Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Menjaga Bumi, Mencintai Yang Ilahi
Sastra

Menjaga Bumi, Mencintai Yang Ilahi

By Redaksi11 September 20212 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*Puisi

Menjaga Bumi, Mencintai Yang Ilahi

 

Lalu kita mungkin mulai gelisah,

Apa mungkin Tuhan tidak mencintai kita?

Atau mungkin Tuhan marah pada kita?

Di sana-sini, alam mulai tak bersahabat,

Porak-poranda masih ada,

Rasanya bumi mulai gelisah,

Ternyata hanya berjarak sedikit

Pada saat ini praksis rupanya pupus

“Bagaimana memahaminya (Bumi),

Saya teringat sebuah tulisan Thomas Berry “Etika Dalam hubungannya dengan bumi” Demikian tulisnya

Hidup ini begitu dekat,

Kita mencitai-Nya dalam aksi

Ia mengadakan untuk kita

Mari menjaga,

 

#Pemulung Kata

 

Perempuan Belia

 

Pada musim-musim yang tak tentu

Kulihat di depan jalan perempuan belia berdiri

Sedang handphone ditangannya

Kemana saja ia akan terus berjalan

Mencari dan terus mencari

Cinta selalu ada padanya

Waktu yang masih terlalu dini

Perempuan belia

Untuk mengatakan khilaf

Itu tidak terlalu baik

Karena yang ada hanyalah hadia terindah

Perempuan belia

Anak-anak yang terlahir dari rahimmu

……

 

#PemulungKata

Di Batas Bersama Senja

 

Kita tahu untuk kebahagiaan yang pernah ada

Dan tak lama kita akan kehilangan semuanya itu

Mentari mulai bersinar perak

Separuh hati yang terhenti hilang

Tak tahu entah kemana

Tegak berdiri di depan cahaya perak kemerahan

Rambut dibelai angin sepoi pengiring petang

“Saatnya untuk memastikan harap”

Waktu sering menyembuhkan luka

Karena cinta kadang tak berarti hanya semu dalam aksara

Izinkanlah aku untuk menghadirkan kisah 

Sekali saja di batas senja kita

 

#Pemulung kata

 

Wanita Hebat

&&&

 

Prahara hidup yang kadang tak terbendung

Dan logika yang kadang tak menjangkau

Tegar, teguh, dan tersenyum

Di batas pagi embun bergelantungan di antara dedaunan

Mentari tersenyum 

Menyurutkan sisah embun

Sendiri selalu saja menatap langit

Berjuang itulah satu-satunya kepunyaanmu

Hanya karena masa depan yang lebih baik

 

#PemulungKata

 

Yohanes Boli Jawang adalah Mahasiswa S1 Filsafat Univesitas Parahyangan Bandung

Yohanes Boli Jawang
Previous ArticleSecangkir Kopi dan Angka Keramat
Next Article Elegi Selepas Mimpi

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.