Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Literasi Media dan Terorisme di Internet
Gagasan

Literasi Media dan Terorisme di Internet

By Redaksi12 Juni 20215 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ewaldus Hariyono Meo
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Ewaldus Hariyono Meo

Komunikasi lewat teknologi internet, saat  ini, tidak lagi mengenal jarak dan waktu. Kehadiran internet telah memotong jarak dan waktu menjadi sangat sempit dan singkat. 

Penyempitan yang dimaksud adalah  waktu dan ruang. Chris Skinner seorang pengulas independen pasar keuangan dan tekfin yang banyak menulis buku-buku tentang revolusi industri 4.0 menyebutkan bahwa perbedaan antara revolusi industri 4.0 dengan revolusi industri sebelumnya adalah runtuhnya waktu dan ruang.  

Sebelumnya aspek waktu dan ruang itu sangat diperhatikan. Untuk bisa bertemu, orang biasanya menentukan waktu dan tempat. Atau untuk berdagang orang mesti membutuhkan ruang yang nyata dimana orang bisa bertemu secara fisik. 

Namun, di era  kemajuan teknologi internet, aspek ruang dan waktu itu sepertinya tidak terlalu dibutuhkan lagi. Setiap orang kini dapat melakukan berbagai aktivitas (politik, ekonomi, seksual) dalam jarak jauh. 

Kapan saja dan di mana saja, asalkan orang terhubung dengan jaringan internet, segala sesuatu pasti bisa dilakukan. 

Paul Virilio menyebut pola kehidupan sosial seperti ini sebagai pola kehidupan inersia, yang artinya manusia dalam melakukan berbagai aktivitasnya, ia hanya berdiam diri di tempat dan informasi bergerak mendatanginya.

Internet Arus Radikalisme Baru Kelompok Teroris

Dewasa ini, kehadiran teknologi internet,  sudah barang tentu memiliki wajah ganda yang turut mempengaruhi kehidupan manusia. 

Teknologi internet, di satu sisi memberikan keuntungan bagi manusia, tetapi di sisi lain ia juga menjadi suatu ancaman yang sangat berbahaya bagi keutuhan kehidupan manusia yaitu  ketika internet hadir di tangan kelompok terorisme. 

Di tangan kelompok terorisme, saat ini, internet menjadi media yang paling efektif untuk melancarkan misi mereka seperti peningkatan propaganda, pembangunan jaringan, dan sarana rekrutmen baru. 

Media yang digunakan antara lain Youtube, Facebook, Twitter, Instagram dan Telegram. Selain dipakai untuk propaganda, pembangunan jaringan, dan menjaring massa, media-media tersebut digunakan oleh kelompok teroris untuk menyebarkan paham-paham radikalnya, termasuk video yang menampilkan kekerasan.

Dalam konteks ini, kelompok terorisme mulai memanfaatkan media internet sebagai wahana dalam melakukan berbagai macam aksi, dari aksi tradisional ke aksi yang modern. 

Terorisme tradisional itu ditandai dengan adanya kelompok teroris dengan personel dan komando yang jelas. Sistem organisasinya berlangsung berdasarkan sistem piramida-hierarkis, dimana aktor teroris terlibat secara penuh, mulai dari perencanaan hingga ploting target. 

Operasi serangan dilakukan secara konservatif. Terorisme model ini masih umum ditemui pada masa sebelum gencar-gencarnya operasi terorisme pasca tragedi 11 September 2001 (peledakan gedung WTC di Amerika) yang melibatkan AL Qaeda dan Al Jama’ah al Islamiyah (JI). 

Lalu di Indonesia, terorisme model tradisional dapat dijumpai pada peristiwa bom Bali I dan II. Pada kasus tersebut serangan direncanakan dengan perorganisasian, pendanaan, dan perencanaan yang matang sehingga efek serangan begitu dahsyat. 

Sedangkan model kasus  terorisme  modern di Indonesia dapat  tampak pada kasus Bom Bali II, Abdul Azis alias Imam Samudra, salah satu pelaku terpidana kasus bom II Bali 2002. 

