dari Ile Ape, kita kembali diajarkan untuk solidaritas dengan sesama dan alam ciptaan.

Gunung Ile Ape Irvan Kurniawan Lembata
Previous ArticleKasus HIV AIDS di NTT Capai 7.234, Kota Kupang Terbanyak
Next Article AMPD Desak Kapolres Manggarai Tuntaskan Kasus Pengadangan Terhadap Paket Deno-Madur

Related Posts

Perjuangan Mama Sebina: Bertahan Hidup, Sekolahkan Anak di Tengah Kemiskinan Manggarai Timur

25 Februari 2026

Pemkab Lembata Terapkan Zonasi Malapari, Pengusaha Soroti Potensi PAD Jangka Pendek

27 Januari 2026

Kompak Indonesia Desak Aparat Usut Dugaan Proyek Bibit Malapari Asal Australia di Lembata

15 Januari 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.