Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Dawai Rindu: Antologi Puisi Lalik Kongkar
Sastra

Dawai Rindu: Antologi Puisi Lalik Kongkar

By Redaksi14 April 20222 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Dawai Rindu

Semilir angin pagiku dawaikan rindu
Merdu bertalu di kedamalam kalbu
Indah mengalun diiring nyanyian beburung
Sahut menyahut menyuarakan kerinduan
Hangatnya sang surya yang menerpa

Menambah cinta semakin menggelora
Menambah rindu kian sesakkan dada
Di tepian serambi pagi ku duduk sendiri
Merindukanmu nun jauh di sana
Ku terdiam dan terus terdiam
Hingga ku sadari dalam diamku

Aku mencintaimu begitu sangat
Ku tak dapat melukiskan rasaku
Ku tak mampu mengeja rindu
Ia begitu meriak indah dalam kalbu
Begitu syahdu, mendayu merdu
Ah,, aku rindu!

Belenggu Jiwa

Jalinan benang cinta yang merapuh
Membuat hati menjadi keruh
Menjarah semangat hidupku
Padamkan api bahagia dalam jiwa

Hari sepi menyemai sunyi
Terbelenggu tanpa ikatan
Jauh lebih senang jika ikatan itu nampak
Dibanding terikat namun tak terlihat
Entah apa yang mengikat

Hati terpasung meredam hening
Menuai luka yang menghujam,mendalam
Namun masa depan tetap menanti
Meraih mimpi meski tertatih

Bisikan Mesra Puisi

Wahai Puisiku
Jadilah engkau mantra terbaikku
Menemani hari-hariku yang kosong
Dan sepi akan makna siang bolong
Wahai Puisiku
Jadilah engkau diksi terpilih
Di antara mantra
Terbaik di bumi
Menjelma menjadi nyanyian suara bisu

Wahai Puisiku
Jadilah engkau sahabat semua orang
Yang mampu menebar kasih sayang
Tanpa pandang bulu

Tapi, ingatlah
Hanya ada namaku di hati syahdumu
Bukan sekedar simbolis cinta buta
Namun, tanaman kasih abadi sepanjang waktu

Sebuah Puisi

Rangkaian kata itu
Menjerat dan membelenggu jemari menari di atas
Sulaman kata menuai makna

Sebuah puisi
Penuh intuisi mengiring mataku untuk melihat
Betapa mudahnya sebuah harapan terangkat dalam doa
Sebuah doa tertulis dengan pena hati

Bertinkan sebuah rasa dari jiwa puisi
Napas-napas kata mendesah mesra
Lenakan ruuh kalimat yang memeluk erat sebuah hasrat
Serupa tak lemat mengundang tatkala mata melihat

Sebuah puisi
Yang terlahir dari hati yang mengetas rindu pada sang waktu
Kala sepi tak lagi berarti
Hanya sebuah puisi
Yang mampu memeluknya tanpa menyentuhnya

 

Lalik Kongkar
Previous ArticlePaskah Kristus Menjadi Paskah Kita
Next Article Politeknik eLBajo Commodus Apresiasi Kehadiran Galeri Investasi Digital BEI di Labuan Bajo

Related Posts

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026

Pilu yang Tidak Pernah Sembuh

3 Februari 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.