Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Percakapan Sunyi: Antologi Puisi Rejeng Vox
Sastra

Percakapan Sunyi: Antologi Puisi Rejeng Vox

By Redaksi16 Oktober 20212 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Percakapan Sunyi

 

Menatap langit selepas hujan 

Asap putih pun mengepul dalam percakapan sunyi

Aku bertarung dengannya dalam kebingungan

Yang mengagungkan kata dari mulut menjadi kunci

 

Ini bukan sebuah kepergian

Saat senja tumpah ruah pada gerimis

Bukankah setia yang telah kau sudutkan

Keasyikanmu sering bercerita dengan separuh nafas

 

Tak apalah biar langit itu retak

Dengan gemuruh rinduku dalam hati

Yang merintih penuh tergoyah

Di sudut-sudut keasingan sunyi

 

Bahkan aku enggan beranjak selangkah

Dengan degup rasa penuh sesal

Kau cinta dalam imanku

Yang mengintipku dari keasingan sunyi

 

Untaian Kata dari Relung Jiwa

 

Melaju kata menggegap di pelabuhan jiwa

Meencari makna kehidupan selanjutnya

Berbekal rasa dan asa berpaut bersama

Dalam buaian masa depan berdua

 

Menguntai arti perjalanan senja

Tatkala menemani tenggelamnya sang surya

Dalam pesona tiada penawar jua

Membumbung indah keemasan di ufuk sana

 

Masih menggenggam harapan saat duduk diam

Menengadah ke langit saksi bisu terpejam

Dalam segala gejolak mengaduh menghujam

Akan sebuah kisah yang terus terpendam

 

Tentangmu

 

Semalam aku kembali menjadi tulisan

Tanpa wajah dan suara

Tubuhku menjadi huruf

Kakiku menjadi kata-kata

 

Aku menjadi sebuah makna

Tanpa gambaran yang tajam

Tentang siapa aku

Biarlah tetap bagiku

Biar sinar mataku tetap asing

 

Dan suaraku hanya sayup

Menjadi serupa awan 

Supaya yang berjalan menuju kepalamu bukan bayangan 

Tetapi sebuah jiwa yang menemukan maknanya

 

Luka yang Tak Iba

 

Gemuruh amarah membuncah di dada

Goresan dusta mengepakan sayapnya

Puisi lara mengiringi resah yang melanda

Ketika sapa tak lagi jadi penggores cerita

 

Engkau..

Kenapa harus pergi dan meninggalkan luka

Kenapa harus dengan sakit di dada

Kenapa tidak dengan kata yang berharga

Hingga tidak menghadirkan luka di dalamnya

 

Engkau..

Menyakitiku hingga dasar terdalam

Kau tenggelamkan aku dalam kesakitan

Kau campakkan aku tanpa perasaan

 

Hingga rasaku pun tidak lagi bisa melawan

Rasaku pasrah tidak butuh ditahan

Semua akhirnya hilang tertelan kepalsuan

 

Rejeng Vox
Previous ArticleMusda Demokrat NTT: Leo Lelo Unggul dari Jeriko, 4 Suara Tidak Sah
Next Article Belasan Tahun Andalkan Lampu Pelita, Keluarga di Ruteng Dapat Bantuan dari Kapolres dan Bhayangkari Manggarai

Related Posts

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026

Pilu yang Tidak Pernah Sembuh

3 Februari 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.