Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Pentekosta: Antologi Puisi Yohanes Boli Jawang
Sastra

Pentekosta: Antologi Puisi Yohanes Boli Jawang

By Redaksi28 Mei 20213 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Yohanes Boli Jawang OAD, Bandung

Pentekosta

****

Nyala lidah api berkobar-kobar

Datang untuk mencerahkan

Kami mengenal Tuhan dengan lebih baik

Buka angka, fakta pun masih mungkin

Tapi iman kami

Nyala lidah api

Masih saja berkobar-kobar

Berbicara tentang Tuhan

Kami mengenal-Nya lebih dalam

Dari nyala lidah api

Kami mengenal lebih banyak

Semuanya sduah dinyatakan

Kasih_Mu Tuhan begitu besar

 

#PemulungKata

Aku Titip Rinduku pada Mimpi

Aku ucapkan selamat malam untukmu

sedang apa kau?

Bila  sedang tidur biarkan saja

Tidak ada yang lebih istimewa

Pada hari-hari ini

Karena rindu akan selalu ada

Aku hanya katakana rindu

Bila tak sempat

Aku titipkan pada mimpiku

Dan bila sempat mimpikanlah

Dan jangan lupa

Bangunkan dia di subuh menjelas mentari

Mungkin aku tidak sempat bersamanya

 

#PemulungKata

#HanyaRindu

Teruntukmu Berdua

Saatnya sudah tiba

Yang kau harapkan telah nyata

Dan yang kau dambakan telah datang

Yang satu bagai pangeran

Dan 

Yang satu bagai permaisuri

Bersua dalam janji

Alam pun ikut berseri 

Flamboyan berhias di sekelilingmu

Dan satu demi satu mulai berjanji

Di depan Sang Khalik

Kamu mulai berucap

“Sehidup, Semati”

Ini katamu hari ini untuk selamanya

Lingkaran emas sudah menandai

Menguatkan ikrar penuh khusuk

Berdua hanya untukmu berdua

Selamanya

#PemulungKata

Kunanti di Ujung Senja

Di antara ini putri masih tetap tegar

Tangis yang hampir menutup pagi

Kala senja mulai redup

Mentari bersinar perak

Sunyi mendekap erat di kala senja semakin redup

Waktu sudah menjemput malam

Ada bunyi melodi indah

Wahai putri,

Ada kisah yang masih menanti subuh

Senja sudah hampir hilang

Wahai putri

Akankah senja akan kembali

Bila nantinya

Kunanti di ujung senja

 

#PemulungKata

#AntaraSenjadanRindu

Kita Ada di Medsos

Semua berawal dari yang tak terduga

Sempat membuat tawa bagi sang penghuni maya

Hari ini, esok, dan seterusnya

Masih saja dengan hal-hal yang sama

Kita berselancar dengan cerita-cerita awal

Tidak ada pertemuan yang direncana

Di dalam maya, menghadirkan semacam cumbu

Dalam gelombang-gelombang lintas

Yang mengantarai yang tak berupa, apalagi paras

Semacam penemuan cinta tak berawal

Bahkan tak berjahit 

Maaf aku tidak terhipnotis fatamorgana

Masih dengan prasangka

Sisahnya masih dalam belenggu hati yang tak pasti

Kita masih tetap dalam ketidakpastian

Tidak ada yang lebih indah, selain menanti ketulusan

Dalam kesucian cinta

Meski kita masih hanya berselancar

Bersama canda dalam maya

Setidaknya kita selalu ingat satu tujuan

Tentang cinta yang selalu berawal dari canda hingga menjadi cumbu yang tak berakhir

 

#PemulungKata

#SemacamLDR

Mencintaimu pada Senja

Ujung langit memberi isyarat

Bersama sinar jingga 

Melukis indah bayang mentari

Kembang malam mulai mengatur warna

Di ujung di batas gari-garis langit

Sinar perak perlahan berubah kelabu

Tak sempat kugoreskan tinta

Untuk kisah yang gulita

Namun hati ingin mengingatnya

Di batas senja, di bawah garis langit

Kuingin mencintaimu lebih dalam

 

#PemulungKata

Apa yang Kamu Cari?

Hampir miris untuk jalan yang masih di jauh

Ujung langit seperti menjadi batas

Hingga kadang proses menuai protes

Masih pada kisah yang sama

Aku harus bagaimana?

Ujung jalan masih tak terlihat

Selalu ada hikmat dalam menikmati

Lalu apa yang kamu cari?

Semuanya menanti di ujung jalan

#PemulungKata

Yohanes Boli Jawang
Previous ArticleMengukur Kinerja Nakhoda Kota Kasih
Next Article Anak Domba: Antologi Puisi Alex Buraen

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.