Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Seandainya: Antologi Puisi Stefan Bandar
Sastra

Seandainya: Antologi Puisi Stefan Bandar

By Redaksi17 April 20212 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Seandainya

Seandainya tidak kau tanam mawar pada ceruk matamu

Mungkin aku tak pernah berhasrat memetiknya

Hingga tanganku terluka karena durinya

 

Seandainya tidak kau pasang api pada ujung bibirmu

Mungkin aku tak pernah berhasrat memadamnya

Hingga kulitku terbakar karena panasnya

 

Seandainya tidak kau senandungkan rindu pada lagumu

Mungkin aku tak pernah merasakan cinta

Hingga jiwaku hangus karena rasa yang membara

 

Seandainya tidak kau hilangkan kata selamat tinggal dari kamus perpisahanmu

Mungkin aku tak pernah meneteskan air mata

Hingga hatiku hancur karena kenangan yang kau tinggalkan

 

Seandainya engkau menjadi aku

Mungkin kau akan merasa sepihnya hari tanpa diriku

Hingga perihnya luka yang aku sengajakan karena meninggalkanmu tanpa pamit

Tipumu

Malam ini, 

aku tak ingin lagi bersajak untukmu, pun berpuisi.

Engkau sendiri tahu, pagi tadi saat gerimis menyapa bumi, 

telah kukirim segenggam sajak untukmu 

sedang siang tadi saat gerimis telah pergi, telah kubaca 

sebait puisi untukmu.

 

Malam ini, 

aku tak ingin lagi berkisah denganmu, pun bercerita untukmu. 

Engkau sendiri tahu, senja tadi saat gerimis kembali hadir, 

kudapatkan dirimu di ujung taman dengan sepasang 

tangan melingkar pada pinggangmu.

 

Kutanya, ‘itu tangan siapa?’

Kau jawab segera,’ itu sahabatku’.

Lagi kutanya, ‘tapak siapa yang membekas pada jendela kamarmu?’

Engkau terdiam.

Mukamu memerah, amarahmu memanas, hasratmu

Membara!

 

Ah, engkau lupa menghapus jejaknya.

 

Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero

Stefan Bandar
Previous ArticlePPNI NTT Kutuk Keras Tindakan Penganiayaan Perawat di RS Siloam Sriwijaya
Next Article Di Balik Senja: Antologi Puisi Shastry Angkhur

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.