Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Tembang Jiwa: Antologi Puisi Lalik Kongkar
Sastra

Tembang Jiwa: Antologi Puisi Lalik Kongkar

By Redaksi21 April 20222 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Tembang Jiwa

Rinai hujan mengundang seribu cerita
Merangkai lagu tentang cerita lalu
Menguntai tentang romansa
Melayang angan padamu kekasih jiwa

Ditiap rintik yang merinai adalah cinta
Rindu yang tak tereja kata
Hanya pada dia sang rahasia
Segala rasa menuai makna

Pada rindu yang tak tereja kata
Membuncah rasa yang paling gemuruh
Meski tak terurai makna
Pendam rasa menjadi nyanyi jiwa

Nyanyi sunyi sang pemuja
Tembang jiwa kian melayu
Memuja cinta pada yang satu
Rindu dan cemburu tak pernah keliru
Kepadamu kudendangkan irama kalbu

Irama kalbu selalu punya senandungnya sendiri
Nada yang terurai dari kejujuran jiwa
Merajut kesadaran akan titahnya
Menguntai indah disetiap doa
Untukmu kulantunkan harap belaian kasih

Serpihan Perih

Syair indah berdengung lirih
Mendengarkan bait-bait bernada perih
Mengiris sendi-sendi yang semakin pedih
Meski tak ada yang tahu hatiku terus merintih
Terus kulalui langkah demi langkah tepian hati

Menggenggam erat mawar hitam yang berduri
Menikam hingga kepusat sanubari
Sungguh rasa ini telah mati
Aku butuh sayap-sayapku

Sayap-sayap yang dulu pernah melindungimu
Kini patah tanpa kau peduli
Dan kau biarkan aku mati sendiri sebagai penguasa
Lemah dan hanya menjadi dayang-dayang semata
Biarkan aku pergi membawa serpihan hatiku

Membangun Rindu

Sesak impian yang tertanam di dada
Belum tumbuh menjadi kisah-kasih nyata
Masih dalam bayangan angan-angan rona bahagia
Kapan terealisasi?
Ingin ku bangun menara tertinggi
Khusus untuk manusia terkasih pertamaku
Karena aku enggan lagi melihat tragedi menyayat hati

Lalik Kongkar
Previous ArticleTanah Pagar Panjang dan Danau Ina Sah Milik Esau Konay, Penghuni Diminta Bangun Komunikasi
Next Article Moderasi Beragama, Toleransi Partisipatif

Related Posts

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026

Pilu yang Tidak Pernah Sembuh

3 Februari 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.