Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Perjalanan Masih Panjang
Sastra

Perjalanan Masih Panjang

By Redaksi13 Maret 20222 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Ochik Jelita

Perjalanan Masih Panjang

Wahai sahabatku,
Jangan tunda lagi waktu yang ada..
Yang ada saja masih banyak tersisa.
Pergi dan jejakkan perlahan ke depan.

Jangan pernah menoleh ke belakang.
Sebab, tak satu pun dalil itu berguna

Pergilah kawan,
Berjalanlah kalian sambil bersiul
Menyanyi, meskipun dengan kidung yang tidak panjang dan bahkan belum ada judul,
Sebab hanya tembang yang cepat singgah terbang,
Bakal hidup di hari sanubari insan

Oh, jangan…jangan tunggu aku…pergilah…
Aku akan menyusul dan masih bermain dengan sang kesempatan
Karena ialah yang mempertemukan dan memisahkan nanti.

Ku hanya mencoba menerka garis-garis jalan dan keelokan yang terbentang di depan itu
Sampai di mana dia mengukir ujung perjalanan yang masih cukup panjang ini

Sampaikan salamku
Pada calon anakku dari calon istriku
Yang sampai kini belum kutahu.

 

Kehidupan

Engkau dibisiki bahwa hidup adalah kegelapan
Dan dengan penuh ketakutan
Engkau sebarkan apa yang telah dituturkan
Padamu penuh kebimbangan
Kuwartakan padamu bahwa hidup adalah kegelapan jika tidak diselimuti oleh kehendak
Dan segala kehendak akan buta bila tidak diselimuti pengetahuan
Dan segala macam pengetahuan akan dikosong Bali tidak diiringi kerja
Dan segala kerja hanyalah kehampaan kecuali disertai cinta
Maka bila engkau bekerja dengan cinta
Engkau sesungguhnya tengah menambatkan dirimu
Dengan wujudnya kamu,
Wujud manusia lain dan wujud Tuhan

Hanya Kamu

Tidakkah engkau merasa?
Suara detak jantungku memanggil namamu
Bait puisi yang kan kutulis di beranda hatimu
Hanya kau, yang terus mengusik dalam diamku..
Menyelinap masuk ke ruang dalam hatiku
Dikalah pekatnya malamku…bayang-bayangmu terus menggangguku
Entahlah….papa salahku!!!
Kau begitu kuat menahanku di lembah terlarang itu
Benarkah bahwa engkau ragu hingga enggan memanggil namaku
Enggan memberikan tempat terindah dihatimu
Aku tahu bukan kuasaku tuk menjadikanmu takdir dalam hidupku
Bahkan meminta hatimu untuk mencintaiku
Itu hanyalah semu sementara..
Namun satu hal yang harus kau tahu
Hanya kau seorang yang ada dalam hatiku

 

Onchik Jelita
Previous ArticleCemburu pada Alam: Antologi Puisi Jemianus Beni Hoaratan
Next Article Kamu Tahu?

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.