Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Mosi Tidak Percaya
Sastra

Mosi Tidak Percaya

By Redaksi3 April 20212 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*Puisi

Oleh: Maxi L Sawung

Mosi Tidak Percaya

Dunia sedang tidak baik-baiknya ketika mereka  jatuh cinta

Seperti sepasang manusia di dalam taman

Yang terisolir dari chaos dunia luar

Mereka bahkan sangat menikmati malam pertama.

 

Suatu pagi yang perempuan bertemu seorang loper koran

Dibujuknya perempuan untuk membaca berita

“Bacalah maka kamu akan dapat membedakan baik dan keburukan”

Perempuan itu membuka halaman pertama matanya menyala

Pada sebuah judul berita ,”Tuanmu Telah Memanipulasi Kebenaran”.

 

Dibacanya berita itu, ditelannya dengan dua tiga gigitan, siapakah Tu(h)an?

Cepat lekas ia menemui lelakinya yang sedang lelap karena lelah bercinta 

Semalaman suntuk ia menghabiskan hasrat bersama buku dan tubuh

Pagi tanpa kopi membuat matanya seperti lampu kurang daya.

 

“bangun, kita harus keluar dan turun ke jalan. Jangan lelap dalam zona nyaman”

Diberikannya koran berita pagi kepada Adamnya, matanya ikut menyala

Dikenakannya pakaian perjuangan dan menjinjing spanduk penolakan

“Mosi tidak percaya” tertulis dengan tinta merah.

 

Di jalanan mereka meneriakkan kebenaran 

Namun bagi para dewa(an) itu hanya hasil khayalan

Dari anak kuliahan yang lebih banyak rebahan di dalam kos-kosan

Kalau bukan karena kelaparan pasti mereka kepanasan karena kasmaran

Maka mudah saja dipatahkan argumen yang dipaparkan.

 

Bagi kaum cendekiawan itu merupakan usaha pembodohan

Perlawanan memalukan diucapkan oleh orang yang takut kehilangan

Menyerang kekurangan sebagai jalan untuk menang 

Menyebar kemaluan untuk menyuburkan kebencian

Menebar kegilaan biar menuai dukungan.

 

Namun mosi tidak percaya sudah dibentangkan

Sepanjang jalan

Ketidakadilan dipaparkan

Pembungkaman ditelantarkan 

Penolakan dilawan dengan kepalan

Pulang membawa kekalahan adalah pantangan

 

Sampai usulan diterima 

Kesepakatan diberitakan

Kemerdekaan dibiarkan 

Sampai masa itu tiba

Mosi tidak percaya tetap dijaga nyalanya.

 

-2021

 

Penulis tinggal di Maumere, menyukai buku. Menghabiskan sisa waktunya di Facebook, @Maxi L Sawung. 

 

Maxi L Sawung
Previous ArticlePresiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto Hadir sebagai Saksi Nikah Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah
Next Article Aku Teracuni: Antologi Puisi Emmanuel Ervhanno

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.