Ia masih mendekam di Lembaga  Pemasyarakatan (Lapas) Kerobokan, Bali. Melalui seperangkat notebook yang ia miliki, ia mengendalikan atau mengkoordinasikan semua kegiatan yang terkait dengan aksi teror.  

Langkah Efektif Mencegah Terorisme di Internet

Dalam sejarahnya dijelaskan bahwa gerakan cerdas media (media literacy), muncul pertama kalinya sejak tahun 1970-an ketika metode berpikir kritis mulai diperkenalkan di beberapa sekolah di Amerika. 

Literasi media sejatinya diartikan sebagai kemampuan berpikir kritis yang harus dimiliki dalam “membaca” konten media massa dan media sosial secara aktif, tidak menerima secara pasif.  

Selain itu, menjadi seseorang yang cerdas bermedia berarti tidak hanya mengingat fakta-fakta dan data-data yang ditampilkan dalam media, tetapi juga mesti  mempunyai seperangkat kemampuan untuk mengajukan pertanyaan secara kritis terhadap apa yang dilihat, dibaca atau didengar, bukan hanya sekedar mengkonsumsi media.

Selain itu, dewasa ini, kita sedang dibombardir oleh serangkaian pesan-pesan media online  mulai dari bangun tidur hingga pergi tidur. 

Pesan-pesan ini masuk dan menyerbu ke dalam kehidupan manusia dengan memberikan pengaruh yang sangat luas bagi pembaca, buktinya tidak sedikit generasi muda, saat ini,  teradikalisasi dalam  internet. 

Karena itulah, langkah efektifnya upaya mencegah terorisme di internet ialah membentengi diri para pengguna internet  dari paham radikal dan kekerasan dengan  skill cerdas media. 

Sebab dengan memiliki skill cerdas media,  kita mampu menyaring, memilah dan memilih secara selektif berbagai informasi dan pengetahuan yang bertebaran di dunia maya. Atau dengan kata lain, cerdas media adalah kemampuan masyarakat untuk selalu mempertanyakan secara kritis terhadap aneka jenis berita yang bertebaran di dunia maya, serta selalu waspada terhadap konten-konten radikal.

Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi seperti media internet dewasa ini tidak selalu membawa pengaruh  positif atau dipakai dengan cara yang positif,  namun kehadiran media internet  juga digunakan untuk hal-hal yang negatif, di antara adalah kehadiran terorisme di tangan kelompok. 

Terhadap fenomena ini upaya untuk mengatasinya adalah membentengi diri setiap orang dengan literasi media. 

Karena literasi adalah kemampuan masyarakat untuk cerdas, kritis dan bijaksana dalam memanfaatkan media massa, khususnya media internet yang, saat ini, telah dipakai oleh kelompok terorisme untuk melancarkan misi mereka melalui propaganda di internet. 

Maka sebuah upaya yang ditawarkan penulis dalam menanggulangi propaganda radikalisme dan terorisme melalui media internet, yakni dengan meningkatkan dan membudayakan  kemampuan literasi khususnya literasi media kita akan mampu mengatasi propaganda radikalisme dan terorisme di dunia maya. 

Atau semakin kita cerdas terhadap media semakin kita jauh dari penggiringan opini yang dilakukan oleh setiap media.

 

Penulis asal Timbang-Manggarai-Tinggal. Saat ini tinggal di Maumere

Ewaldus Hariyono Meo
Previous ArticleLando Uwa: Antologi Puisi Ino Sutam
Next Article Jumpa 2: Antologi Puisi Pieter Labina

Related Posts

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
Terkini

Mari Minum dan Membasuh Diri dari Sumber Air Hidup Kekal

7 Maret 2026

51 Relawan Dapur SPPG Wolowae Ikuti Pelatihan Penjamahan Makanan, Cegah Keracunan MBG

7 Maret 2026

Pemda Manggarai Minta Penghuni Kosongkan Stan Penjual Tuak di Pasar Reo

7 Maret 2026

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.