Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Rantau: Antologi Puisi Alex Wegha
Sastra

Rantau: Antologi Puisi Alex Wegha

By Redaksi1 April 20223 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Rantau
1
Ayah, ibu, malam sudah naik pitam
Di saat mataku tak mampu memejam lembar-lembar kata yang kembang
Mendulang teguh sinom di dahi.

Urat-urat berita tumbuh subur pada kalbu
Yang menggurat-garit segala sakit
Tanah tabah dicangkul kemarau
Tubuh waktu tersapu kental.

Ayah, ibu, kecupan bulir- bulir nasi
Dua kali sehari pada kompor nadi
Nekat menawan getah
Bagi tekun mendulang mimpi
Di mata air, air mataku.

2
Papa, mama, tubuhku menggigil
Dari angan yang kumasak subur
Pada kalbu;
“Semoga kalian menjelma geriap hujan di kemarau tubuhku
dan angin yang memanjati tebing-tebing susu dan madu”.

Rowombojo, 20-2-2022

Halaman Tubuh

Daftar isi tubuhku belum ranum
Sesuai pemberitahuan koran
teman ayah dari kota;
“kejut dan parut di perutmu belum mengalahkan pukulan ayah pada biaya sekolah yang membatu dan harga pangan yang subur”
Tetapi sungguh melalui dengung petir
Ibu menjahit pikiran ayah dengan rapi
Agar tidak berlindung di kolong meja
Penyimpan kuman bertahun-tahun kemudian.

Rowombojo, 21-2-2022

Firdaus

(Mark Manson & Najwa Shihab)

Aku dan kamu tenggelam begitu dalam pada pertanyaan:
“Bagaimana bisa kita saling memuridkan diri jika cinta masing-masing masih menggurui?”
Engkau pancang patok di kaki pohon congkak
Menegakan ingatanmu yang lindap luka
Aku hidangkan permen kata dan kopi tinta
Suapi kalbu yang selalu diganjal lawamah
Habiskan, jangan sisakan.
Lalu kamu memamerkan perih
Dengan menggelinding kata-kata padaku:
“usaha bikin kita tak waras, maka bersikap bodoh amat jadi seni percaturan ikatan”
Namun, langit-langit gua membuka kalbuku;
“bukan kehendaku seutuhnya menyerahkanmu pada pelukan luka,
Tapi, gusarmu sendiri yang bersemayam di kepala.
Tentang itu, cukuplah menyusu air yang didih dari guyuran tetangga,
Tetapi bukalah tudung saji hatiku kan kau temukan air yang tasik”
Usai mengusik kita menggenggam lampin, mengeram hingga tetas.

Meja belajar, 22 -2-2022

Potret Mimpi

Aku berenang pada rimbun sabda-Mu
Dan menabung segala sesap
Pada rasi bintang dan melayang-layang
di pondok bahasa dan sidik jari-Mu sendiri.

Tuhan, jika langit adalah bibir-Mu
Aku ingin menyisipkan diriku pada tiang awan
dan jatuh bersama hujan bagi bumi yang menunggu.

Tuhan jika langit adalah napas-Mu
sesapkan aku pada angin
agar tak mampu lagi menjarah
hadir dan temu pada lengan doa.

Bersolek ilmu yang runcing
Dan hikmah yang masam,
Harum pelangi tak menumpang takdir
Pada tajuk tubuhku yang masak hujan.

Pantai Kota Raja, 20-2-2022

Hujan dari Bandara

Aku mengutus air mata mengantar pacarku ke bandara melalui pipa patah yang sulit membendung tabah dan lara dari saku baju kesetiaan.
Sebab, air mata selalu mengajariku bagaimana menghitung usia jarak antara air dari mata waktu mereka berpisah.
Usai usia jarak tumbuh pada kalbu
Aku menanam kata dengan air dari mata untuknya:
“ sayang, kutitipkan kataku pada saku bajumu, dekat dengan jantungmu agar engkau selalu ingat bahwa aku akan selalu menunggumu dengan rindu yang kemarau di jantung, lalu kelak basah kuyup dalam jiwamu yang membawa hujan”

Bandara Aroebosman Ende, 2022

 

*Alexander Wande Wegha, lahir di Rowombojo, Ende Flores pada 22 Januari 1998.Lulusan studi dari Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero -Maumere -Flores. Penulis biasa menulis cerpen dan puisi di belbagai buku ontologi puisi; beberapa surat kabar seperti Cakra Dunia, Nalar politik, Banera, Lontar pos, Pos Kupang, BMR Fox, Vox NTT, dan beberapa media lain. Penulis bergiat di kelas puisi Bekasi (PKB). Penulis bisa di hubungi melalui WhatsApp :082144019703, Facebook: Allex Romarea*

 

 

 

 

Alex Wegha
Previous ArticleRingankan Beban Masyarakat, Presiden Jokowi akan Berikan BLT Minyak Goreng
Next Article Bertahun-tahun, Mantan Kepala SDK Paka Diduga Korupsi Uang Bantuan PIP Siswa

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.